Dampak Penutupan Selat Hormuz, Pertamina Cari Pasokan Minyak ke Afrika dan Amerika Serikat

ILUSTRASI: Dua kapal tanker milik Pertamina kini masih tertahan di Laut Arab dampak penutupan Selat Hormuz. (Foto: Dunia Energi)

JAKARTA – PT Pertamina (Persero) mulai menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga ketahanan pasokan energi nasional menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz.

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyatakan perusahaan telah menyiapkan strategi diversifikasi sumber impor minyak guna memastikan ketersediaan stok energi di dalam negeri tetap aman meskipun terjadi gangguan distribusi di kawasan tersebut.

Bacaan Lainnya

“Pertamina tentu sudah mengantisipasi dengan mencari sumber pasokan lain agar ketahanan stok energi nasional tetap terjaga,” ujar Simon, Kamis, mengutip dari Antara.

Diversifikasi Pasokan Energi

Menurut Simon, selama ini pasokan minyak Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada kawasan Timur Tengah. Pertamina juga memiliki opsi impor dari berbagai wilayah lain di dunia.

Ia menjelaskan bahwa alternatif pasokan minyak mentah dapat diperoleh dari Afrika, Amerika Serikat, serta beberapa negara lain yang selama ini menjadi mitra perdagangan energi Indonesia.

“Diversifikasi sumber ini penting agar kita tidak bergantung pada satu wilayah saja. Selain dari Timur Tengah, ada juga pasokan dari Afrika dan Amerika Serikat,” jelasnya.

Ketegangan yang terjadi di Timur Tengah sebelumnya memicu gangguan pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak mentah dunia dari kawasan Teluk Persia menuju berbagai negara konsumen.

Pemerintah mencatat sekitar 20 hingga 25 persen impor minyak mentah Indonesia selama ini melewati jalur tersebut.

Dua Kapal Pertamina Tertahan

Rencana diversifikasi pasokan juga dipicu oleh kondisi dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) yang masih berada di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz.

Dua kapal tersebut adalah very large crude carrier (VLCC) Pertamina Pride yang dikelola oleh NYK serta kapal Gamsunoro yang dioperasikan Synergy Ship Management.

Berdasarkan laporan PIS pada awal Maret, Pertamina Pride telah menyelesaikan proses pemuatan minyak dan saat ini berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi. Sementara itu, kapal Gamsunoro masih menjalani proses loading di Khor al Zubair, Irak.

Di sisi lain, dua kapal PIS lainnya yakni PIS Paragon dan PIS Rinjani dilaporkan berada di luar kawasan perairan Timur Tengah sehingga tidak terdampak langsung oleh kondisi tersebut.

Simon menegaskan keselamatan kru kapal dan keamanan kargo menjadi prioritas utama perusahaan. Pertamina juga terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Luar Negeri, untuk memantau perkembangan situasi di kawasan tersebut.

Armada Distribusi Energi

Saat ini Pertamina International Shipping mengoperasikan sekitar 345 kapal untuk mendukung distribusi energi nasional maupun internasional.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 266 kapal digunakan untuk pengangkutan bahan bakar minyak (BBM) dan avtur, 27 kapal untuk minyak mentah, 45 kapal mengangkut LPG, serta tujuh kapal lainnya berfungsi untuk pengangkutan petrokimia dan fasilitas penyimpanan terapung.

Selain mengamankan pasokan melalui impor, Pertamina juga terus mendorong peningkatan produksi energi domestik sebagai bagian dari strategi menjaga ketahanan energi nasional.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah memaksimalkan produksi di Blok Cepu melalui penambahan fasilitas produksi agar kapasitas produksi minyak nasional dapat meningkat.

Redaksi Media Etam

Bagikan:

Pos terkait