TENGGARONG – Suasana Kamis pagi di Jalan Diponegoro, tepat di depan Museum Mulawarman, berubah jadi lautan manusia saat acara Beseprah digelar. Tradisi sarapan massal ini memang selalu ditunggu warga, karena bukan hanya sekadar makan bersama, tapi juga jadi momen kebersamaan antara rakyat dan pemimpin.
Acara dimulai dengan sambutan dari Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Aulia Rahman Basri, bersama pejabat daerah dan Sultan Kutai. Setelah itu, Sultan memukul kentongan sebagai tanda dimulainya jamuan. Begitu bunyi kentongan terdengar, ribuan warga yang sudah duduk bersila serentak mulai menyantap hidangan yang dihamparkan.
Yang menarik, seorang warga bernama Indri datang sejak pagi bersama teman-temannya. Mereka sudah siap menunggu momen makan bareng tersebut.
“Saya setiap tahun selalu hadir di Beseprah. Rasanya sayang kalau dilewatkan, apalagi acaranya terbuka untuk semua masyarakat Kukar,” ujarnya sambil tersenyum menunggu kentongan dipukul.
Makanan disajikan secara unik di atas kain putih dan kuning yang dibentangkan sepanjang hampir satu kilometer. Aneka kuliner khas Kutai tersaji, mulai dari nasi kuning, lauk pauk, hingga jajanan tradisional. Semua orang duduk bersila tanpa memandang status sosial.
Slogan “duduk sama rata, berdiri sama tinggi” benar-benar terasa, Tak ada perbedaan antara pejabat dan masyarakat biasa, semuanya melebur jadi satu menikmati kebersamaan. Beseprah kembali membuktikan dirinya bukan sekadar ritual tahunan, tapi simbol persatuan warga Kukar yang penuh kehangatan. (gis)
Penulis: Nur Fadillah Indah/ mediaetam.com








