TENGGARONG – Selama puluhan tahun, produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) “Tuah Bumi” telah menjadi bagian dari konsumsi masyarakat Kutai Kartanegara (Kukar). Namun, masih banyak anggapan keliru di tengah masyarakat bahwa air kemasan produksi anak perusahaan Perumda Tirta Mahakam ini bersumber dari air Sungai Mahakam.
Humas Perumda Tirta Mahakam, Hendri, meluruskan persepsi tersebut saat ditemui di pabrik AMDK Tirta Mahakam, Kamis (30/4/2026). Ia menegaskan bahwa sejak berdiri sekitar tahun 2018 sekitar 5 tahun yang lalu, Tuah Bumi murni menggunakan sumber alami.
Hendri menyebut bahan baku Tuah Bumi diambil langsung dari sumber mata air di wilayah L3, Kecamatan Tenggarong Seberang. Air tersebut dibawa menggunakan tangki kapasitas 5.000 liter untuk kemudian difilter kembali di pabrik sebelum masuk tahap produksi.
“Banyak yang mengira kami ambil dari air Mahakam karena diproduksi PDAM. Padahal tidak, kami ambil dari mata air L3. Tidak ada bahan kimia sama sekali, murni filtrasi mata air. Dari segi rasa dan kualitas, kami berani bersaing dengan kompetitor merek nasional,” tegas Hendri.
Saat ini, pabrik yang beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WITA ini mampu memproduksi rata-rata 200 dus air kemasan gelas per hari. Untuk kemasan botol 330 ml, kapasitas produksi berada di angka 50 hingga 70 dus sesuai pesanan.

Adapun harga yang ditawarkan cukup kompetitif:
Kemasan Gelas: Rp20.000 per dus.
Kemasan Botol 330 ml: Rp30.000 per dus.
Kemasan Galon: Rp10.000.
“Sejauh ini kami melayani wilayah Tenggarong melalui koperasi PDAM dan warung-warung. Permintaan paling tinggi biasanya untuk acara atau event masyarakat,” tambahnya.
Berharap Dukungan Pemkab Kukar
Meski memiliki kualitas yang mumpuni, Hendri menyayangkan belum adanya kolaborasi resmi dengan instansi pemerintah daerah untuk penggunaan produk lokal ini dalam kegiatan kedinasan.
Dirinya berharap Pemkab Kukar, terutama bupati Kukar, dapat mendorong kebijakan penggunaan produk lokal dalam setiap acara pemerintah.
“Harapan kami, jika ada event atau acara di dinas-dinas, pakailah produk lokal Tuah Bumi. Dampaknya otomatis pendapatan meningkat, dan hasilnya bisa kami kembalikan lagi ke PDAM sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kami sangat siap bersaing,” harapnya.
Di sisi lain, Hendri mengakui keterbatasan alat menjadi tantangan untuk ekspansi pasar yang lebih luas. Mesin produksi yang ada saat ini belum mampu memenuhi skala besar. Jika dilakukan peremajaan atau penambahan alat, kapasitas produksi diyakini bisa meningkat hingga dua kali lipat.
“Saat ini produksi dan permintaan masih sebanding. Namun, jika ingin menyebar lebih luas ke seluruh pelosok Kukar, kami butuh dukungan penambahan alat agar pelayanan bisa lebih cepat,” pungkasnya.
Laproan: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com








