Mediaetam.com, Berau – Hingga saat ini, kebutuhan air bersih masih menyisahkan problem di tengah masyarakat Kecamatan Segah.
Lebih kurang terdapat 7 kampung di kecamatan itu yang masih mengeluh terkait kebutuhan mendasar tersebut, walaupun keluhan yang sama sudah disampaikan sejak Musrenbang TA 2023 yang digelar pada 2022 lalu.
Tahun ini, masalah yang sama kembali didengungkan oleh kepala kampung dari 7 kampung itu pada saat Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Tahun Anggaran (TA) 2024 tingkat kecamatan yang digelar di Pendopo Kantor Camat Segah, Kampung Tepian Buah, Rabu (22/2/2023).
7 kampung yang mengeluh soal kebutuhan air bersih itu yakni Siduung Indah, Harapan Jaya, Bukit Makmur, Pandan Sari, Punan Malinau, Long Ayan, dan Long Ayap.
Krisis akan kebutuhan air bersih ini membuat masyarakat dari Long Ayap, Punan Malinau, dan Siduung Indah bahkan mesti rela mengambil air dari sungai.
Padahal air sungai tidak selalu bersih. Sampah yang dibuang ke sungai, hujan yang membawa lumpur, dan kualitas air yang buruk, tentu dapat menjadi petaka bagi kesehatan masyarakat.
Sekretaris Kampung Punan Malinau, Abraham Uyan, yang mewakili Kepala Kampungnya Luis Laing yang tidak hadir dalam musyawarah itu karena tengah berobat, menyampaikan bahwa usulan terkait kebutuhan dasar itu belum dikabulkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau.
Padahal, usulan itu sudah disampaikan juga pada Musrenbang sebelumnya. Karena itu, mewakili masyarakatnya, dirinya meminta agar persoalan itu dapat diatasi.
“Secara khusus kami meminta pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) dan PDAM untuk menindaklanjuti. Sudah lama kami usulkan ini,” tuturnya kepada media ini.
Abraham pun sangat mengharapkan kehadiran pemerintah daerah untuk membangun Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di kampungnya.
Direktur Perumda Air Minum Batiwakkal, Saipul Rahman mengatakan bahwa keluhan masyarakat terkait hal itu akan dibahas pihaknya bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, dalam hal ini Dinas PUPR Berau.
“Jadi, posisi kami hanya sebagai operator. Pembangunan SPAM adalah tupoksi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau. Setelah itu, baru kita yang operasikan,” ucapnya.
“Tetapi, karena ini adalah kebutuhan yang mendesak, maka kami akan mendorong OPD terkait, terutama Dinas PUPR. Alhamdulillah komunikasi kami dengan PUPR bagus. Jadi, nanti coba kami bahas,” sambungnya.
Untuk realisasi pengadaan paket air bersih, baik berupa PAMSIMAS maupun SPAM yang dikelola oleh Perumda Air Minum Batiwakkal dibutuhkan anggaran mencapai puluhan miliar.
“Paket hemat saja kalau kasarnya dihitung itu 1 liter/detik minimal Rp 150 juta. Jadi, kalau di sini misalnya 20 liter / detik itu kalikan saja bisa mencapai 3 miliar. Itu hanya untuk IMPA saja belum jaringan pipanya. Itu bisa berapa kali lipat,” ungkapnya.
Sejauh ini Saipul mengaku bahwa pihak Perumda Air Minum Batiwakkal sudah membuat perencanaan usulan air bersih di setiap kampung melalui Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM) yang dibuat bersama Dinas PUPR. Usulan tersebut bahkan sudah dibuat sejak tahun lalu.
“Hanya kembali lagi kendalanya adalah pendanaan dan itu domainnya adalah Pemkab Berau dan DPRD. Masyarakat juga harus dorong selain dari kami. Kami mendukung kepala kampung yang menyuarakan hal itu karena kalau tidak disuarakan itu dianggap tidak perlu,” jelasnya.
Untuk Kecamatan Segah, ungkap Saipul, memang belum menyasar seluruhnya terkait target 25.000 Sambungan Rumah (SR) sebagaimana menjadi program Perumda Air Minum Batiwakkal.
“Memang untuk 1.000 SR saja di sana belum tercapai. Tetapi, kami sudah melakukan pemasangan pada 3 kampung, yakni Gunung Sari, Harapan Jaya, dan Tepian Buah,” pungkasnya. (*/Christian)
Editor: Elton Wada








