Good Time to Say Goodbye, Urusan Stefano Lilipaly dan Borneo FC Memang Sudah Selesai

Stefano Lilipaly bergabung ke Dewa United dengan status pinjaman sampai kontraknya di Borneo FC habis. (IG/Stefanolilipaly/Dewaunited)

Borneo FC telah memberikan segalanya pada Stefano Lilipaly untuk menyelesaikan ‘masalah pribadinya’. Sebaliknya, Fano pun memberi terlalu banyak pada Pesut Etam. Maka perpisahan keduanya saat ini adalah pilihan terbaik yang bisa diambil. Good time to say goodbye.

Bagaikan Manchester United dan Liverpool. Bali United dan Borneo FC adalah rival alami dalam sepak bola. Setiap pertandingan yang mempertemukan kedua tim selalu panas. Perselisihan dan kartu merah adalah hal biasa dalam laga-laga yang melibatkan wakil Bali dan Kaltim itu.

Bacaan Lainnya

Bedanya, rivalitas Man United dan Liverpool alasannya jelas. Yakni faktor ekonomi dan sosial masyarakat Kota Livepool dan Manchester. Permusuhan masyarakat kedua kota itu, merambat ke urusan sepak bola. Tradisi permusuhannya berlangsung hingga kini, sudah lebih seabad.

Sementara rivalitas antara Bali United dan Borneo FC murni urusan sepak bola. Karena masyarakat Samarinda dan Bali akur-akur saja, tak pernah punya sejarah gesekan.

Satu-satunya benang merah yang bisa membenarkan adanya sejarah rivalitas kedua tim adalah asal daerah. Ya, Bali United dulunya adalah Persisam Putra Samarinda. Tim legendaris Kota Samarinda di era APBD. Sejak sepak bola Indonesia berganti sistem menjadi profesional, Persisam Putra kolaps, hingga memilih merger dengan Bali United. Sedangkan Borneo FC adalah tim yang ‘menggantikan peran dan kehadiran Persisam di Samarinda. Hanya itu irisannya. Memang tak cukup kuat untuk menjadi ihwal munculnya rivalitas sih.

Stefano Lilipaly Menjadi Anomali

Perpindahan pemain dari satu tim ke tim lain sudah biasa terjadi di sepak bola. Itu terjadi pula pada Borneo FC dan Bali United. Namun sedikitnya, ada 3 perpindahan ‘seru’ yang melibatkan kedua tim. Pertama adalah perpindahan Nadeo Argawinata ke BU. Nadeo dibina sedari junior oleh Pesut Etam. Ia mulai naik kelas di pertengahan musim 2017/18, ketika M. Ridho mendapat cedera. Di akhir musim, Ridho hengkang ke MU, sehingga otomatis Nadeo naik menjadi kiper utama di musim 2018/19. Tapi hanya berlangsung 19 pertandingan, setelahnya, ia lebih banyak menghabiskan waktu di Timnas Indonesia, menjadi fenomenal di sana sampai mendapat julukan Kepa. Sekembali dari timnas, ia dibeli Bali United. Ya, dibeli. Namun nilainya dirahasiakan.

Kedua, adalah perpindahan Lerby Eliandry. Waktunya bersamaan dengan perpindahan Nadeo. Namun saat itu, muncul rumor bahwa manajemen Borneo FC ingin memperpanjang kontrak sang pemain. Ingin tetap menjadikannya sebagai ikon lokal. Namun Lerby memilih menerima pinangan Bali United karena ingin mencari petualangan baru dan beberapa hal lainnya.

Ketiga, ya perpindahan Stefano Lilipaly dari arah sebaliknya. Pada 2022 lalu, Fano secara dramatis meninggalkan Bali United yang pernah ia bawa menjuarai Liga 1 sebanyak 2 kali. Muncul kabar bahwa manajemen Bali masih ingin memperpanjang kontrak Fano, namun persoalan internal membuatnya pergi dan menerima pinangan Borneo FC.  

