Kepala Kesbangpol Kukar Ingatkan Warga Tak Terjebak Politik Identitas

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Kukar, Rinda Desianti, turut menjadi salah satu narasumber dalam acara Pembinaan Komunikasi Cegah Konflik Sosial yang digelar di Makodim 0906/KKR. (Dilla)
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Kukar, Rinda Desianti, turut menjadi salah satu narasumber dalam acara Pembinaan Komunikasi Cegah Konflik Sosial yang digelar di Makodim 0906/KKR. (Dilla)

TENGGARONG – Kukar menjadi salah satu dari dua kabupaten di Kalimantan Timur yang mesti melakukan Pemungutan Suara Ulang (PSU). Hal ini imbas dari keputusan Mahkamah Konstitusi terkait hasil Pilbup Kukar. Sejak awal, Kukar memang disebut jadi wilayah yang rawan oleh Bawaslu Kaltim. Maka dari itu, karena masih dalam suasana politik saat ini, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kutai Kartanegara (Kukar), Rinda Desianti, mengingatkan pentingnya peran masyarakat untuk menjaga kerukunan.

Rinda menyampaikan pentingnya peran komponen masyarakat dalam mencegah dan menangani potensi konflik sosial serta menjelaskan bahwa berbagai faktor, termasuk perbedaan warna pakaian, bisa memicu konflik.

Dia juga mengingatkan agar setiap individu tidak terjebak dalam politik identitas yang dapat memperburuk situasi.

“Warna berbeda dikaitkan dengan politik, saya berpikir sekarang kalau mau berpakaian saja kok tidak merdeka ya,” ujarnya, saat menjadi salah satu narasumber dalam acara Pembinaan Komunikasi Cegah Konflik Sosial yang digelar di Makodim 0906/KKR.

Selain itu, ia juga menyoroti perubahan sosial yang cepat di Indonesia, seperti pengaruh penggunaan handphone yang membawa dampak positif dan negatif.

Ia menyebutkan bahwa pemahaman tentang wawasan kebangsaan, bela negara, dan Pancasila di kalangan generasi muda semakin menurun.

Untuk itu, Rinda mengajak semua pihak untuk secara bersama-sama menumbuhkan nilai-nilai Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pada kesempatan yang sama, Brigjen TNI Dr Fransiscus Ari Susetio juga memberikan materi mengenai wawasan kebangsaan, dengan penekanan pada konflik yang terjadi di berbagai negara.

Fransiscus menjelaskan bahwa konflik tidak hanya dipicu oleh faktor internal, tetapi juga eksternal, terutama yang berkaitan dengan perebutan Sumber Daya Alam (SDA) dan energi.

Ia menegaskan bahwa Indonesia harus menjaga kedamaian agar tidak mengalami konflik serupa yang telah terjadi di beberapa negara, seperti di Sudan, Nigeria, hingga Laut Cina Selatan.

“Konflik bisa menyebabkan kerusakan dan perubahan, yang bagus menjadi tidak bagus. Semua kompak dan bersatu untuk menghalau konflik,” tegasnya.

Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai ormas, tokoh agama, tokoh adat, pelajar, dan pihak terkait lainnya, yang diharapkan dapat bersama-sama menjaga keamanan dan kedamaian di Kutai Kartanegara. (Nur Fadillah Indah/mediaetam.com)

Bagikan:

Pos terkait