Kemarau dan banjir tetap jadi berkah warga Desa Muhuran

Kukar – Meski kerap gagal panen, warga Desa Muhuran, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara tak menyerah untuk terus menanam padi. Saat musim banjir tiba, mereka kerap gagal panen, namun tetap ada berkah, sebab hasil tangkapan ikan menjadi meningkat. Saat musim kemarau, mereka bisa memanen hingga seluas 158 hektare.

“Rata-rata per hektare menghasilkan 4 ton gabah kering,” kata Ketua Gapoktan Desa Muhuran, Badriansyah.

Suasana Desa Muhuran, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, sawah tergenang banjir pasang dari Sungai Belayan. (SAPRI MAULANA)

Badriansyah berbagi kisah tersebut, saat peserta jurnalis trip gelaran Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Yayasan Bioma berkunjung ke desanya, Selasa (18/01/2021).

Ketua Gapoktan Desa Muhuran Badriansyah. (SAPRI MAULANA)

Pada September 2021 lalu, petani di Desa Muhuran harus melakukan panen dini, sebab, air mulai pasang, banjir perlahan menggenangi sawah mereka.

“Berebut dengan air, jadi dipanen sebelum waktunya. Oktober 2021 kami juga menanam tenggelam sampai sekarang,” ungkapnya.

Berkah kaya akan sumber saya alam, membuat warga Desa Muhuran, mengembangkan potensi di wilayahnya.

Warga juga mendapat bantuan dari Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Sub DAS Belayan.

Penyuluh dari KPHP DAS Belayan Elfin menjelaskan, ada beberapa kegiatan yang mereka gelar, bekerjasama dengan sejumlah yayasan, salah satunya Yayasan BIOMA.

Penyuluh dari Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Sub DAS Belayan Elfin. (SAPRI MAULANA)

Mereka menggelar pelatihan pengelolaan kelembagaan dan mendirikan lembaga pengelolaan hutan desa (LPHD).

“Terkait pengelolaan hutan desa, hak pengelolaan diberikan Kementerian Kehutanan kepada LPHD Muhuran seluas 1.567 hektare,” kata dia.

Sebagai informasi, Desa Muhuran memiliki luasan wilayah 5.640 hektare. Di mana, 90 persen wilayahnya masuk dalam kawasan hutan gambut.

“Dulunya 100 persen gambut, setelah kebakaran hutan, itu (bagian) pinggir sungai sudah bukan gambut, sudah mineral,” kata Elfin.

Selain LPHD, juga ada kelompok tani hutan (KTH) yang membudidayakan madu kelulut.

Salah satu lahan budidaya madu kelulut di Desa Muhuran seluas 20 kali 40 meter persegi, per bulan bisa menghasilkan 6 liter madu kelulut. Per liter madu dijual seharga Rp 400 ribu.

Lokasi budidaya madu kelulut di Desa Muhuran, Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara, Kaltim. Di sini, pengunjung bisa meminum langsung madu dari sarangnya. (SAPRI MAULANA)

Kemudian, KPHP juga memfasilitasi pembentukan masyarakat peduli api (MPA).
“Secara periodik kami ajak patroli pencegahan, sebab lahan gambut kalau sudah terbakar penanganannya cukup sulit ya,” kata Elfin.

Meski menemui sejumlah kendala untuk produksi di bidang pertanian, dan nelayan, hasil produksi beras di Desa Muhuran, mampu mencukupi kebutuhan untuk 229 KK di sana.

Hal itu diungkapkan Kepala Desa Muhuran Akhmad Nur, ia mencontohkan dirinya. Lebih dari 20 tahun tidak pernah membeli beras.

“Petani di sini sekali panen (padi) cukup untuk memenuhi kebutuhan lebih dari setahun, sisanya mereka jual,” kata Nur.

Untuk kendala, Nur menceritakan soal pasokan listrik di desanya hanya menggunakan mesin diesel.

“Listrik (menyala) dari sore hari sampai jam 10 malam, sempat jam 11 malam, tapi karena BBM naik jadi mundur lagi (kembali jam 10),” kata Nur.

Kepala Desa Muhuran Akhmad Nur. (SAPRI MAULANA)

Ada kabar baik kata Nur, untuk kebutuhan listrik di Desa Muhuran, dirinya telah bertemu Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah, untuk membahas persoalan tersebut.

“Sudah ketemu bupati, syukur Alhamdulillah setahun ini akan clear,” ungkapnya. (Sapri Maulana)

Bagikan:

About The Author