TENGGARONG – Jarum jam menunjukkan pukul 15.00 Wita saat aroma masakan mulai memudar di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jalan Panjaitan, Kamis (15/1/2026). Sore itu, mediaetam.com awalnya datang untuk menggali informasi lain mengenai operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, sebuah cerita hangat dari Kepala SPPG mengalihkan perhatian pada sosok pria lansia yang sedang sibuk menyusun ompreng di dapurnya.
Dia adalah Fusadin (67). Di balik tangannya yang mulai keriput namun tetap cekatan menyusun kotak-kotak (ompreng), pria asal Madura ini menyimpan kisah perjuangan yang menggetarkan hati.
Ikan Asin dan Memori Jalanan
Lahir pada September 1958, Fusadin merantau ke Kalimantan Timur membawa mimpi sederhana: bertahan hidup. Namun, realita seringkali lebih keras dari sekadar harapan. Sebelum “berlabuh” di dapur MBG setahun lalu, jalanan adalah kantornya.
Sebagai pemulung, ia akrab dengan aroma tempat sampah di sekitar Taman Tanjung dan Tepian. Jika beruntung, keringatnya seharian hanya dihargai Rp30 ribu hingga Rp40 ribu.
“Dulu, uang segitu saya pas-paskan. Beli beras setengah kilo, minyak goreng, dan ikan asin. Ikan asin itu yang paling nyata bisa kami beli,” kenangnya sembari tersenyum kecut di sela waktu kerjanya sore itu.
Namun, sejak ia bergabung di masa percontohan program MBG, hidupnya sedikit lebih “stabil”. Upah Rp100 ribu per hari yang ia terima kini bak oase. Tak ada lagi kekhawatiran akut untuk sekadar membeli beras di hari esok.
Cinta di Atas Kursi Roda
Alasan Fusadin tak pernah menyerah adalah seorang perempuan yang menunggunya di rumah. Istrinya. Tanpa keturunan dan jauh dari sanak saudara, pasangan lansia ini hanya memiliki satu sama lain. Sayangnya, sang istri mengalami kelumpuhan total.
“Istri saya tidak bisa jalan, ngesot saja kalau bergerak,” tutur Fusadin lembut.
Kisah sedihnya bertambah saat ia bercerita tentang “rumah”. Sejak area Taman Tanjung ditertibkan untuk pembangunan taman kota, ia kehilangan status kependudukan di RT lamanya. Dampaknya fatal: ia terputus dari daftar penerima bantuan sosial. Beras jatah pemerintah yang dulu rutin ia terima, kini hanya tinggal kenangan.
Kini, panggung Pasar Seni Tenggarong menjadi saksi bisu kehidupan mereka. Di sana, di atas bangunan kayu tanpa sewa itu, Fusadin merawat istrinya dengan segala keterbatasan. Ia bahkan sempat membawa pulang istrinya dari perawatan kantor sosial karena merasa pengobatan dan perhatian di sana tidak mencukupi.
Malam yang Tak Pernah Benar-Benar Istirahat
Meski matahari sudah terbenam dan pekerjaannya di dapur SPPG usai, Fusadin tak langsung merebahkan punggung. Ia kembali ke jalanan. Di bawah lampu remang Kota Tenggarong, ia masih menyisir botol plastik dan kardus bekas untuk tambahan biaya hidup.
“Kalau malam, saya sambilan cari plastik untuk tambah-tambah. Apalagi kalau musim hujan, sudah sulit menghasilkan uang,” ucapnya.
Baginya, program MBG adalah “kemuliaan” yang datang dari kebijakan Presiden Prabowo Subianto. Ia merasa dimanusiakan kembali di usia senja. Sosok pimpinan SPPG yang telah mengenalnya sejak 2009 dianggapnya sebagai penyambung nyawa yang memberikan kesempatan kerja saat pintu-pintu lain tertutup rapat.
“Harapan saya cuma satu, supaya program ini lanjut terus. Ini meringankan beban kami yang sudah tua dan tidak punya pekerjaan tetap. Biarlah kami tetap bekerja, asal dapur di rumah dan di SPPG tetap mengepul,” tutupnya.
Fusadin adalah satu dari ribuan potret warga kecil yang berdiri di garda belakang program nasional. Melalui tangannya, kotak makan bergizi sampai ke tangan siswa, dan melalui upah itu pula, cinta serta ikan asin tetap tersedia di atas meja panggung Pasar Seni yang sederhana.
Penulis: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com