Dari ketiga perpindahan ‘seru’ ini, yang akhirnya menjadi cerita panjang hanyalah perpindahan Stefano Lilipaly. Sebabnya, Fano pergi dari Bali karena pada usianya yang ke-32 tahun, ia dianggap ‘Sudah Habis’. Namun ternyata ia justru menggila di klub Samarinda. Pada 2 musim pertamanya, ia bermain 75 kali di semua ajang, mencetak 22 gol dan 29 asis di semua ajang. Untuk seorang winger, catatan itu sangat luar biasa.

Di Borneo FC, Fano menjelma menjadi monster. Mendapatkan ‘prime’ keduanya, tepat saat dia dianggap ‘Sudah Habis’.

Bali United Adalah Cinta Sejati Stefano Lilipaly

Fano sangat mencintai Pulau Bali. Ia memiliki properti di sana, ketika pensiun kelak, ia hanya ingin tinggal di Bali. Bukan Samarinda, Jakarta, ataupun balik ke Belanda.

Bali United sendiri adalah cinta sejatinya. Sebagai seorang pesepakbola profesional, Fano mendapatkan kejayaannya saat membela Serdadu Tridatu. Maka tak heran ia begitu mencintai klub tersebut.

Tapi level tertinggi sakit hati adalah ketika dikhianati oleh sang cinta sejati. Itu lah yang terjadi pada Fano dan Bali United. Akhir dari cerita Stefano Lilipaly dengan Bali United berakhir begitu buruk. Perceraian yang meninggalkan amarah besar. Stefano dianggap ‘Sudah Habis’ ketika dirinya masih merasa bisa bersaing di level tertinggi pada usianya yang sudah tergolong senja untuk seorang pesepakbola.

Pada masa sakit hatinya, Borneo FC memberikan bahu untuk bersandar. Sisanya menjadi sejarah. Stefano Lilipaly menjadi legenda Borneo FC hanya dalam 3 musim, karena kontribusi luar biasanya.

Menjadi Garam di Tengah Rivalitas Bali United Vs Borneo FC

Fano adalah sedikit dari pemain naturalisasi asal Belanda yang fasih berbicara bahasa Indonesia. Meski aksen ‘Baratnya’ masih kental, tapi dia benar-benar fasih berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Komunikasi publiknya juga cukup memadai. Bukan tipe pemain yang hanya bisa bilang, “Seluruh pemain akan bermain sekuat tenaga dan memberi yang terbaik.” Dia cukup berani mengomentari beberapa hal teknis maupun humanis.

Karenanya, ia sering terlibat dalam sesi konferensi pers ataupun wawancara model lainnya. Ia nyaman dan pandai membawa diri di depan kamera. Namun ada 2 kata yang ketika ia dengar, langsung membuat darahnya mendidih. Yakni ‘Bali United’.

Sebenarnya Fano tak pernah benar-benar membicarakan konfliknya dengan klub tersebut. Dan apa pula yang membuatnya selalu menjawab pertanyaan apapun tentang ‘Bali United’ dengan lugas dan tatapan nanar.

Tapi selalu seperti itu. Ketika diminta mengomentari tentang Bali United, Fano masih berbicara baik, kadang sedikit nakal, tapi mukanya jadi agak kemerahan. Seperti sedang menahan amarah yang tak ingin ia bagikan.

Di satu momen pada 3 April 2023, Borneo FC menjamu Bali United di Stadion Segiri. Pertandingan berlangsung sore hari, tapi panasnya bukan main. Namun pertandingan berjalan tidak seimbang. Sampai menit ke-49, Pesut Etam sudah unggul 4-1 dari tamunya.

Pada menit ke-69, Stefano siap-siap mengambil tendangan bebas. Dari Tribun Timur, ribuan manusia berkaos jingga menyanyikan sebuah chant.

