MUARA MUNTAI – Desa Muara Muntai di Kabupaten Kutai Kartanegara mendadak menjadi perbincangan publik setelah patung Pesut Mahakam yang berdiri di kawasan tersebut viral di media sosial. Bukan hanya karena bentuknya yang unik, melainkan lantaran biaya pembuatannya disebut hanya menghabiskan Rp350 ribu, angka yang dianggap tidak masuk akal oleh banyak orang.
Kehebohan bermula ketika akun gosip populer @lambe_turah mengunggah foto patung tersebut dengan nada ragu. Dalam takarirnya tertulis, “Nggak mungkinnn, itu harusnya 3 M.”
Unggahan itu dengan cepat menyebar dan hingga Senin (9/2/2026) telah disukai lebih dari 51 ribu pengguna serta dibanjiri hampir dua ribu komentar warganet yang takjub sekaligus mempertanyakan kebenarannya.
Aslinya Bukan Rp350 Ribu
Melihat polemik yang berkembang, Kepala Desa Muara Muntai Husain akhirnya memberi penjelasan. Ia menuturkan angka Rp350 ribu bukanlah biaya keseluruhan pembangunan patung apabila menggunakan material baru, melainkan hanya dana tunai yang dikeluarkan untuk membeli mesin pompa air agar mulut patung dapat memancurkan air.
Patung tersebut, lanjut Husain, dibangun secara swadaya dengan memanfaatkan berbagai bahan sisa bangunan seperti besi neser, semen, dan styrofoam. Lokasinya berada di RT 06 dan sengaja dirancang sebagai ikon desa yang merepresentasikan keberadaan Pesut Mahakam sebagai satwa endemik kebanggaan daerah.
Gagasan pembangunan ikon ini tidak sekadar untuk mempercantik kampung. Pemerintah desa ingin menjadikannya sebagai media edukasi bagi masyarakat, terutama para nelayan, agar lebih peduli terhadap kelestarian pesut dengan menghindari penggunaan alat tangkap yang merusak lingkungan.
Patut Ditiru
Apresiasi juga datang dari Camat Muara Muntai Mulyadi. Ia menilai kreativitas pemerintah desa patut dicontoh karena mampu menciptakan daya tarik tanpa harus menguras anggaran besar. Menurutnya, keberadaan patung tersebut sangat relevan mengingat Muara Muntai merupakan salah satu habitat asli mamalia air tawar itu.
Kehadiran patung Pesut Mahakam perlahan mulai dirasakan manfaatnya. Selain menjadi pengingat pentingnya menjaga ekosistem sungai, ikon baru ini juga membuka peluang ekonomi dengan menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Muara Muntai. Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk melihat patung, tetapi juga berharap dapat menyaksikan pesut yang sesungguhnya di perairan sekitar.
Bagi warga setempat, patung itu kini menjadi simbol kebanggaan. Dari kreativitas memanfaatkan barang bekas, lahir karya yang justru mampu mengangkat nama desa hingga level nasional.
Laporan: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com








