Hipertens dan Diabetes Konsisten Masuk 5 Besar Penyakit Langganan Warga Kukar, Stres dan Gaya Hidup Jadi Pemicunya

ILUSTRASI: Penderita hipertensi dan diabetes kini semakin banyak di Kukar. (IST)

TENGGARONG – Tren penyakit di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) pada tahun 2026 menunjukkan pergeseran yang mengkhawatirkan. Meski Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih mendominasi secara kuantitas, namun hipertensi dan diabetes konsisten bertengger di daftar lima besar penyakit yang paling mematikan karena risikonya yang berujung pada komplikasi gagal ginjal.

Ketua Tim Kerja Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan (PKDR) Kukar, dr. Adam, mengungkapkan bahwa profil penderita kedua penyakit ini telah bergeser drastis dari usia lansia ke usia produktif.

Bacaan Lainnya

Dokter Adam memberikan peringatan keras bahwa hipertensi dan diabetes bukanlah penyakit remeh. Berdasarkan pengamatan dari 32 Puskesmas se-Kukar, kedua penyakit metabolik ini merupakan penyumbang utama kasus gagal ginjal di masyarakat.

“Orang Indonesia itu banyak yang diabetes dengan komplikasi gagal ginjal. Hipertensi juga sama, larinya ke jantung dan ginjal. Risikonya mencapai 20 hingga 30 persen. Ini yang sering tidak disadari masyarakat,” beber dr. Adam, Sabtu (18/4/2026).

Bukan Penyakit Orang Tua

Jika satu dekade lalu penderita hipertensi dan diabetes didominasi usia 50 tahun ke atas, kini tren tersebut telah bergeser.

“Dulu kan usia 50-an, kemudian bergeser ke 35-40 tahun. Sekarang di usia 30 tahun saja sudah banyak yang kena. Ini usia produktif, usia di mana orang seharusnya sedang aktif-aktifnya bekerja,” tambahnya.

Selain faktor keturunan yang menyumbang sekitar 50 persen risiko, dr. Adam menyoroti perubahan gaya hidup sebagai biang keladi utama. Kurangnya aktivitas fisik yang dibarengi dengan tingginya konsumsi makanan tinggi garam, gula, dan tepung (pati) menjadi pemicu utama gangguan metabolik.

Tak hanya itu, faktor psikologis seperti stres tinggi yang belakangan populer dengan istilah mental illness di kalangan anak muda juga turut meningkatkan risiko.

“Stres yang tinggi dapat meningkatkan gangguan metabolik dan membuat risiko terkena penyakit ini melonjak naik,” jelasnya.

Hambatan terbesar dalam penanganan penyakit ini adalah sifatnya yang tidak terlihat di awal. Berbeda dengan batuk atau diare yang langsung terasa, hipertensi dan diabetes seringkali ditemukan secara tidak sengaja saat kondisi sudah parah.

Pemkab Kukar sendiri telah menyediakan berbagai layanan deteksi dini, mulai dari Posbindu PTM (Penyakit Tidak Menular) di Puskesmas hingga program cek kesehatan gratis saat ulang tahun yang dicanangkan Presiden.

“Masyarakat kita cenderung merasa tidak perlu cek kesehatan kalau belum ada keluhan. Padahal saat tidak terasa apa-apa itulah tekanan darah bisa saja sudah tinggi. Apalagi kalau punya riwayat keluarga, harus lebih waspada dan segera lakukan screening dini sebelum terjadi komplikasi,” pungkas dr. Adam.

Laporan: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com

Bagikan:

Pos terkait