TENGGARONG – Sebanyak 12 rumah warga, satu angkringan kopi, dan dua pos ronda yang merupakan aset desa terdampak pergeseran tanah di Desa Kota Bangun Ulu, Kecamatan Kota Bangun.
Selain itu, jembatan penghubung antar RT amblas, dan jalan PU mengalami keretakan. Saat ini jembatan tersebut ditutup sementara dan hanya bisa dilalui pejalan kaki.
Kepala Desa Kota Bangun Ulu, Khairul Umam, menjelaskan bahwa pergeseran tanah terjadi sejak subuh pada Senin lalu, saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut. “Sampai sekarang masih ada pergerakan tanah sekitar 20 sampai 50 cm,” ujarnya.
Dirinya juga mengimbau warga terdampak untuk terus waspada. “Kalau terjadi apa-apa langsung saja tinggalkan rumah,” pesannya. Meskipun penanganan darurat dari pihak desa belum dilakukan, monitoring terus dilakukan dan pihak kecamatan telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kukar untuk segera meninjau lokasi.
Menurutnya, 12 rumah yang terdampak umumnya berbahan kayu, dan mayoritas mengalami penurunan di bagian teras akibat tanah yang bergeser. Warga masih tinggal di rumah masing-masing karena kerusakan belum sampai ke struktur utama.
Akses jalan menuju daerah terdampak juga terganggu. Selain jembatan utama yang amblas, jalur alternatif harus memutar melalui daerah perbukitan.
Khairul menyebut penyebab utama adalah abrasi akibat banjir yang terjadi selama tiga bulan terakhir. Ketika musim kemarau tiba, tanah mengering, lalu diguyur hujan lagi dalam beberapa hari terakhir, sehingga mengakibatkan pergeseran tanah.
Tidak hanya terjadi di Desa Koba Ulu, pergeseran tanah juga dilaporkan di beberapa titik lain di Kecamatan Muara Muntai, yakni Koba Ilir, Kota Bangun Seberang, dan Koba Ulu, namun yang paling terdampak adalah wilayah RT 14 dan 15 di Jalan HM Taini, Desa Koba Ulu.
“Ini murni faktor alam, bukan akibat tambang,” tegasnya. Dia menambahkan tanah di wilayah tersebut memang sangat rentan abrasi, dan pergeseran seperti ini hampir terjadi setiap tahun. Beberapa warga bahkan telah direlokasi sebelumnya.
Rencana relokasi lanjutan sudah ada, namun masih terkendala lokasi yang memadai. “Intinya kami pihak desa tidak berdiam diri, kami terus memantau situasi di lapangan,” tutupnya.
Nur Fadilla Indah/Mediaetam.com








