Samarinda- Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Puji Setyowati menghadiri acara pembukaan Pelatihan dan Sosialisasi Olahraga Desain Besar Olahraga Nasional (DBON)/ Desain Besar Olahraga Daerah (DBOD) di Kaltim yang dilaksanakan di Hotel Gran Senyiur Balikpapan, Sabtu (17/6) .
Sulaiman selaku ketua panitia kegiatan mengatakan bahwa kegiatan yang digagas oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang standarisasi olahraga terutama DBON dan DBOD Kaltim.
“Kegiatan ini menghadirkan pembicara atau narasumber dari praktisi pendidikan terutama praktisi olahraga. Dan peserta yang hadir dan kami siapkan ada sekitar 80 peserta yang terdiri dari para pengurus provinsi dan binpres,” ungkapnya.
Kemudian dalam Sambutan Gubernur Kaltim yang disampaikan oleh Didi Rusdiansyah Anan Dani menyampaikan atas nama Pemerintah Provinsi Kaltim menyambut baik dan memberikan apresiasi yang tinggi atas digelarnya pelatihan dan sosialisasi ini.
“Dalam rangka memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang standar olahraga yang mencakup standar sarana dan prasarana, standar pembiayaan, standar atlet, dan standar pengelolaan prestasi olahraga,” tambahnya.
Sementara, Puji Setyowati dalam kesempatan itu mengharapkan agar setelah sosialisasi ini, bagaimana Kaltim untuk mengatasi serta membuat juknis tentang Desain Olahraga Daerah (DOD). Karena disitu terdapat beberapa hal yang sangat strategis untuk menaungi semua Cabang Olahraga (Cabor) khususnya olahraga rekreasi, olahraga tradisional, olahraga prestasi dan olahraga industri.
“Harapan kita, Pak Gubernur juga merespon dengan baik, kemudian tentunya Pak Gubernur juga dengan respon itu akan memberikan dukungan dalam pelaksanaan nanti. Nanti kita harapkan juga semua SKPD terkait tentang bagaimana persiapan sumber daya manusia, infrastruktur dan juga pembinaan itu masuk ke dalam DOD nanti,” harap Politikus Partai Demokrat ini.
Menurutnya, apabila hal ini menjadi komitmen bersama maka Kaltim diharapkan memiliki program studi olahraga.
“Jadi disitu akan menggodok, mempersiapkan, tidak hanya tenaga-tenaga instruktur sebagai guru tetapi juga atlet-atlet yang nantinya akan membela Kalimantan Timur dalam segala sisi untuk prestasi olahraga,” ujarnya.
Tentunya, lanjutnya, ada perselisihan atau gap antara pemilik cabor yang ada.
“Karena begitu dibina, misalnya di Samarinda sudah bagus tapi ternyata dibutuhkan daerah lain dengan bayaran lebih tinggi, akhirnya sesama ketua cabor akan timbul masalahnya. Kalau berbicara olahraga, ada ketidakharmonisan seperti itu pasti akan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia khususnya bidang olahraga,” ungkapnya.
Selama ini, ungkap dia, yang dikejar hanya kuantitas tanpa memperhatikan kualitas seperti mengambil atlet-atlet dari luar untuk melindungi prestasi di Kaltim. Sangat disayangkan apabila hal ini terus terjadi tanpa ada pengendalian.
“Berharap, olahraga dapat membentuk generasi muda Kaltim untuk menjadi generasi yang sehat yang dapat memberikan multiplier effect terhadap kualitas sumber daya manusia,” terangnya.
“Pada umumnya, anak-anak yang suka olahraga, mereka akan jauh dari narkoba, dia akan jauh dari kenakalan remaja, kebut-kebutan dan lain sebagainya. Jadi multiplier effect ini juga harus dipertimbangkan dengan baik sehingga kita tidak perlu lagi membeli atlet luar, tapi bagaimana pembinaan dan penyediaan sarana dan prasarana serta komitmen pemerintah dibutuhkan untuk mewujudkan itu semua,” tambahnya. (Iswanto/Adv/DPRD Kaltim).








