Mediaetam.com – Setelah wisata pantai nya yang hits di kalangan Kukar dan sekitarnya, Muara Badak dilirik menjadi sentra industri rumput laut. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar Arfan Boma Pratama mengatakan, Ia tertarik melihat kondisi saat ini permintaan tepung glacilorta rumput laut sangat tinggi.
Di Muara Badak, usia tanam dan areal lahan budidaya serta kondisi alam sangat mendukung untuk pengembangan budidaya rumput laut gracilorta. Namun, belum ada pabrik ( hilirisasi industri ) yang menampung hasil panen.
Dengan hilirisasi, juga bakal ada potensi untuk membuka lapangan kerja baru serta adanya perusahaan BUMD yang bisa bermitra untuk tata kelola niaga.
Namun, yang menjadi pokok atau akar permasalahan pembangunan pabrik pengolahan rumput laut gracilarla adalah lokasi pabrik.
“Jadi, lokasi pabrik pengolahan harus strategis dan dekat dengan sumber bahan mentah, akses jalan darat bisa dilalui oleh kendaraan besar pengangkut bahan baku dan hasil pengolahan,” jelasnya.
Dia pun sudah membentuk pengurus Tim kerja Mantra Tricilinengah Larut ” dengan surat Keputusan Bupati. Dalam jangka panjang, pembangunan infrastruktur akan terus didorong. Seperti jaringan komunikasi kelompok IKM pengelolaan rumput laut, kelompok petani rumput laut, penampung hasil panen rumput laut dan jaringan pasar. Membangun kemitraan dengan pemangku kepentingan atau stakeholder melalui berbagai kegiatan, melakukan kegiatan promosi melalui media sosial, media elektronik dan lainnya.
Sehingga, bisa meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat atau stakeholder yang terkait dalam pengelolaan rumput laut, mudahnya informasi terkait hasil panen rumput laut.Adanya insudtri yang menggunakan bahan baku rumput laut sangat berkesinambungan dan dapat berkreasi.
Pihaknya berencana 2024 nanti, pabrik pengolahan rumput laut di Kecamatan Muara Badak sudah berdiri. Boma berharap dukungan dari Dinas instansi terkait, seluruh stakeholder , dunia usaha dan beberapa pemangku kepentingan sehingga pabrik tersebut bisa berjalan sesuai yang diharapkan, dan kepada 18 kelompok petani rumput laut agar lebih aktif lagi meningkatkan produksinya demikian juga kepada kelompok tani nelayan lainnya
“Mari kita bersama sama meningkatkan produktivitas. Pangsa pasarnya sudah jelas, harga lebih tinggi. Dulu berkisar dari empat ribu atau empat ribu lima ratus rupiah, sekarang menjadi enam ribu rupiah perkilonya,” papar Arfan Boma.
Pembangunan pabrik pengolah rumput laut menurut rencana akan dibangun di Jalan PLN Desa Muara Badak Ulu. Pabrik ini tidak hanya mengakomodir kelompok tani saja. Namun juga bagi masyarakat petani rumput laut di wilayah Kukar dan sekitarnya. Program ini juga sejalan dengan program Kukar Idaman dan hilirisasi industri rumput laut. (Advertorial)








