TENGGARONG – Hobi menerbangkan layang-layang kini menjelma menjadi peluang usaha menjanjikan bagi warga Kelurahan Maluhu, Kecamatan Tenggarong. Salah satunya adalah Purwanto, pengrajin layang-layang hias berukuran besar, yang kini kebanjiran pesanan seiring meningkatnya tren menerbangkan layangan di malam hari.
Dalam sebulan, ia bisa mengerjakan 4 hingga 6 unit layang-layang raksasa. Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan desain.
“Ukuran rata-rata 1 sampai 2 meter. Kalau ada permintaan khusus dari pembeli juga bisa dibuatkan,” ujar Purwanto.
Purwanto mengawali usaha ini pada 2024. Awalnya ia hanya membuat layang-layang untuk dirinya sendiri, namun ketertarikan warga membuatnya mulai menjual hasil karyanya. Kini, permintaan terus meningkat, terutama dari warga sekitar yang menggemari aktivitas menerbangkan layangan berhias lampu di malam hari.
“Dulu hanya buat sendiri. Tapi ketika banyak yang tertarik, akhirnya dijual. Awalnya sebulan cuma satu yang laku, sekarang bisa lebih dari empat,” kenangnya.
Menurutnya, pembuatan layang-layang besar tidak semudah membuat layangan biasa. Ia harus memilih bambu berkualitas, kemudian dibersihkan dan dijemur sebelum dirakit. Proses perakitan hingga selesai membutuhkan waktu 1 sampai 2 minggu.
Bahan yang digunakan pun tidak sembarangan, mulai dari kertas khusus, benang wol, hingga lem kuat agar layang-layang tahan lama dan tetap stabil saat diterbangkan.
“Saya bersyukur masyarakat Maluhu banyak yang pesan. Harapan saya, ini bisa jadi hiburan sekaligus olahraga tradisional yang kembali hidup,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu pecinta layangan, Muhammad Abrori, menyebutkan bahwa layangan hias ini kini menjadi pemandangan rutin di langit malam Maluhu. Ia sendiri mulai bermain sejak awal 2025, setelah melihat temannya menerbangkan layangan berhias lampu yang unik dan indah di malam hari.
“Mulai sore biasanya sudah diterbangkan, dan baru diturunkan saat pagi hari. Tapi menerbangkannya nggak gampang, karena pakai senar khusus dan layangannya berat,” katanya.
Abrori membeli layang-layang seharga Rp 300 ribu dan mengaku puas dengan desain serta kekuatan layangan tersebut.
Baginya, bermain layang-layang raksasa bukan hanya hiburan, tapi juga sarana melepas penat setelah seharian bekerja. Kini, Maluhu dikenal sebagai kampung layangan malam yang unik dan penuh warna.
(Nur Fadillah Indah/mediaetam.com)








