TENGGARONG – Penurunan harga ikan air tawar di Kutai Kartanegara (Kukar) membuat pembudidaya kembali mengeluhkan sulitnya pemasaran. Komoditas seperti nila dan mas bahkan hanya dihargai sekitar Rp25 ribu per kilogram di sejumlah kecamatan. Dari yang biasanya mencapai 40-45 ribu.
Penurunan harga ini disebabkan oleh melimpahnya stok ikan air tawar, seiring dengan peningkatan produktivitas perikanan lokal. Hal ini tentu dikeluhkan oleh pembudidaya, karena rendahnya harga jual membuat keuntungan yang mereka dapatkan sangat tipis alias tidak sebanding.
Keluhan tersebut turut dibenarkan Kepala Bidang Pengelolaan Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar, Sabar Handoyo. Menurutnya, persoalan harga menjadi tantangan utama pembudidaya meski produksi terus meningkat. “Harga jual untuk ikan segar masih fluktuatif, terutama nila dan mas. Banyak pembudidaya mengeluh soal pemasaran,” jelasnya, Rabu (26/11/25).
Di sisi lain, sektor budidaya di Kukar terus berkembang. DKP Kukar mencatat terdapat 1.046 kelompok pembudidaya yang aktif di wilayah pesisir hingga daerah hulu. Beragam usaha dijalankan, mulai dari keramba, kolam tanah hingga kolam terpal.
Tahun ini, DKP Kukar menargetkan penyaluran 378 juta benih ikan dan udang serta lebih dari 1 juta kilogram pakan. Selain komoditas air tawar, bantuan sarana juga diberikan untuk budidaya rumput laut.
Perlunya Hilirisasi Produk
Meski demikian, Sabar menyebut peningkatan produksi perlu diikuti langkah hilirisasi agar pembudidaya tidak bergantung pada penjualan ikan segar. DKP Kukar mendorong pelaku usaha mengolah hasil panen menjadi makanan jadi, mulai dari produk beku, fillet, hingga bahan olahan.
“Kalau hanya mengandalkan ikan segar, nilai jualnya rendah. Produk olahan memberi kesempatan harga yang lebih stabil,” katanya.
Sebagai langkah pendukung, DKP Kukar juga menyiapkan pembangunan fasilitas penyimpanan dingin (cool storage) di beberapa titik. Fasilitas ini diyakini dapat memperpanjang masa simpan panen dan menahan pembudidaya agar tidak menjual dengan harga rendah saat pasokan melimpah.
“Ada rencana penambahan cool storage untuk menampung sementara hasil panen ikan air tawar,” ujarnya.
Menurutnya, langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pembudidaya pada tengkulak dan pembeli besar yang sering menentukan harga pasar di tingkat produsen.
Penulis: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com








