Kukar – Pemerintah Kabupaten Kukar berusaha keras menekan angka stunting. Pemkab pun telah memiliki targetnya sendiri.
Di Kukar, ada program desa bebas stunting. Sekretaris daerah Kukar, Sunggono pun telah menyampaikan harapannya, desa yang menjadi lokus penanganan stunting bisa optimal dalam penganggaran dan disesuaikan targetnya.
“Target nasional angka stunting 2024 adalah 14 persen. Tapi kita optimistis Kukar bisa di bawah 10 persen,” ucapnya.
Upaya penanganan stunting ini memang tidak bisa dilakukan sendiri. Pemerintah harus berkolaborasi dengan berbagai sektor. Baik swasta maupun masyarakat. Selain itu, edukasi orangtua juga penting untuk mencegah anak stunting. Apalagi kasus stunting tak melulu karena kondisi ekonomi sehingga tidak bisa mengakses makanan yang bergizi. Namun di beberapa kasus, ada orangtua yang kondisi ekonominya tergolong mampu, tetapi anaknya stunting. Hal ini disebabkan pengetahuan orangtua tersebut.
Untuk diketahui, stunting adalah pendek atau sangat pendek berdasarkan panjang / tinggi badan menurut usia yang kurang dari -2 standar deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan WHO. Namun, perlu diketahui pendek tidak langsung berarti stunting. Namun, jika mengalami stunting, maka dia pendek.
Penyebab utama stunting diantaranya, asupan gizi dan nutrisi yang kurang mencukupi kebutuhan anak, pola asuh yang salah akibat kurangnya pengetahuan dan edukasi bagi ibu hamil dan ibu menyusui, buruknya sanitasi lingkungan tempat tinggal seperti kurangnya sarana air bersih dan tidak tersedianya sarana MCK yang memadai serta keterbatasan akses fasilitas kesehatan yang dibutuhkan bagi ibu hamil, ibu menyusui dan balita. (Adv/Diskominfo Kukar)