Stefano Lilipaly

Stefano Lilipaly

Stefano … Stefano …  Stefano … Lilipaly

Lalu pada menit ke-69.46, tepat ketika chant selesai dinyanyikan dan wasit meniup peluit. Bola hasil tendangan kaki kanan meluncur deras ke gawang Muhammad Ridho. Bukan gol kemenangan, ya kan sudah unggul 4-1 sebelumnya.

Tapi itu adalah gol terpenting di laga itu. Karena yang mencetak adalah Stefano. Diawali dengan chant ‘Stefano Lilipaly’, bukti cinta, dukungan, dan kepercayaan supporter Borneo pada Fano. Diakhiri dengan selebrasi menempel kedua tangan di telinga dan gesekan telapak tangan di antara dada dan leher. Yang artinya kurang lebih, “Mana? Saya mau dengar yang pernah bilang saya sudah habis.”

Bukan sekali selebrasi, tapi 2 kali. Sekali di tengah lapangan, dan sekali lagi di tepi, tepat di depan bangku cadangan Bali United. Aksi itu memicu keributan, disinyalir sebagai psy war Fano pada pelatih BU saat itu, Teco.

Itu hanyalah satu dari sekian hal yang dilakukan Fano untuk menabur garam pada goresan rivalitas antara Bali United dan Borneo FC. Dia bukan hanya menjadi legenda, tapi juga memberi warna yang mencolok pada rivalitas kedua klub. Bahkan rasanya, Fano adalah satu-satunya pemain Borneo yang berani terang-terangan membuat psy war pada BU. Memang sosok yang spesial.

Si ‘Sudah Habis’ Jadi Tulang Punggung

Sudahi dulu cerita segitiga antara Fano, Bali United, dan Borneo FC. Mari kita kembali fokus pada cerita yang dibuat Fano di klub asal Samarinda.

Beberapa musim terakhir, Borneo FC dikenal sebagai tim papan atas –penantang juara. Ini tak lepas dari sumbangsih besar Stefano Lilipaly. Musim 2022/23, di mana untuk pertama kalinya Pesut Etam finis di 4 besar, Fano adalah aktor penting klub. Ia –bersama Jonathan Bustos- menjadi pelayan terbaik Matheus Pato, sekaligus menjadi pencetak gol ulung. Total Fano membuat 12 gol dan 12 asis di semua ajang pada musim tersebut. Itu adalah catatan paling impresifnya selama bermain sepak bola.

Di musim berikutnya, Pato pergi ke China setelah bermain 3 kali. Bustos pun sudah hengkang ke PSS. Ia kehilangan 2 rekan pentingnya. Felipe Cadenazzi yang didatangkan di ujung bursa transfer untuk menggantikan Pato, menghabiskan 11 pertandingan dengan hanya membuat 1 gol.

Itu adalah periode paling kacau karena kepergian mendadak Pato. Ditambah saat itu Pelatih Pieter Huistra bereksperimen pada taktik. Mengubah pakem 4-3-3 menjadi 4-2-1-3. Tanpa playmaker ulung, taktik baru ini sulit sekali dijalankan.

Di masa sulit itu, Borneo FC akhirnya masih bisa bertahan dengan mencatatkan 11 kemenangan, 4 imbang, dan 2 kali kalah hingga setengah musim –bursa transfer dibuka lagi.

Yang membuat Pesut Etam masih tangguh meski susah payah adalah Stefano Lilipaly. Dibantu tandemnya –Adam Alis, Fano membuat 6 gol dan 7 asis dalam periode itu. Fano benar-benar menggendong tim selama setengah musim itu.

Melewati Periode Terindah di Borneo FC

Baru pada November, tepat saat bursa transfer tengah musim dibuka. Borneo FC mendapatkan Wiljan Pluim, dan secara ajaib, Felipe Cadenazzi membuat seluruh (6) gol Borneo di periode November.

