Konservasi Penyu Hijau Derawan Kini Dititikberatkan pada Keterlibatan Warlok

Keberhasilan konservasi penyu hijau di Kepulauan Derawan bisa berdampak pada peningkatan daya tarik wisata setempat. (IST)

BERAU— Upaya pelestarian penyu hijau di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, kini diarahkan pada keterlibatan langsung masyarakat lokal. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Timur menilai partisipasi warga pesisir menjadi kunci keberhasilan konservasi jangka panjang.

Kepala DKP Kaltim Irhan Hukmaidy menyatakan konservasi tidak cukup hanya mengandalkan aturan pemerintah, melainkan membutuhkan rasa memiliki dari masyarakat yang hidup berdampingan dengan habitat penyu.

Bacaan Lainnya

“Warga lokal perlu dilibatkan dalam pelestarian penyu hijau, karena partisipasi masyarakat menjadi kunci penting keberhasilan konservasi dalam jangka panjang,” ujarnya, Sabtu di Antara.

Ia menambahkan Kabupaten Berau memiliki posisi strategis karena merupakan salah satu habitat peneluran penyu hijau terbesar di Asia Tenggara, sehingga keberhasilannya berdampak pada konservasi global.

Bimtek Pemantauan Libatkan Nelayan dan Warga Pesisir

Untuk memperkuat kapasitas masyarakat, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama DKP Kaltim dan Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak menggelar bimbingan teknis (Bimtek) Pemantauan Penyu melalui Program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (Somacore).

Coral Reef Specialist YKAN, Rizya Ardiwijaya, menjelaskan pelatihan berlangsung pada 3–7 Februari 2026 dan diikuti sekitar 60 peserta dari kelompok nelayan serta warga pesisir di Kecamatan Biduk-Biduk, Batu Putih, dan Maratua.

Materi yang diberikan mencakup pengenalan biologi dan ekologi penyu, identifikasi spesies, daur hidup, ancaman konservasi, hingga teknik pemantauan pantai peneluran serta pengelolaan data.

Selain teori, peserta juga melakukan praktik lapangan seperti mengidentifikasi jejak penyu, mencatat sarang, dan simulasi pengumpulan data menggunakan aplikasi berbasis Android.

Aktivitas Manusia Jadi Tantangan Utama

Hasil survei menunjukkan sejumlah pantai di kawasan konservasi Kepulauan Derawan menjadi lokasi pendaratan dan peneluran aktif sepanjang tahun, dengan puncak aktivitas pada Juni hingga Agustus.

Namun, tingginya aktivitas manusia di pesisir kerap mengganggu proses bertelur. Penyu dikenal sangat sensitif terhadap gangguan cahaya, suara, maupun kehadiran manusia.

“Gangguan kecil saja dapat membuat penyu gagal bertelur, maka perlindungan pantai peneluran harus melibatkan masyarakat yang tinggal dan beraktivitas langsung di wilayah tersebut,” kata Rizya.

Program Somacore sendiri mendapat dukungan Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan, Aksi Iklim, Konservasi Alam, dan Keselamatan Nuklir melalui International Climate Initiative serta dijalankan konsorsium 10 organisasi di enam negara Segitiga Terumbu Karang.

Melalui pendekatan citizen science, pemerintah berharap warga tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga penjaga utama habitat penyu hijau di Derawan.

Redaksi Media Etam

Bagikan:

Pos terkait