KUKAR – Harga cabai di Muara Muntai kembali bikin warga geleng-geleng. Di pasar tradisional setempat, cabai rawit kini dijual hingga Rp65.000 per kilogram. Lonjakan ini cukup mengejutkan karena sebelumnya harga masih berada di kisaran Rp40.000–Rp50.000 per kilogram.
Kenaikan tajam ini disebut akibat cuaca yang tak menentu dalam beberapa minggu terakhir. Sejumlah petani mengalami penurunan hasil panen karena tanaman cabai mereka rusak akibat hujan dan angin kencang.
“Cuaca ekstrem kemarin banyak bikin tanaman gagal panen. Sementara permintaan menjelang akhir tahun terus naik,” ujar seorang pedagang cabai di Pasar Muara Muntai, Selasa (9/12/25).
Hal ini selaras dengan peringatan dini yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Timur pada 24 November silam. Bahwa sebagian wilayah Kaltim berpotensi mengalami cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.
BMKG Pusat mencatat adanya pengaruh gelombang atmosfer/bibit siklon tropis yang dapat menyebabkan cuaca signifikan (hujan lebat) di beberapa wilayah Indonesia termasuk Kalimantan Timur pada akhir November–awal Desember 2025.
Di Kutai Kartanegara, daerah yang terdampak cuaca ekstrem di antaranya kawasan Muara Kaman, Marang Kayu, hingga Muara Badak.
Warga Kurangi Konsumsi Cabai
Situasi ini membuat warga mulai mengeluh, terutama mereka yang sehari-hari sangat bergantung pada cabai, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun usaha kuliner.
“Biasanya saya beli satu kilo untuk seminggu. Tapi sekarang terpaksa ngurangi karena mahal sekali,” kata Aminah, warga Muara Muntai.
Keluhan serupa muncul dari warga Kecamatan Muara Kaman. Bahkan, di sana harganya lebih tinggi lagi. “Di Muara Kaman Rp75 ribu, ada juga yang sampai Rp90 ribu,” ungkap seorang warga.
Hingga kini, warga mengaku belum melihat adanya langkah konkret dari dinas terkait untuk menekan lonjakan harga yang memberatkan banyak pihak ini.
Laporan: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com








