TENGGARONG – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Rumah Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jalan Panjaitan mulai mematangkan strategi distribusi menjelang bulan suci Ramadan. Guna memastikan program tetap berjalan efektif bagi siswa yang menjalankan ibadah puasa, mekanisme pemberian makanan akan mengalami penyesuaian dari menu basah menjadi menu kering.
Kepala SPPG Rumah MBG Jalan Panjaitan, Idhamsyah, menjelaskan bahwa transisi menu ini bertujuan agar bahan makanan tetap fresh dan tidak mudah rusak hingga waktu berbuka puasa tiba.
Menu Kering Berkualitas Premium
Jika pada hari biasa siswa mendapatkan nasi dan lauk-pauk (omprengan), selama Ramadan menu akan diganti dengan paket makanan kering bergizi tinggi. Paket ini mencakup roti kualitas premium, susu, buah-buahan, serta camilan protein seperti keripik tempe dan telur rebus.
“Mekanismenya nanti kami berikan makanan kering seperti roti burger kualitas premium, susu, dan buah. Tujuannya supaya bahan makanan tidak mudah rusak dan bisa dikonsumsi anak-anak saat waktu berbuka puasa nanti,” ujar Idhamsyah, Kamis (15/1/2026).
Meski menu berubah, Idhamsyah yang juga seorang ahli gizi menjamin takaran nutrisi tetap terjaga. “Ahli gizi kami sudah menghitung takarannya. Misalnya, berapa gram porsi nasi yang digantikan dengan sekian porsi roti. Insya Allah semuanya aman dan kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi,” tambahnya.
Manajemen Dapur: Packing Setelah Tarawih
Proses pengolahan makanan selama Ramadan diprediksi akan lebih santai karena sebagian besar bahan makanan kering dipasok oleh vendor. Namun, untuk menjaga kesegaran, proses pengemasan (packing) akan dilakukan pada malam hari.
“Proses memasak mungkin tidak lama, hanya merebus telur dan menyiapkan buah. Tapi proses packing kemungkinan besar dimulai setelah salat Tarawih untuk didistribusikan esok paginya mengikuti jam sekolah Ramadan,” jelas Idhamsyah.
Sebelum didistribusikan, tim SPPG melakukan uji organoleptik atau pengecekan kualitas secara langsung. “Kami ada tester, baik dari koki maupun ahli gizi, untuk menjamin makanan tersebut layak dan aman dikonsumsi anak-anak.”
Ribuan Tenaga Kerja Lokal
Program MBG ini tidak hanya berdampak pada kesehatan siswa, tetapi juga menggerakkan ekonomi kerakyatan di Kutai Kartanegara. Idhamsyah memproyeksikan jika seluruh titik operasional MBG di Kukar sudah berjalan maksimal, perputaran uang di daerah akan sangat tinggi.
“Jika nanti beroperasi penuh, infonya ada sekitar 140-an titik dapur di Kukar. Bayangkan berapa banyak relawan dan tenaga kerja lokal yang terserap. Belum lagi dari sisi suplai bahan baku dari vendor-vendor lokal, perputaran uangnya akan sangat maksimal,” paparnya.
Meski saat ini masih mengandalkan vendor luar untuk penyediaan roti karena keterbatasan alat seperti oven skala besar, SPPG Kukar terus berinovasi. Ke depan, terdapat rencana untuk pengadaan alat produksi mandiri guna menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan pemberdayaan relawan setempat.
Laporan: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com








