TENGGARONG – Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, secara khusus bertandang ke Kedaton Ing Martadipura untuk menghadap Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21, Sultan Adji Muhammad Arifin, Kamis sore (15/1/2026). Kedatangannya merupakan upaya “tabayun” sekaligus permohonan maaf resmi terkait insiden penempatan posisi duduk Sultan yang sempat viral beberapa waktu lalu.
Didampingi sang istri, Gubernur Rudy Mas’ud tiba di Kedaton sekitar jam 5 sore dan disambut langsung oleh Sultan di ruang utama Kedaton.
Dalam pertemuan yang berlangsung khidmat tersebut, Sultan Adji Muhammad Arifin secara terbuka menerima permohonan maaf gubernur. Namun, Sultan memberikan catatan tegas agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa depan. Sultan mengungkapkan bahwa pengabaian protokoler terhadap posisi adat ini sudah terjadi dua kali dalam acara kenegaraan.
“Gubernur sudah minta maaf kepada kita. Saya sampaikan, di waktu lain jangan sampai terulang lagi seperti ini karena sudah dua kali kejadiannya. Pertama waktu di IKN bersama Presiden Jokowi, dan yang kedua kemarin bersama Pak Prabowo,” ungkap Sultan Adji Muhammad Arifin.
Sultan menekankan pentingnya klarifikasi ini agar masyarakat memahami bahwa marwah adat harus tetap dijaga. “Jangan sampai terjadi lagi. Supaya masyarakat mengerti siapa yang khilaf sudah minta maaf kepada kita,” tegas Sultan.
Gubernur akan Ingat Nasihat Sultan
Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, menyatakan kehadirannya di Kedaton adalah untuk mendengarkan arahan langsung dari Sultan. Ia mengakui adanya kekeliruan dalam penempatan posisi tokoh adat dalam protokoler kegiatan-kegiatan besar di Kalimantan Timur.
“Hari ini kami melaksanakan tabayun dan memahami arahan serta nasihat (advice) dari Sultan berkaitan dengan protokoler setiap kegiatan di Kaltim. Intinya, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” ujar Rudy Mas’ud.
Insiden ini menjadi bahan introspeksi bagi jajaran Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dalam menyusun tata krama protokoler, termasuk saat berkoordinasi dengan lembaga vertikal maupun pemerintah pusat.
“Ini menjadi introspeksi kami untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya. Terima kasih kepada Sultan yang telah memberikan arahan. Ini akan kami jadikan pedoman dalam menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat di sana,” tutupnya.
Pertemuan ini diharapkan dapat mendinginkan suasana di tengah masyarakat adat yang sempat melayangkan protes keras pasca acara kunjungan Presiden Prabowo Subianto di Balikpapan beberapa hari lalu.
Laporan: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com








