TENGGARONG, Mediaetam.com – Salah satu momen perayaan Erau yang banyak dinanti keluarga kesultanan ada pada Prosesi Bepelas malam ke VI. Pada malam ke enam itu ada prosesi seluang mudik yang berlanjut dengan belimbur beras.
Momen ini selalu meriah. Sebab, baik keluarga kesultanan maupun undangan akan mengikuti prosesi melempar beras. Ritual ini melambangkan rasa syukur atas anugerah kemakmuran pangan yang diberikan Sang Pencipta kepada Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Beras digunakan sebagai alat melempar karena merupakan makanan pokok masyarakat Kutai. Selain sebagai wujud rasa syukur, melalui ritual ini, diharapkan hasil panen masyarakat akan semakin meningkat di masa yang akan datang.
Prosesi Bepelas malam ke VI yang diwarnai dengan seluang mudik, selanjutnya diakhiri dengan saling belimbur beras berlangsung penuh kegembiraan. Malam Seluang Mudik sangat digemari oleh kerabat keraton dan undangan yang hadir, ratusan yang ikut hadir untuk mengikuti prosesinya yang berlangsung di Keraton (Museum Mulawarman).
Pada acara Bepelas seperti biasanya diiringi suara ledakan meriam, pada Bepelas malam keenam tersebut suara ledakan terdengar sebanyak enam kali. Ledakan tersebut terjadi setiap kali Sultan H Adji Muhammad Arifin menginjakkan kaki kanannya di atas gong Raden Galuh yang menjadi rangkaian prosesi adat Bepelas. (Advertorial)








