TENGGARONG – Fenomena lonjakan angka pernikahan di Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), ternyata tidak hanya berpusat pada momen setelah Idulfitri atau bulan Syawal. Data terbaru dari Kantor Urusan Agama (KUA) Tenggarong menunjukkan bahwa “Bulan Haji” (Zulhijah) justru menjadi puncak pilihan bagi para calon pengantin (catin) untuk mengikat janji suci.
Kepala KUA Tenggarong, Naryanto, mengungkapkan tren ini sangat dipengaruhi oleh kepercayaan masyarakat lokal mengenai pemilihan waktu yang dianggap membawa keberkahan.
Data Pernikahan 2025
Berdasarkan data sepanjang tahun 2025, angka pernikahan di Tenggarong mengalami fluktuasi yang cukup tajam setiap bulannya. Menariknya, bulan Juni 2025 mencatatkan rekor tertinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Sepanjang tahun 2025, jumlah pendaftaran calon pengantin (catin) di KUA Tenggarong menunjukkan pola yang cukup dinamis, mengikuti momen-momen tertentu dalam kalender keagamaan dan sosial. Puncak tertinggi terjadi pada bulan Juni dengan total 99 pasangan yang mendaftar, diduga kuat berkaitan dengan musim haji yang kerap dianggap waktu baik untuk melangsungkan pernikahan.
Memasuki awal tahun, aktivitas pernikahan sudah terlihat ramai. Pada Januari tercatat 75 pasangan mendaftar, disusul Februari dengan 76 pasangan, menunjukkan antusiasme masyarakat yang tinggi untuk menikah di awal tahun.
Bulan Haji Tahun Ini Diprediksi Banyak yang Menikah
Namun, angka tersebut turun drastis pada bulan Maret, yang hanya mencatat 15 pasangan. Penurunan tajam ini terjadi karena bertepatan dengan bulan Ramadan, di mana masyarakat cenderung menunda pelaksanaan pernikahan.
Memasuki semester kedua, jumlah pendaftaran kembali menunjukkan kestabilan. Pada September tercatat 52 pasangan dan Oktober 50 pasangan, mencerminkan tren yang relatif konsisten di kisaran 50-an pasangan per bulan.
“Kalau yang mengalami peningkatan itu mayoritas di Kukar ada bulan-bulan tertentu. Paling banyak itu justru di bulan-bulan haji. Tahun lalu paling tinggi di bulan Juni sebanyak 99 pasang,” ujar Naryanto saat ditemui di kantornya, Rabu (1/4/2026).
Peran Tradisi Lokal
Naryanto mengamati akan lonjakan di bulan Syawal memang terjadi karena adanya “jeda” selama Ramadan, di mana masyarakat cenderung menunda pernikahan. Namun, daya tarik bulan Zulhijah (Bulan Haji) dan bulan Rabiul Awal (Bulan Maulid) tetap tak tergoyahkan.
“Sepertinya faktor tradisi lokal. Masyarakat masih sangat kuat memegang prinsip mencari ‘Bulan Baik’. Menurut kepercayaan, bulan haji dan bulan maulid adalah waktu yang paling baik untuk melaksanakan hajatan besar seperti pernikahan,” tambahnya.
Memasuki kuartal pertama tahun 2026, tren pernikahan di KUA Tenggarong menunjukkan pola yang tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Januari 2026, jumlah pernikahan tercatat sekitar 70 pasangan, hampir menyamai capaian pada periode yang sama di tahun 2025, menandakan minat menikah di awal tahun masih cukup tinggi.
Namun, angka tersebut mulai mengalami penurunan pada bulan Februari dengan 47 pernikahan, lalu kembali turun di Maret menjadi 30 pernikahan. Penurunan ini masih dipengaruhi oleh faktor musiman, terutama mendekati bulan Ramadan, di mana masyarakat cenderung menunda rencana pernikahan.
Sementara itu, memasuki periode pasca-Lebaran atau bulan Syawal, mulai terlihat peningkatan kembali. Hingga saat ini, sudah tercatat sekitar 20 pasangan yang mendaftar untuk melangsungkan pernikahan setelah hari raya, mengindikasikan kebangkitan kembali aktivitas pernikahan setelah masa Ramadan.
Meskipun bulan Maret dan April 2026 diprediksi akan mengalami penurunan karena faktor kalender hijriah, pihak KUA memprediksi ledakan pendaftaran akan kembali terjadi saat memasuki musim haji mendatang.
Pihak KUA Tenggarong mengimbau kepada para catin agar melakukan pendaftaran setidaknya 10 hari kerja sebelum hari H, terutama di bulan-bulan favorit tersebut, guna memastikan ketersediaan jadwal penghulu dan kelengkapan administrasi.
Laporan: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com








