BGN: Sekolah dan Siswa yang Tolak MBG Tak Boleh Dipaksa apalagi Diintimidasi

ILUSTRASI: BGN menegaskan bahwa penyaluran MBG tidak boleh dipaksakan kepada pihak yang menolak. (IST)

JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa sekolah maupun siswa yang memilih tidak mengikuti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh dipaksa, apalagi mendapat tekanan atau intimidasi dari pihak mana pun. Penegasan ini disampaikan untuk memastikan pelaksanaan program tetap mengedepankan prinsip sukarela dan menghormati kondisi masing-masing sekolah.

Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menekankan agar seluruh kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak melakukan pemaksaan kepada sekolah maupun peserta didik agar menjadi penerima manfaat MBG.

Bacaan Lainnya

“Para kepala SPPG tidak boleh memaksa. Kalau ada sekolah yang tidak mau menerima MBG karena misalnya para siswanya berasal dari keluarga mampu, itu tidak menjadi masalah,” ujar Nanik dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin. Mengutip dari Antara.

Pernyataan tersebut disampaikan Nanik merespons keluhan salah satu kepala SPPG di Kabupaten Banyuwangi yang mengalami kesulitan meningkatkan jumlah penerima manfaat karena beberapa sekolah elit dengan jumlah siswa besar menolak program MBG.

Penerimaan MBG Bersifat Sukarela

Nanik menjelaskan, secara prinsip pemerintah memang ingin seluruh anak Indonesia memperoleh asupan gizi yang baik melalui program MBG. Namun, penerapannya tidak boleh mengabaikan prinsip sukarela.

Ia menegaskan tidak boleh ada anggapan bahwa sekolah yang menolak MBG berarti tidak mendukung program pemerintah.

“Tidak boleh ada pemaksaan, apalagi intimidasi dari SPPG atau instansi mana pun, seolah-olah sekolah yang tidak menerima MBG dianggap tidak menyukseskan program pemerintah,” tegasnya.

Menurut Nanik, apabila sekolah-sekolah tertentu telah mampu memenuhi kebutuhan gizi siswanya secara mandiri, keputusan untuk tidak menerima MBG patut dihormati dan tidak perlu dipersoalkan.

Arahkan ke Kelompok yang Lebih Membutuhkan

Sebagai solusi, Nanik menyarankan agar para kepala SPPG lebih aktif menjangkau kelompok masyarakat yang masih membutuhkan bantuan pemenuhan gizi. Di antaranya adalah pesantren kecil, anak-anak putus sekolah, anak jalanan usia sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, serta balita.

“Masih banyak kelompok masyarakat yang belum menerima MBG, sementara mereka sangat membutuhkan,” ungkapnya.

BGN berharap, dengan pendekatan yang tepat dan tanpa unsur pemaksaan, program MBG dapat berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan benar-benar memberi dampak positif bagi peningkatan kualitas gizi masyarakat.

Redaksi Media Etam

Bagikan:

Pos terkait