Desa Perangat Baru Manfaatkan Potensi Kopi Luwak Dengan Produksi Kopi Bubuk Kemasan

Produk kopi luwak dari Desa Perangkat Baru. (Istimewa)
Produk kopi luwak dari Desa Perangkat Baru. (Istimewa)

Mediaetam.com, Kukar – Dijuluki sebagai Kampung Kopi Luwak, masyarakat di Desa Perangat Baru, Kecamatan Marangkayu terus mengembangkan kopi luwak sebagai produk utama desa.

 

Kepala Dinas Perkebunan (Kadisbun) Kutai Kartanegara (Kukar),Muhammad Taufik, melalui Kepala Bidang (Kabid) Produksi Disbun Kukar, Subagio, mengungkap harga kopi luwak jauh lebih tinggi daripada kopi biasa, sehingga para petani kopi dari Desa Perangat Baru mencoba memanfaatkan potensi tersebut dengan maksimal.

 

“Petani kopi di Desa Perangat Baru cukup aktif memproduksi kopi luwak. Bahkan para petani kopi ini telah berhasil memproduksi kopi luwak dalam bentuk bubuk. Capaian tersebut tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta.” kata Kabid Produksi Disbun Kukar, Subagio. Sabtu, (3/6/2023).

 

Subagio menyatakan bahwa pemerintah daerah tidak hanya mendorong pertumbuhan budaya kopi, tetapi juga mengintegrasikannya dengan pengolahan. Pemerintah daerah juga telah membangun rumah produksi di Kampung Kopi Luwak, termasuk lantai pengering, alat pemecah biji kopi kering, alat sangrai, dan alat penggiling. Serta menyediakan teknisi yang terampil.

 

“Selain bantuan dari pemerintah, pengembangan produksi kopi luwak di desa tersebut juga mendapat perhatian dari sektor swasta, yaitu Pertanian Hulu Mahakam Kalimantan Timur, yang telah memberikan mesin sangrai dengan kapasitas yang jauh lebih besar,” ungkapnya.

 

Dikatakannya, saat ini Desa Perangat Baru sudah menghasilkan dua produk, yaitu kopi madu dan kopi luwak, yang merupakan produk unggulan dari produksi kopi bubuk yang berkualitas dan bermutu tinggi. Subagio menuturkan bahwa produk tersebut saat ini masih dipasarkan hanya di sekitar Kalimantan Timur (Kaltim) karena produksinya masih terbatas.

 

“Dalam pemasarannya juga dilakukan kerjasama dengan Hotel Mercure Samarinda untuk menampung dan memasarkan kopi luwak ini di kafe hotel. Namun, produksi masih terbatas sehingga masih kesulitan memenuhi permintaan. Peluang pasar yang terbuka sangat besar, tetapi karena produksi terbatas, jadi masih dilakukan pengembangan,” pungkasnya. (Indah Hardiyanti)

Bagikan:

Pos terkait