
Mediaetam.com, Muara Wis – Tak punya daratan, bukan berarti tak bisa bercocok tanam. Selama akal digunakan, bukan tidak mungkin bertanam tetap bisa dilakukan meskipun wilayahnya tanpa daratan. Seperti yang dilakukan warga di Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis, Kukar.
Keunikan ini terungkap dalam kunjungan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kutai Kartanegara (Kukar) di Desa Muara Enggelam. Terdapat satu potensi yang unik untuk dikembangkan, yaitu padi apung.
“Muara Enggelam memiliki keunikan karena sepanjang tahun tidak pernah surut, sehingga metode pertanian yang cocok adalah metode padi apung” ucap Ketua Gabungan Kelompok Tani Panji, Husturi, belum lama ini.
Dia menambahkan untuk padi apung sendiri di wilayah Kalimantan baru pertama kali.
“Tahun 2018 pernah dicoba, dan berhasil walau dalam skala kecil dua kali 1 meter,” kata Husturi.
Pada waktu tersebut masyarakat Muara Enggelam belum terlalu tertarik sehingga masih sedikit yang terlibat dalam proses pelatihan yang dilaksanakan.
Lalu pada 2020, semangat untuk menerapkan tani apung ini mulai muncul, dan warga mulai tertarik untuk mengetahui. Jikalau dulu hanya perempuan sekarang laki-laki juga mulai terlibat.
“Untuk sekarang pengembangannya yang ingin kita coba lebih luas lagi yaitu 2 X 6 meter. Asumsinya jikalau kita dapat permeter persegi 1 kilo, nanti panen, kalau pemupukan dan perawatannya bagus dapat 12 kilogram,” papar dia.

Namun, bukan tanpa kendala. Saat ini masalahnya adalah ketiadaan bahan yang tidak bisa didapatkan, seperti bambu dan tanah .
Tetapi sebenarnya, menurut dia, jika mau usaha, bisa saja dilakukan. Jadi, waktu musim surut tanah diambil. Husturi menyambungkan, tanah yang diambil saat surut itu juga lebih bagus karena konturnya gambut.
“Gambut lebih ringan daripada tanah, unsur haranya lebih bagus, dan PH airnya di kisaran 5,5-7 itu masih bisa adaptasi terhadap tanaman,” jelas lelaki ini.
Potensinya pun sangat luas karena luasan lahan yang ada. Husturi memaparkan bahkan satu rumah bisa mengelola, 3 kotak ukuran 1,5 x 20 atau 30 meter. Hasilnya, bisa mngurangi biaya beli beras. Jika begini, sekarang, tinggal kesiapan warga berkomitmen.
“Kalau sudah ada padi apung, kesadaran warga untuk melintas secara perlahan, karena kalau tidak, gelombangnya cukup besar,” sebut Husturi.
Sebagai informasi, program padi apung ini diinisiasi Kelompok Informasi masyarakat bersinar desaku dan bekerjasama dengan Gapoktan Panji Sejahtera Tenggarong. (Akbar)


