Mediaetam.com, Kukar – Aliansi Masyarakat Bersatu di Kecamatan Samboja Barat unjuk rasa kepada perusahaan LP dan REP untuk melakukan progres penutupan lubang bekas tambang dan sengketa lahan yang belum tuntas dengan permintaan masyarakat.
Sebelumnya, telah dilakukan mediasi pertemuan antara masyarakat terdampak dengan pihak perusahaan untuk menemukan win win solution, dan dituangkanlah dalam bentuk berita acara. Namun, dari berita acara tersebut pihak perusahaan belum juga melakukan progres komitmen yang telah disepakati bersama.
Ketua Aliansi Peduli Lingkungan Hidup Bukit Merdeka (APLH-BM) Yasir Den Has mengatakan aksi yang terjadi pada Senin, (12/6) merupakan bagian dari upaya masyarakat dalam merealisasikan penutupan bekas lubang tambang yang berdekatan dengan permukiman masyarakat, tepatnya berada di Kelurahan Bukit Merdeka.
“Sebelumnya kami sudah melakukan proses Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada Desember 2022 lalu. Hasil dari berita acara RDP tersebut pihak perusahaan berkewajiban untuk menutup lubang tambang tersebut, namun sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” ungkap Ketua APLH-BM, Yasir Den Has. Senin, (12/6/2023)
Yasir menyebut yang menjadi kekhawatiran masyarakat adalah dampaknya terhadap lingkungan dan tempat tinggal mereka, kerusakan semakin parah terutama di tujuh rumah warga yang berdekatan dengan lubang bekas tambang. Selain itu juga fasilitas umum seperti sekolah ikut merasakan dampak kerusakannya.
“Sekitar 2020 lalu bahkan sempat terjadi longsor di dekat pemukiman masyarakat, jarak lubang tambang itu sekitar 30 meter. Juga terjadi banjir menggenangi lahan pertanian masyarakat,” ucapnya.
Setelah kejadian tersebut, digelar RDP di tingkat DPRD Kabupaten, namun hingga 2022 pihak perusahaan tidak juga menindaklanjuti hasil dari RDP tersebut.
“Berbagai upaya kami lakukan, hingga melakukan mediasi pertemuan dan membahas apa yang menjadi berita acara pihak perusahaan di RDP. Dari hasil mediasi terakhir, kami meminta waktu selama 14 hari kepada pihak perusahaan untuk melakukan penutupan lubang tambang, namun tidak ada juga tindak lanjut dari mereka,” jelasnya.
Untuk itu, Yasir menuturkan bahwa aksi dari Aliansi masyarakat bersatu akan terus berjalan tanpa rentan waktu yang ditentukan. Dengan melakukan penutupan akses jalan perusahaan, hingga pihak perusahaan turun tangan.
“Kami sudah memulai aksi penutupan jalan ini dari 5.30 pagi, namun sampai sore ini belum ada pihak perusahaan datang menemui kami. Jadi aksi ini akan berjalan lebih dari satu hari sampai pihak perusahaan datang menemui,” pungkasnya. (Indah Hardiyanti)








