Bupati Kukar Letakkan Batu Pertama Jembatan Pendamping, Wujudkan Harmoni Sejarah dan Modernitas

Bupati Kukar Letakkan Batu Pertama Jembatan Pendamping, Wujudkan Harmoni Sejarah dan Modernitas
Bupati Kukar Letakkan Batu Pertama Jembatan Pendamping, Wujudkan Harmoni Sejarah dan Modernitas

Tenggarong – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Edi Damansyah, dengan penuh semangat memimpin upacara peletakan Batu Pertama Jembatan Pendamping Jembatan Besi di Tenggarong. Acara ini, yang berlangsung di Simpang Jalan Danau Semayang, diawali dengan prosesi adat tempong tawar yang dipimpin oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, H. Aji Muhammad Arifin. Momen ini menandai langkah besar dalam harmonisasi antara pelestarian warisan budaya dan pembangunan infrastruktur modern.

Turut hadir dalam acara bersejarah ini Plt Ketua DPRD Kukar Junadi, Dandim 0906/Kkr Letkol (CZI) Damai Adi Setiawan, perwakilan Polres Kukar, serta Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kukar Wiyono. Para kepala OPD, Forkopimda, dan direksi dari PT. Putra Nanggroe Aceh serta PT. Celebes Sarana Jasa juga ikut menyaksikan langkah awal proyek strategis ini.

Bacaan Lainnya

Langkah Cepat Menuju Pembangunan

Dalam sambutannya, Bupati Edi Damansyah menegaskan urgensi proyek ini. Ia memerintahkan kontraktor untuk segera memulai pembangunan setelah peletakan Batu Pertama Jembatan Pendamping. “Kontraktor harus bergerak cepat. Jangan tunda pekerjaan berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Mulailah dalam beberapa hari ke depan agar proyek ini selesai tepat waktu,” ujarnya dengan nada tegas.

Edi menambahkan, proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik. Lebih dari itu, jembatan ini mencerminkan komitmen Kukar untuk menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan penghormatan terhadap nilai sejarah. “Kami ingin Batu Pertama Jembatan Pendamping ini menjadi simbol perpaduan antara masa lalu dan masa depan,” katanya.

Menghormati Sejarah, Merangkul Modernitas

Jembatan Besi Tenggarong, yang telah ditetapkan sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB), memiliki nilai sejarah yang tak ternilai. Awalnya, jembatan ini direncanakan untuk direhabilitasi. Namun, untuk menjaga keasliannya, pemerintah memilih membangun jembatan pendamping sebagai solusi cerdas. Dengan demikian, Jembatan Besi tetap lestari sebagai warisan budaya, sementara jembatan baru menjawab kebutuhan transportasi modern.

“Kami tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menjaga jati diri Tenggarong. Jembatan Besi adalah simbol kota, dan jembatan pendamping menjadi jalan bagi kemajuan tanpa melupakan akar sejarah,” jelas Edi. Ia menekankan, proyek ini akan memperkuat identitas Tenggarong sebagai kota budaya yang dinamis dan progresif.

Visi Kota Berbudaya dan Modern

Lebih lanjut, bupati berharap jembatan pendamping tidak hanya memecahkan masalah teknis transportasi, tetapi juga menjadi landmark baru yang memperkaya kawasan budaya Tenggarong. “Di masa depan, kawasan ini akan kami wujudkan sebagai pusat sejarah dan budaya. Jembatan pendamping akan melengkapi Jembatan Besi, menciptakan harmoni antara tradisi dan modernitas,” ungkapnya penuh visi.

Proyek ini juga mencerminkan kolaborasi erat antara pemerintah, kontraktor, dan masyarakat. Dengan dukungan semua pihak, Edi optimistis jembatan ini akan selesai tepat waktu dan memberikan manfaat nyata bagi warga Kukar. “Mari kita wujudkan Tenggarong sebagai kota yang menghormati sejarah, namun berani melangkah menuju masa depan,” ajaknya.

Momen Bersejarah untuk Generasi Mendatang

Peletakan batu pertama ini bukan sekadar seremoni, melainkan langkah nyata menuju transformasi Tenggarong. Dengan mengedepankan sinergi antara pelestarian budaya dan inovasi, Kukar menunjukkan bahwa kemajuan dan tradisi bisa berjalan seiring. Jembatan pendamping ini akan menjadi bukti bahwa sejarah dan modernitas dapat hidup berdampingan, menciptakan kota yang berbudaya, inklusif, dan siap menyongsong masa depan.

Bagikan:

Pos terkait