Menteri Lingkungan Hidup Kunjungi Desa Pela, Kukar Siap Jadi Sentra Konservasi dan Wisata Edukatif

Menteri Lingkungan Hidup Kunjungi Desa Pela, Kukar Siap Jadi Sentra Konservasi dan Wisata Edukatif
Menteri Lingkungan Hidup Kunjungi Desa Pela, Kukar Siap Jadi Sentra Konservasi dan Wisata Edukatif

TENGGARONG – Semangat baru menyala di Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara. Kamis (3/7), Menteri Lingkungan Hidup dan Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nasional, dr. Hanif Faisol, turun langsung ke dermaga Desa Pela. Kunjungan kerja ini menandai langkah konkret pemerintah pusat dalam mendorong Desa Pela menjadi pusat konservasi dan destinasi wisata edukatif unggulan di Kalimantan Timur.

Menteri Hanif tak datang sendiri. Ia didampingi oleh Gubernur Kalimantan Timur Rudi Mas’ud, sejumlah pejabat eselon I dan II dari kementerian/lembaga terkait, serta tokoh-tokoh dari berbagai organisasi, termasuk United Nations Environment Programme (UNEP) dan UNDP Indonesia. Mereka disambut dengan hangat oleh Bupati Kutai Kartanegara, dr. Aulia Rahman Basri, bersama jajaran pemerintah daerah dan masyarakat lokal yang antusias menyambut rombongan.

Bacaan Lainnya

Rangkaian kunjungan ini diawali dengan prosesi adat berupa pengalungan selendang manik-manik serta pembukaan selubung papan nama Desa Pela sebagai Desa Konservasi Pesut Mahakam dan Wisata Edukatif kawasan Danau Mahakam. Momen ini menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan potensi wisata berbasis kearifan lokal.

Bupati Aulia dalam sambutannya mengungkapkan rasa bangga dan terima kasih atas perhatian yang diberikan pemerintah pusat terhadap pengembangan wilayahnya. Ia menegaskan bahwa kehadiran Menteri Lingkungan Hidup menjadi momentum strategis dalam mempercepat pembangunan berkelanjutan, terutama dalam sektor ekowisata dan pelestarian lingkungan.

“Desa Pela adalah representasi nyata potensi lokal yang luar biasa. Mulai dari keanekaragaman hayati, budaya masyarakat nelayan, hingga keberadaan Pesut Mahakam sebagai satwa ikonik yang kini semakin langka. Semua ini harus kita jaga dan kembangkan secara berkelanjutan,” tegas Aulia.

Desa Pela memang tidak asing dalam dunia pariwisata berbasis konservasi. Sejak 2019, desa ini telah menetapkan dirinya sebagai desa wisata. Kehadiran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) “Bekayuh Baumbai Bebudaya” menjadi motor penggerak utama dalam membangun citra desa. Tak tanggung-tanggung, berbagai penghargaan berhasil diraih mulai dari tingkat kabupaten hingga internasional. Termasuk penghargaan Kalpataru dari KLHK RI dan pengakuan dari UNWTO sebagai bagian dari Best Tourism Village Upgrade Programme 2023.

Dalam acara tersebut, sejumlah dukungan konkret juga diberikan. Di antaranya adalah serah terima bantuan lampu penerangan jalan tenaga surya dari PT Pertamina Hulu Mahakam, penyerahan tempat sampah, dan buku rencana perlindungan serta pengelolaan ekosistem gambut untuk periode 2025–2053. Semua inisiatif ini menjadi bagian dari sinergi nyata antara pemerintah pusat dan daerah dalam membangun kawasan yang lebih hijau, produktif, dan mandiri.

Selain itu, Bupati Aulia juga menyampaikan visi pembangunan Kukar melalui program “Kutai Kartanegara Idaman Terbaik”. Visi ini mengarah pada terwujudnya fondasi pusat pangan, pariwisata, dan industri hijau yang maju dan berkelanjutan. Salah satu fokus utamanya adalah menjadikan sektor pariwisata berbasis lingkungan sebagai kekuatan ekonomi baru, di luar ketergantungan terhadap pertambangan.

Sebagai wilayah yang akan berbagi peran dengan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki posisi strategis dalam pengembangan wilayah. Potensi sumber daya alamnya yang melimpah, ditambah kekayaan flora dan fauna seperti bekantan dan orangutan, membuat daerah ini sangat layak menjadi laboratorium konservasi hidup yang terintegrasi dengan wisata edukatif.

Desa Pela pun kini memasuki babak baru. Dengan dukungan penuh dari pusat dan dedikasi masyarakat lokal, desa ini siap menjadi wajah baru ekowisata Indonesia. Tidak hanya sebagai tujuan wisata, tetapi juga sebagai contoh nyata bahwa konservasi lingkungan dapat berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Bagikan:

Pos terkait