Herdiansyah Hamzah alias Castro kecewa berat pada elite Aliansi Mahakam, yang tidak hanya inkonsisten, tapi juga menampilkan kemesraan dengan polisi ketika mandat rakyat belum selesai dikawal. Dari apa yang terjadi hari-hari ini, Castro ‘memvonis’ para elite Aliansi Mahakam sedang mengidap Stockholm Syndrome.
Jumat sore, Castro yang merupakan akademisi Fakultas Hukum Universitas Mulawarman sedang tenggelam dalam kesibukannya. Di tengah penatnya, ia menyambar ponsel yang hampir tak pernah diam. Ia menggulir kasar aplikasi WhatsApp-nya. Membuka satu per satu pesan pribadi, serta beberapa grup yang muncul tanda @.
Di antara pesan yang dibuka adalah dari awak Media Etam. Pesannya hanya 2 baris. Pertama mengirimkan tautan unggahan Instagram yang menampilkan Jenlap Aliansi Mahakam Renaldi Saputra sedang berada di acara baksos Polresta Samarinda. Serta memuji aksi bapak-bapak polisi pada kesempatan berpidatonya.
Baris kedua, baru lah sebuah pertanyaan sederhana, “Ada komentar, Bang?”
Castro menggerakkan jarinya sedikit ke atas lagi. Menekan tautan tadi, lalu menghela napas ringan ketika melihat pidato Renaldi. Ia sudah mengikuti polemik itu sejak Kamis malam. Sehingga tentu, video itu tak lagi menarik untuknya.
Namun ia tak buru-buru meninggalkan unggahan itu. Pria yang belakangan telah menjadi pakar hukum nasional –yang wara-wiri weh-weh di berbagai TV nasional itu, memencet kolom komentar. Sekadar ingin membunuh rasa penasarannya terhadap reaksi publik terhadap unggahan itu.
Satu komentar, ke komentar lain. Setiap komentar yang dibaca, direspons dengan kerutan dahi, gelengan kepala, dan buangan napas berat.
Castro tidak mendapat panggung nasional secara mudah. Dia merintis jalur perjuangannya sejak menjadi dosen muda Unmul. Tak seperti ketika menjadi mahasiswa yang aktif di jalan, saat itu Castro menjalankan perannya sebagai akademisi.
Ia rajin datang ke konsolidasi, mempelajari kebijakan publik dan hukum lebih tekun, aktif pada agenda diskusi ilmiah yang beririsan dengan pergerakan, menjadi anggota beberapa lembaga terkait, dan berkawan dengan awak media lokal. Semua dia lakukan untuk terus berjuang lewat jalur akademisi.
Kekecewaan Castro
Hampir dua dekade ia menjalani peran itu, banyak hal telah berubah. Dari rambut hitamnya yang kini mulai beruban, hingga kenikmatan rokok mild yang sudah lama ia tinggalkan. Namun ada 3 hal yang tak pernah berubah: keberanian, lantang, dan konsistensinya pada pergerakan.
Maka saat membaca komentar-komentar dari warganet itu, hati Castro perih seperti sedang diremas. Ia tidak pernah takut pada relasi kuasa beserta teror yang menyertainya. Pria berkacamata itu tak pernah takut kehilangan jabatan, uang, dan kenyamanan pribadinya. Namun satu hal yang paling ia takuti adalah melihat punggung warga sipil –yang pergi meninggalkan ‘para pejuang’ akibat kehilangan kepercayaan.
Dia bisa dengan mudah menemui atau sekadar menelepon Renaldi untuk memarahinya. Memberi kuliah singkat tentang pergerakan. Tapi kekecewaan warga sipil kepada Aliansi Mahakam, adalah hal yang sulit ia kendalikan. Apalagi, kekecewaan itu muncul secara alami. Sekali lagi, yang paling dibenci Castro adalah mengkhianati rakyat. Dan karena konsistensi terhadap prinsip itu lah, ‘semesta’ membawanya naik kelas, karena mempercayakannya untuk bersuara lebih keras.
Masih dengan kepala yang sedikit pening, ia kembali ke WhatsApp, memencet tombol mikrofon di samping kolom chat. Lalu mengirim 4 voice note yang sudah kami ubah menjadi teks di bawah –tanpa mengubah satu kalimat pun. Di akhir, ia merekomendasikan Media Etam untuk menghubungi beberapa orang yang kontaknya ia sertakan, untuk mendapat informasi lebih lanjut tentang polemik ini.
