TENGGARONG – Petani di Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, tengah mengelus dada. Di tengah harapan akan hasil panen yang melimpah, mereka justru harus bertaruh nyawa dan biaya melawan serangan hama serta gulma yang kian bandel.
Kaliman, salah satu petani setempat, menceritakan betapa sulitnya menjaga tanaman padi dari serangan gulma jenis “umbung-umbung”.
Gulma ini menjadi musuh nomor satu karena memiliki akar yang lebih kuat dari padi, sehingga mampu menyedot nutrisi, air, dan cahaya matahari dengan sangat cepat, terutama di usia 40 hari pertama tanaman.
“Kita sudah coba berbagai cara, pakai galan sampai kain bas, tapi mati sebentar terus tumbuh lagi. Ada rumput umbung-umbung yang disemprot racun pun tidak mempan. Akhirnya ya dicangkul manual, dikumpulkan, baru dibakar. Tapi kalau sawahnya luas begini, habis waktu kita,” keluh Kaliman, Jumat (23/1/2026).
Tak hanya gulma, ancaman hama wereng juga menghantui. Wereng dikenal mampu berkembang biak dengan sangat cepat dalam hitungan hari, apalagi didukung cuaca panas dan lembap seperti saat ini. Kaliman menyebut wereng sekarang seolah sudah kebal dan sangat susah mati.
Kondisi ini diperparah dengan harga obat-obatan pertanian di pasaran yang kian mencekik leher. Bagi petani kecil, harga pestisida saat ini sudah dianggap tidak masuk akal.
“Obat namanya Noplek, harganya Rp250 ribu padahal ukurannya tidak sampai satu liter, cuma seperempat saja. Kalau di sawah begini, mana cukup cuma seperempat liter. Biayanya jadi besar sekali,” ungkapnya.
Berharap Bantuan Pemerintah
Di tengah keputusasaan tersebut, Kaliman juga menyayangkan banyaknya informasi menyesatkan di media sosial, khususnya TikTok. Ia mengaku sempat tergiur mencoba ramuan penyemprotan yang viral untuk membasmi umbung-umbung, namun nyatanya saat dipraktikkan di lapangan, gulma tersebut tetap segar bugar.
Kini, para petani Bukit Biru hanya bisa berharap adanya tangan dingin pemerintah. Mereka sangat mendambakan adanya intervensi harga obat-obatan agar lebih terjangkau, serta pendampingan informasi yang akurat mengenai kualitas obat pertanian.
“Semoga ada cara supaya harga obat turun dan kami diberi tahu mana obat yang benar-benar manjur. Kalau begini terus, hasil panen kami habis buat beli obat saja,” tutup Kaliman.
Laporan : Nur Fadillah Indah/Mediaetam.com








