Muhammad Aulia Rahman, Mantan Juara MTQ yang Kini Beralih Menjadi Pengajar Tilawah di Loa Janan

Muhammad Aulia Rahman memakai baju gamis cokelat tua, peci putih, berkacamata bersama siswa siswi TPA (Doc. Muhammad Aulia Rahman)
Muhammad Aulia Rahman memakai baju gamis cokelat tua, peci putih, berkacamata bersama siswa siswi TPA (Doc. Muhammad Aulia Rahman)

TENGGARONG – Muhammad Aulia Rahman, pria kelahiran Bakungan, Kecamatan Loa Janan, telah menorehkan prestasi gemilang di dunia Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Perjalanan kariernya di MTQ dimulai di Tenggarong Seberang, dan sejak itu ia terus meraih juara di berbagai tingkat lomba.

“Pertama kali mengikuti di Tenggarong Seberang, mulai mengikuti MTQ sejak Sekolah Dasar,” ucap Muhammad Aulia Rahman mengenang awal perjalanan kariernya.

Rahman menceritakan pengalamannya, dari Kota Bangun juara 2, Anggana juara 2, hingga juara 1 di Muara Kaman sekitar tahun 2009. “Alhamdulillah, saya juara 1, kemudian dikirim ke Bontang dan meraih juara 4,” ujarnya.

Sejak 2012 hingga 2024, Rahman selalu berhasil meraih juara satu di tingkat kabupaten, dengan kemenangan terakhir di Samboja Barat, sementara di tingkat provinsi, ia meraih juara 3 di Berau dan Bontang pada sekitar tahun 2018.

Namun, kini Rahman memutuskan untuk mengakhiri kiprahnya dalam kompetisi MTQ dan beralih menjadi pengajar tilawah. Ia mengajar anak-anak di mushola BSSR, Loa Janan, dan mendapatkan dukungan dari pemerintah desa serta perusahaan setempat.

“Sekarang saya sudah mengakhirinya dan beralih mengajari anak-anak saja di Loa Janan,” tutur Rahman kepada pihak mediaetam.com.

Rahman menjelaskan bahwa ide mendirikan TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) berasal darinya. Ia merasa bahwa sering mengikuti lomba dan meraih juara membuatnya mendapat dukungan dari pemerintah desa untuk menjadi pelatih.
Saat ini, ia mengajar tilawah kepada sekitar 40 siswa-siswi di TPA dan pesantren setempat.

Motivasi Rahman dalam mengikuti MTQ dan mengajar tilawah adalah untuk melakukan syiar agama. Ia percaya bahwa syiar agama bisa disampaikan melalui MTQ, ceramah, dan berbagai media lainnya.

“Quran itu bukan hanya dibaca, isinya juga diamalkan, jadi banyak pelajarannya membaca Quran ini tidak boleh sombong, harus rendah hati,” tuturnya.

Rahman juga mengikuti perlombaan dan mengaji bukan hanya untuk meraih juara, tetapi lebih kepada syiar agama dan memaknai isi Al-Qur’an. “Juara itu hanya hadiah,” tambahnya.

Sebagai bentuk penghargaan, tak lupa Rahman menyampaikan terima kasih kepada kedua orang tuanya, Arfah dan Muhammad Arsyad, yang selalu mendukungnya.

Pesan terakhir yang disampaikan Rahman kepada para qori dan qoriah serta anak muda adalah untuk memanfaatkan waktu dengan mengaji.

“Karena apa yang ada di dunia ini semua ada di Al-Qur’an, jika kita membaca Al-Qur’an maka semua yang kita inginkan akan dikabulkan Allah SAW,” tutupnya. (Nur Fadillah Indah/mediaetam.com)

Bagikan:

Pos terkait