Para pembaca, silakan baca dan resapi tanggapan Herdiansyah Hamzah yang penuh makna, sebagai berikut.
Bermesraan dengan Polisi
Saya kira mulai terjawab ya, kenapa aksi kawan-kawan itu berhenti. Tiba-tiba hilang begitu saja, kan. Ternyata sedang mesra-mesraan toh dengan polisi. Sesuatu atau pemandangan yang menurut saya, sangat tidak menenakkan.
Ada semacam relasi kuasa seolah-seolah mereka sedang dimanfaatkan untuk membangun citra. Padahal teman-teman tidak merasa diperalat begitu ya, yang selama ini dikritik justru adalah aparat kepolisian karena mereka melakukan tindakan represif, mereka melakukan tindakan eksesif (melampaui batas) terhadap gerakan masyarakat sipil. Termasuk belakangan ada penangkapan Pedro dan Syahdan dan kawan-kawan, itu kan berlebihan menurut saya.
Makanya aneh kalau kemudian aparat kepolisian yang melakukan tindakan semacam itu justru diajak bermesra-mesraan. Menurut saya, ada semacam upaya untuk menyandera dan memperalat kawan-kawan. Dan itu aneh, sekelas teman-teman (Aliansi Mahakam) kok tidak menyadari itu.
Jangan Khianati Mandat Rakyat
Kenapa kemudian saya mengatakan begini kan, karena tadi terkonfirmasi sampai ditukar dengan agenda-agenda gerakan.
Kalau teman-teman masih berkomitmen, masih memiliki independensi dan kemandirian, ya tetap jalan lah. Ada banyak mandat rakyat yang dititipkan. Dan sekarang berhenti di tengah jalan. Yang nampak malah urusan baksos, urusan bermesra-mesraan dengan kepolisian. Itu disayangkan banget.
Jadi belajar lah untuk konsisten, karena kalau teman-teman tidak konsisten, yang berbahaya adalah perjuangan selama ini dikoar-koarkan itu. Menurut saya konsisten sekarang adalah barang mewah yang sulit didapatkan di kalangan gerakan, termasuk yang saat ini dipertontonkan.
Stockholm Syndrome
Fenomena anak-anak ini seperti Stockholm syndrome (respons psikologis, bukan gangguan klinis, di mana korban kekerasan atau penyanderaan mengembangkan ikatan emosional dan simpati terhadap pelaku).
Saya jadi ingat itu, yang diculik jatuh cinta sama penculiknya. Yang terjadi kira-kira semacam itu lah. Bukan kecewa lagi, tapi … (menghela napas). Saya itu sebenarnya masih optimis (dengan gerakan aliansi), tapi melihat elite-elitenya gerakan ini yang bermasalah. Teman-teman di bawah justru banyak yang mengkritik itu.
Coba aja cek komentar-komentar di media sosial. Sayang banget publik seolah-olah menarik dukungan dari aksi-aksi yang sempat dipanen di tanggal 1 September itu. Ada yang bahkan menyayangkan (menyesali) dukungan lah, kritik ini itu, coba aja baca di media sosial.
Lobi Boleh, tapi …
Jadi anak-anak itu keliru kalau hanya mengandalkan lobi, justru gerakan massa yang paling penting. Mereka gak belajar apa? Mereka jadi ahistori kan? Bahwa selama ini, yang menentukan perubahan ya gerakan massa. Lobi boleh, tapi tetap memprioritaskan gerakan massa. Aksi-aksi harus tetap dilakukan.
Kalau teman-teman bertumpu pada lobi, apalagi saat kita tidak punya posisi tawar yang cukup bagus. Ya sulit. Jadinya kemudian ya transaksi kan?
Jangan Jadi Monster!
Betul kata Friedrich Nietzsche: “Barangsiapa berjuang melawan monster, hendaklah ia berhati-hati agar tak menjadi monster. Dan bila ia terlalu lama menatap ke dalam jurang, jurang itu akan menatap balik kepadanya”.
(Berubah menjadi monster) itu yang kita khawatirkan sekarang kan? Dan mentalitas itu yang sekarang kita lihat kan?








