TENGGARONG – Insiden kebakaran yang nyaris menghanguskan sebuah minibus di Kelurahan Maluhu pada Rabu lalu, (14/1/26) menyisakan cerita tentang tantangan nyata bagi petugas di lapangan.
Akses jalan yang sempit serta adanya penutupan jalan karena kegiatan masyarakat sempat menjadi hambatan bagi armada besar Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmatan) Kukar menuju lokasi kejadian.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Damkarmatan Kukar, Fida Hurasani, menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menyalahkan masyarakat atas kondisi lingkungan atau adanya acara hajatan yang menutup akses jalan.
Strategi Situasional: Tak Bisa “Lurus” Saja
Fida menjelaskan dalam setiap operasi, petugas dituntut untuk bersikap cepat dan memutuskan jalur secara situasional. Pihaknya tetap menghormati kehidupan sosial masyarakat, meskipun hal itu terkadang menjadi tantangan bagi kecepatan armada.
“Kami bekerja dan bertugas memastikan kehidupan sosial kemasyarakatan tidak terganggu. Kami tidak bisa mendesain jalan harus selalu lurus atau lepas hambatan, itu tidak mungkin. Jadi, kami harus bijak menyikapi jika ada jalan yang ditutup karena tenda acara atau gang yang sempit,” ujar Fida Hurasani, Kamis (15/1/2026).
Dalam kejadian di Maluhu kemarin, Fida mengapresiasi bantuan warga yang mengarahkan petugas melalui jalur alternatif.
“Karena jalur utama tertutup acara, warga membantu mengarahkan kami lewat jalan lain. Inilah bentuk sinergi di lapangan,” tambahnya.
Kombinasi Unit Pemukul dan Unit Suplai
Terkait teknis penanganan di pemukiman padat atau jalan sempit, Damkarmatan Kukar ternyata sudah memiliki strategi matang. Fida memaparkan penggunaan unit mobil besar dan kecil selalu dikombinasikan.
Mobil unit kecil bertindak sebagai “unit pemukul/taktis” yang masuk mendekati titik api (sekitar 5-10 meter), sementara mobil besar (roda 6) tetap berada di jalan poros sebagai “unit suplai” air.
“Unit besar tetap kami kerahkan karena mereka membawa suplai air yang banyak. Jika jalan tidak bisa dimasuki mobil besar, strategi kami adalah menggelar selang yang panjang. Kami punya banyak stok selang, bisa disambung 5 sampai 10 bal selang untuk mencapai titik kebakaran meski mobil besarnya diam di jalan poros,” beber pria yang akrab disapa Afe.
Dilema di Lapangan: Antara Kecepatan dan Risiko Kerusakan
Meski dibekali perlengkapan yang memadai, Fida mengakui sering menghadapi dilema di lapangan. Terkadang, demi mengejar waktu, petugas berisiko menyerempet benda atau kabel milik warga. Namun, tak jarang hal ini justru berujung pada komplain dari masyarakat.
“Seringkali warga mengadu ke kami kalau ada kabel putus atau benda tersenggol saat petugas lewat. Padahal kami sedang berpacu dengan waktu untuk memadamkan api. Inilah tantangan kami di lapangan,” ungkapnya.
Fida berharap masyarakat dapat terus memberikan dukungan, terutama dalam memberikan informasi akses jalan yang paling cepat dan akurat saat terjadi kebakaran, serta memberikan ruang bagi petugas agar bisa bekerja dengan maksimal di tengah keterbatasan ruang gerak.
Laporan: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com








