El Nino Menguat, Kemarau di Samarinda Diperkirakan Bisa Sampai Oktober

citra satelit
citra satelit

Mediaetam.com,Samarinda – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kota Samarinda memperkirakan musim kemarau, baru berakhir pada akhir Agustus sampai Oktober.

Prakirawan BMKG Kota Samarinda Wiwik Indasari Azis mengungkapkan belakangan El Nino menguat. Sehingga berdampak pada curah hujan dan cuaca saat ini.

Bacaan Lainnya

“El Nino tetapi masih berstatus lemah. Namun perkiraan pada Semester 2 tahun ini akan memasuki El Nino moderat,” jelas Wiwik, saat Mediaetam mewawancarainya, Jumat (4/8).

Foto : Wiwik Indasari Azis Prakirawan BMKG Kota Samarinda Saat Ditemui di Kantor BMKG Kota Samarinda . (Mujahid, Mediaetam.com)
Foto : Wiwik Indasari Azis Prakirawan BMKG Kota Samarinda Saat Ditemui di Kantor BMKG Kota Samarinda . (Mujahid, Mediaetam.com)

Suhu Makin Panas

Maka jangan heran, jika curah hujan seminggu terakhir tidak tercatat sama sekali. Kisaran suhu memasuki bulan Agustus ini pun berada pada 35,8 derajat celcius.

“Itu sudah termasuk suhu tertinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya di wilayah kota Samarinda,” sambungnya.

Wiwik pun menambahkan, musim kemarau ini telah memunculkan beberapa titik api. Data yang mereka peroleh sudah mencapai 236 titik. Berau sebagai daerah dengan titik api tertinggi yang mencapai 59 titik. Selanjutnya, Kutai Kartanegara 48 titik, Kutim 57 titik, dan  Mahakam Ulu 43 titik. Terakhir, Paser tercatat ada 11 titik, dan Balikpapan 2 titik.

Kekhawatiran sempat mencuat, soal kondisi bakal parah seperti kabut asap dan kebakaran hutan pada 2015 lalu. Namun, Wiwik menepisnya. Hanya saja, dia tak menampik jika dalam tiga tahun terakhir, kemarau kali ini cukup parah.

“Karena secara khusus wilayah Samarinda maupun Kaltim dalam 3 Tahun terakhir ini hanya mengalami musim kemarau pada kisaran 2-3 bulan, dan untuk tahun ini diperkirakan paling lama bisa mencapai 4 bulan,” jawabnya 

Dengan kondisi sekarang Wiwik pun mengimbau masyarakat  bijak menggunakan air bersih. Hemat air dan usahakan menampung air bersih. Tak lupa masyarakat mesti menghindari membuka lahan dengan cara membakar maupun membuang puntung rokok sembarangan. Sehingga, bisa menghindari potensi kebakaran hutan dan lahan yang cukup tinggi. Khususnya, musim kemarau ini. (Mujahid)

Baca Juga: Intrusi Air Laut Sudah Masuk Mahakam, Warga Anggana Bersiap

Bagikan:

Pos terkait