Mediaetam.com, Berau – Pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) skala besar tahun ini sedianya akan dilaksanakan pada dua lokasi berbeda.
Dua lokasi itu yakni dari Melati Jaya menuju Tanjung Batu dengan total anggaran yang dibutuhkan sejumlah Rp 63 miliar dan di wilayah perkotaan, tepatnya di Singkuang dengan anggaran senilai Rp 17 miliar.
Hal itu disampaikan Direktur Utama Perumda Air Minum Batiwakkal, Saipul Rahman, kepada media ini, Selasa (30/5/2023).
Menurut Saipul, pembangunan SPAM dari Melati Jaya menuju Tanjung Batu masih menunggu bantuan anggaran yang saat ini sedang diusulkan ke Pemprov Kaltim.
Anggaran yang diusulkan itu pun diharapkan dapat dikabulkan. Namun, jika tidak memungkinkan maka pilihannya kembali ke APBD Berau.
Dengan anggaran yang direncanakan itu, pihaknya akan membangun jaringan pipa dan booster mulai dari Melati Jaya hingga Tanjung Batu.
Menunggu jawaban dari Pemprov Kaltim, DPUPR Berau terlebih dahulu membangun reservoir dan intake di kawasan Melati Jaya.
Berkapasitas 50 liter/detik, pembangunan intake itu menggunakan pagu APBN dari Kementerian PUPR senilai Rp 34 miliar.
Intake yang dibangun itu memiliki daya yang lebih besar dari sebelumnya yang hanya mencapai 20 liter/detik.
Pilihan untuk meningkatkan kekuatan intake tersebut agar air dapat dialirkan ke lebih banyak wilayah.
“Kalau tetap bertahan pada 20 liter/detik maka air hanya untuk beberapa kampung seperti Merancang Ilir, Merancang Ulu, dan Batu-batu. Tapi kalau 50 liter/detik, bisa untuk semua,” tegasnya.
Saipul berencana intake tersebut dapat diselesaikan pada tahun ini, agar pembangunan SPAM dapat rampung pada 2024 mendatang.
Sedangkan untuk wilayah perkotaan, khususnya di Singkuang, pembangunan akan dilaksanakan secara bertahap.
“Pada tahap awal akan dibangun reservoir, jaringan transmisi serta distribusi demi menampung kelebihan produksi di Singkuang dan Sambaliung,” terangnya.
Anggaran yang berasal dari APBD Kabupaten Berau tersebut pun hendak dimaksimalkan pada tahun ini.
“Tahun ini seharusnya sudah dibangun karena anggaran 17 miliar itu untuk tahun ini. Harapannya di akhir tahun bisa mengantisipasi kekurangan stok air yang dimiliki,” tandasnya.
Lebih lanjut, terang Saipul, pada tahun 2023 terdapat 4.000 pelanggan PDAM dengan target 25.000 sambungan rumah.
Tarif yang dikenakan bagi pelanggan pun masih tergolong murah jika dibandingkan dengan kabupaten lain, yakni Rp 4.700 per kubik.
Kendati tergolong murah, para pelanggan terutama di kampung-kampung masih tunggak dalam membayar, walaupun telah disampaikan tempo pembayarannya di bawah tanggal 20 setiap bulan.
Kendati masih terdapat kendala pembayaran tarif air tersebut, PDAM masih beruntung sebab pendapatan yang diperoleh, khususnya pada tahun 2022 sejumlah Rp 71,5 miliar.
“Untuk tahun 2022 total pendapatan PDAM dari air dan non air secara keseluruhan sejumlah Rp 71,5 miliar,” pungkasnya.
Pendapatan yang cukup besar itu menurutnya justru sangat ditopang oleh pendapatan dari non air khususnya pendapatan dari sambungan baru atau pelanggan baru.
“Jadi kalau pendapatan air saja kita rugi sebenarnya. Tapi karena ada pendapatan lain dari sambungan baru itu yang menutupi kerugian kita,” kuncinya. (*/Elton Wada)
Editor: Elton Wada








