TENGGARONG – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tenggarong memilih cara berbeda dalam merefleksikan pergantian tahun 2025 ke 2026. Alih-alih larut dalam euforia semata, Lapas Tenggarong menggelar Ujian Tahfidz Al-Qur’an dan Doa Bersama yang diikuti puluhan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Masjid Taubatan Nasuha, Rabu (31/12/2025).
Sejak pukul 08.30 Wita, suasana masjid dipenuhi dengan lantunan ayat suci. Sebanyak 40 santri dari program Pesantren Taubatan Nasuha mengikuti ujian hafalan untuk kategori Juz 1, 2, 29, dan 30. Ujian ini merupakan agenda rutin yang menjadi prasyarat sebelum para santri ini diwisuda.
“Tahun ini ada peningkatan kualitas hapalan. Ujian Tahfidz tidak lagi terbatas pada Juz 29 dan 30 saja, tetapi sudah merambah ke Juz 1 dan 2,” ungkap Kalapas Kelas IIA Tenggarong, Suparman, di sela pembukaan kegiatan.
Suparman menegaskan program pembinaan kerohanian ini selaras dengan visi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dalam mencetak sumber daya manusia yang religius. Ke depan, Lapas Tenggarong berkomitmen untuk memperluas jejaring kerja sama guna memperkuat kurikulum pesantren di dalam jeruji besi.
“Kami akan menjalin komunikasi intensif dengan MUI, BAZNAS, LPTQ, hingga para stakeholder lainnya. Tujuannya jelas, yakni mengembangkan program Tahfidz Qur’an ini agar lebih masif dan berkelanjutan,” imbuhnya.
Rangkaian kegiatan berlanjut pada malam hari pukul 18.45 Wita. Petugas Lapas dan ratusan warga binaan berkumpul untuk memanjatkan doa bersama. Kegiatan diawali dengan pembacaan Surah Yasin, zikir, dan ditutup dengan doa syukur atas kondisi Lapas yang tetap aman dan tertib sepanjang tahun 2025.
“Mari kita jaga bersama ‘rumah’ ini dengan tidak melanggar tata tertib. Keaktifan mengikuti program pembinaan adalah kunci untuk menjadi pribadi yang lebih baik saat kembali ke masyarakat nanti,” pesan Suparman kepada para warga binaan.
Program 2026
Memasuki tahun 2026, Lapas Tenggarong telah menyiapkan langkah strategis untuk mendukung 15 program aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Suparman memaparkan bahwa pihaknya akan fokus pada tiga pilar utama: ketahanan pangan, pengembangan akses pendidikan bagi WBP, serta penguatan UMKM melalui program pembinaan kemandirian.
Langkah ini diharapkan mampu mengubah stigma penjara menjadi tempat produktif yang melahirkan sumber daya manusia mandiri dan berintegritas.
Penulis: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com








