TENGGARONG – Intensitas hujan yang tinggi selama sepekan terakhir mengakibatkan luapan air di wilayah hilir Kecamatan Marangkayu. Desa Santan Ilir menjadi salah satu wilayah yang terdampak cukup parah. Sejak Minggu (28/12/2025), ratusan rumah warga terendam banjir dengan ketinggian air yang bervariasi.
Kepala Desa Santan Ilir, Murtsalin, mengonfirmasi bahwa meski saat ini sudah mulai ada penurunan debit air, namun kondisi di lapangan masih memprihatinkan. Setidaknya ada sekitar 100 rumah yang hingga kini masih tergenang.
“Banjir mulai naik sejak hari Minggu lalu. Ketinggian air di halaman rumah sempat mencapai 1,2 meter, bahkan ada titik yang menyentuh 1,5 meter. Meskipun rata-rata rumah warga sudah ditinggikan, air tetap masuk ke dalam rumah,” ujar Murtsalin saat dikonfirmasi, Jumat (2/1/2026).
Akses Transportasi Gunakan Perahu Nelayan
Luapan air yang menutup akses jalan membuat aktivitas warga lumpuh. Menariknya, di tengah keterbatasan sarana evakuasi dari instansi terkait, warga Desa Santan Ilir menunjukkan solidaritas yang tinggi. Murtsalin mengimbau warga yang berprofesi sebagai nelayan untuk menyiagakan perahu mereka sebagai alat transportasi darurat.
“Kami instruksikan kepada setiap RT, terutama warga nelayan, agar membawa perahu mereka ke area pemukiman. Ini menjadi akses transportasi utama bagi masyarakat yang ingin keluar masuk rumah atau mengevakuasi barang,” jelasnya.
Sembilan RT Terdampak, Warga Mengungsi ke Rumah Kerabat
Dari total 12 RT yang ada di Desa Santan Ilir, tercatat sebanyak 9 RT terdampak langsung oleh banjir ini. Terkait posko pengungsian, pihak desa memilih skema evakuasi mandiri ke rumah sanak keluarga yang lokasinya lebih tinggi.
“Untuk saat ini kami tidak mendirikan posko terpusat. Warga yang rumahnya tenggelam diarahkan untuk mengungsi ke rumah kerabat masing-masing setelah barang-barang berharga mereka berhasil diamankan,” tambahnya.
Terkait logistik, bantuan mulai mengalir dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah Marangkayu serta swadaya dari masyarakat setempat. Namun, warga tetap berharap adanya perhatian lebih lanjut terkait pembersihan saluran air pascabanjir.
Penyebab utama banjir ini murni dikarenakan faktor alam, yakni curah hujan ekstrem yang terjadi selama dua hari berturut-turut pada awal pekan.
“Hujannya siang malam tanpa henti, puncaknya pagi hari air langsung meluap dari saluran-saluran menuju pemukiman,” tutup Murtsalin.
Penulis: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com








