Cerita Umi Salam, yang Berangkat Umrah Gratis dari Al-Husna Tenggarong

Travel Al-Husna Tenggarong beserta rombongan menunaikan umroh (Doc. Facebook Al-Husna Tenggarong)
Travel Al-Husna Tenggarong beserta rombongan menunaikan umroh (Doc. Facebook Al-Husna Tenggarong)

TENGGARONG – Sebuah rumah di Gang Wakab, kawasan Loa Kulu, Kutai Kartanegara, Umi Salam menjalani keseharian sebagai pembuat roti rumahan. Usaha kecil-kecilan itu ia rintis sendiri dari nol, sembari tetap menjalankan rutinitas mengajar mengaji. Tak banyak yang tahu, Umi juga seorang penghafal Al-Qur’an.

Perjalanan hidupnya yang sederhana dan penuh pengabdian itu akhirnya membawanya ke Tanah Suci. Tahun ini, Umi berangkat umrah tanpa biaya pribadi. Ia terpilih sebagai salah satu penerima bantuan dari sebuah inisiatif sosial yang mendanai keberangkatan guru ngaji, santri, dan penghafal Qur’an.

“Beliau merintis dari bawah, dan selama ini tak pernah meninggalkan Munzalan (masjid di Loa Kulu, Kukar),” kata Ulfah, Pengelola Travel Haji dan Umrah Al-Husna Tenggarong.

“Kami melihat perjuangannya dan merasa ia layak diberangkatkan,” sambungnya.

Program ini dijalankan dari menyisihkan sebagian keuntungan dari biaya jamaah umum untuk memberangkatkan mereka yang dianggap berjasa di bidang keagamaan, terutama dari kalangan ekonomi terbatas.

Umi adalah satu dari sekitar 30 orang yang telah diberangkatkan dalam dua tahun terakhir, sebagian besar berasal dari Kutai Kartanegara dan sekitarnya. Proses seleksi dilakukan melalui kunjungan langsung ke pondok pesantren dan rumah warga.

Bagi Umi, keberangkatan ini bukan sekadar perjalanan spiritual, tetapi juga penghargaan atas kerja sunyi yang selama ini ia jalani. Selama bertahun-tahun, Umi mengajar anak-anak mengaji. Ia juga kerap mengantar roti dagangannya ke tetangga atau warung-warung sekitar untuk menambah penghasilan keluarga. Meski hidup sederhana, ia tak pernah mematok bayaran dari murid-muridnya.

Inisiatif sosial yang memberangkatkan Umi berangkat dari semangat gerakan rombongan sedekah (GRS) dan Infaq. Beberapa pendirinya pernah aktif dalam kegiatan amal seperti sedekah rombongan dan infaq beras, sebelum kemudian membentuk badan usaha.

Di tengah komersialisasi ibadah, kisah seperti milik Umi menjadi pengingat bahwa ada ruang untuk solidaritas, bahkan dalam industri yang tumbuh semakin besar. Perjalanan ini bukan sekadar soal siapa yang mampu membayar, tetapi siapa yang layak diberi jalan. (Nur Fadilla Indah/Mediaetam.com)

Bagikan:

Pos terkait