Duka di Tengah Banjir Kembang Janggut: Seorang Balita Meninggal Dunia, DBD Hantui Warga

Penyemprotan Fogging di rumah rumah Desa Genting Tanah Kec. Kembang Janggut, Kamis (15/1/26). (Doc. Facebook Genting Tanah)

GENTING TANAH – Ancaman kesehatan serius kini membayangi warga Desa Genting Tanah, Kecamatan Kembang Janggut, di tengah terjangan banjir luapan sungai. Bukan sekadar genangan air, penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi momok yang nyata setelah dilaporkan adanya kasus kematian pada anak di wilayah tersebut.

Pemerintah desa mencatat, serangan nyamuk Aedes aegypti ini sebenarnya sudah mulai muncul sejak Desember lalu dan kini dikhawatirkan kian meluas seiring kondisi lingkungan yang lembap akibat banjir.

Bacaan Lainnya

Satu Balita Meninggal Dunia

Kepala Desa Genting Tanah, Junaidi, mengonfirmasi bahwa terdapat tiga kasus DBD yang menyerang anak-anak di desanya. Ironisnya, satu di antaranya tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia.

“Ada tiga kasus DBD, semuanya anak-anak. Dua orang sudah sembuh, namun satu anak usia sekitar tiga tahun meninggal dunia. Berdasarkan diagnosa, selain DBD memang ada penyakit penyerta lain, tapi ini menjadi peringatan keras bagi kita semua,” ungkap Junaidi dengan nada prihatin, Kamis (15/1/2026).

Pihak desa bersama Puskesmas Kembang Janggut telah melakukan langkah darurat dengan merujuk pasien ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai dan memberikan bantuan vitamin serta obat-obatan bagi warga yang mulai menunjukkan gejala demam.

Banjir Memperparah Risiko Penularan

Kondisi banjir yang saat ini merendam jalan poros hingga setinggi 50 centimeter di Genting Tanah dianggap memperparah risiko penyebaran penyakit. Genangan air di berbagai sudut pemukiman menjadi tempat berkembang biak yang ideal bagi nyamuk.

Menyikapi hal tersebut, pemerintah desa langsung bergerak melakukan pengasapan (fogging) secara menyeluruh, meskipun tantangan di lapangan cukup berat karena beberapa akses jalan utama di RT 01 tergenang air setinggi 30 centimeter.

“Kami sudah melakukan fogging dan sosialisasi pemberantasan nyamuk. Fogging ini krusial karena saat banjir begini nyamuk sangat cepat berkembang. Kami minta warga benar-benar waspada dan menjaga kebersihan lingkungan,” tegas Junaidi.

Imbauan Waspada Gejala Demam

Mengingat siklus banjir kali ini merupakan banjir besar lima tahunan, pihak desa meminta orang tua untuk lebih proaktif memantau kondisi kesehatan anak-anak mereka. Jika ditemukan gejala demam tinggi, warga diminta untuk tidak menunda pemeriksaan ke Puskesmas.

“Himbauan sudah kami sebar ke masyarakat. Jangan anggap remeh demam saat musim banjir. Kami ingin memutus rantai kasus ini agar tidak ada lagi korban jiwa, terutama dari kalangan anak-anak,” tutupnya.

Rencananya, isu kesehatan lingkungan dan penanganan dampak banjir ini juga akan menjadi salah satu poin yang dilaporkan kepada Bupati Kutai Kartanegara saat melakukan kunjungan kerja ke Kecamatan Kembang Janggut pada Jumat (16/1/26) esok.

Laporan: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com

Bagikan:

Pos terkait