Ketika Rakyat Punya Selera

Dea Rizky Amalia
Dea Rizky Amalia

Opini oleh: Dhea Rizky Amalia, Dosen Ilmu Politik Universitas Andi Sudirman

Syahdan, seorang calon legislator lagi keheranan. Bisa-bisanya dia punya suara besar di kampung sebelah. Sedangkan di kompleks perumahannya hanya ada dua suara untuknya, yang dia yakini suara itu berasal dari keluarganya. Padahal, baik di kampung sebelah atau di kampung sendiri, dia mencoba meraup suara dengan gaya sama. Rajin ke pos ronda dan berbincang-bincang dengan warga langsung.
Tetapi seharusnya si calon legislator tak perlu keheranan. Sebab sebagai insan politik setiap warga negara tentunya melakukan tindakan politik. Sikap politik seseorang terhadap objek politik yang terwujud dalam tindakan atau aktivitas politik merupakan perilaku politik seseorang.

Perilaku politik di setiap daerah tentunya berbeda-beda. Pada umumnya perilaku politik ditentukan oleh faktor internal dari individu itu sendiri. seperti idealisme, tingkat kecerdasan, kehendak hati dan oleh faktor eksternal (kondisi lingkungan). Mulai dari kehidupan beragama, sosial, politik, ekonomi, dan lain yang mengelilinginya.

Sudah menjadi rahasia umum, setiap aktor politik entah caleg atau bahkan skala lebih besar pun, poin utama yang harus menjadi perhatian adalah pahami arena serta perilaku pemilihnya. Dalam komunikasi politik dikenal dengan Perilaku pemilih (Voting Behaviour).

Perilaku pemilih ada berdasarkan pada segmentasi kelas. Kelas yang di maksud di sini adalah posisi/strata sosial. Banyak hal yang mempengaruhi terbentuknya sebuah kelas. Merujuk pada penelitian disertasi yang dilakukan M. Fajrul Rahman tentang “Distingsi Pemilih di Indonesia (Studi Interpretative Phenomenological Analysis Habitus Kelas dan Perilaku Pemilih dengan Pendekatan Strukturalisme Genetik Pierre Bourdieu) bahwa penelitiannya menunjukkan ada empat kelas sosial di Indonesia lengkap dengan habitus kelas masing-masing, yakni kelas elite, kelas menengah profesional, kelas menengah tradisional, dan kelas marhaen.

Tiap-tiap kelas sosial memiliki jumlah dan komposisi kapital ekonomi, budaya, dan sosial yang berbeda, serta habitus kelas dan kapital simbolik yang berbeda pula, (.) juga memiliki modus produksi opini politik yang turut menunjukkan perbedaan (distinction). Kelas ini mendasari perilaku politik seseorang dalam hal memilih seorang aktor politik ataupun partai politik.

Hal ini juga berbanding lurus dengan tulisan saya yang pernah sedikit saya ulas tentang “Selera” yang juga miliknya Pierre Bourdieu. Kesimpulannya “Selera” membentuk kelas-kelas sosial, lalu kelas sosial mempengaruhi perilaku politik seseorang.

Ini saling berhubungan tidak bisa terpisahkan. Dan tidak mudah juga untuk begitu saja berubah.

Hal yang lumrah jika di Kota Mangga misalnya masyarakat pada umumnya lebih memilih partai B atau Kota Timun lebih banyaknya memilih partai A. hal ini sangat lumrah terjadi dan dapat diperdebatkan mengapa ini bisa terjadi. Jawabannya dengan mengkaji komposisi kelas yang masing-masing dipengaruhi oleh beberapa elemen yang saling berkait.

Proses sosialisasi kelas ini membentuk karakteristik individu yang termanifestasi dalam perilaku, pengetahuan dan gaya hidup. Termasuk pada pembentukan perilaku memilih seseorang.

Lalu jika kita coba sandingkan dengan kontestasi politik bahwasanya aktor politik yang ingin memenangkan perhelatan tersebut. Haruslah memahami serta mendalami perilaku pemilih dari seluruh elemen masyarakat yang menjadi daerah pemilihannya. Kenapa?

Pada dasarnya begini, berbicara tentang pemilu itu tidak terlepas dari personal branding yang digunakan aktor politik sebagai salah satu strategi pemenangan. Membangun personal branding tidak serta merta terjadi begitu saja secara alamiah namun melalui banyak intrik dan strategi.

Personal branding yang dilakukan oleh para politisi akan membentuk persepsi masyarakat akan dirinya. Lalu serta memudahkan bagi para politisi tersebut untuk melakukan komunikasi politik. Agar semua pesan yang ingin disampaikan dapat tersampaikan dengan baik dan diterima masyarakat luas.

Oleh karenanya rumus dan strategi dalam pemenangan tidak boleh terlepas dari pemahaman arena, yang terwujud dalam pemahaman tentang individu (perilaku pemilih).

Jika hal ini dapat dipahami maka akan pula dapat dirumuskan strategi Personal Branding seperti apa yang akan dibangun . Jika semua unsur strategi telah tepat dan fokus ke sasaran, maka kemenangan dalam kontestasi politik bisa lebih mudah didapatkan.

Bagikan:

Pos terkait