Sisanya menjadi luar biasa, Felipe mendadak gacor. Pluim yang jadi kepingan terakhir pada puzzle taktik Huistra. Sihran dan Fajar yang padu di sisi kanan, Leo Guntara yang menjadi penopang Fano di sisi kiri. Duet Hirose-Adam Alis yang solid di tengah, serta kokohnya duet Lelis-Silverio dan Nadeo di lini belakang.

Para pemain di atas, adalah kombinasi pemain terbaik Borneo sepanjang sejarah klub, sejauh ini. Menjalani 12 laga dengan raihan 11 kemenangan dan 1 hasil imbang. Membawa Borneo FC kokoh di puncak klasemen.

Sayangnya meski memuncaki klasemen total 21 pekan, Borneo FC hanya finis di peringkat ketiga, karena kompetisinya memakai format championship series. Alias 4 besar dari reguler series, kembali diadu dalam format turnamen. Borneo FC keok dari Madura United di semifinal, Persib yang finis di peringkat kedua dengan selisih 8 poin, justru menjadi juara berkat format tersebut. Tapi di luar urusan format, Borneo FC sendiri sudah menunjukkan penurunan performa di akhir reguler series. Sang pemuncak klasemen menghabiskan 5 laga terakhir dengan 1 hasil imbang dan 4 kekalahan beruntun. Penyebabnya adalah badai cedera.

Lelis cedera lebih dulu pada pergantian tahun, disusul Agung Pras, Wiljan Pluim, dan Stefano Lilipaly. Tim ini, tanpa kehadiran Fano dan Pluim dalam kondisi bugar, benar-benar kehilangan nyawa.

Cedera dan ‘Pembuktian’ Mengakhiri Kisah Fano-Borneo Lebih Cepat

Pada 2024, Stefano Lilipaly sepakat memperpanjang kontraknya hingga 2026. Jika mengacu pada kontrak, harusnya Fano masih harus menghabiskan satu musim di Pesut Etam musim depan (2025/26).

Tapi ada 2 hal yang membuat perpisahan keduanya berlangsung lebih cepat, yang justru adalah keputusan terbaik yang bisa diambil. Emm, sabar, ntar diceritain.

Ingat cerita di atas? Fano mendapat cedera lumayan serius pada Maret 2024. Hal yang membuat kans Borneo menjadi juara menipis lalu benar-benar pupus.

Cedera yang didapat pada pekan ke-29 Liga 1 musim 2023/24 itu perlu waktu berbulan-bulan untuk pemulihannya. Sampai memasuki musim 2024/25, Fano –sebenarnya sudah lepas dari cederanya, namun membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengembalikan performanya.

Stefano, dalam kepayahannya mengembalikan performa terbaiknya, bermain di 19 laga dengan torehan 4 gol dan 4 asis. Tidak terlalu buruk, tapi jelas bukan standarnya. Di periode tersebut, bukan Fano lagi tulang punggung Borneo, melainkan Mariano Peralta (yang terus dipaksa menjadi pahlawan penyelamat, persis seperti situasi Fano di setengah musim 2023/24).

Sang kapten kedua baru mulai menunjukkan ketajamannya lagi pada pekan ke-15 hingga 19, dengan torehan 3 gol dan 1 asis dari 4 laga. Tapi dipaksa masuk ruang perawatan lagi setelah itu. Dari akhir Januari hingga awal Mei 2025, Fano hanya bermain 2 kali dengan total 62 menit. Sisanya ia habiskan di tempat pemulihan cedera.

Fano akhirnya kembali ke Samarinda pada Mei 2025, kembali bergabung dengan tim. Sempat ada perayaan kecil pada momen kembalinya sang fenomenalis. Ia bermain di 3 laga terakhir, tidak pernah penuh, karena memang belum 100 persen fit. Dari 3 laga itu, ia membuat 2 gol. Penampilan di laga terakhir adalah performa terbaiknya dari seluruh laga musim lalu. Di momen gol terakhirnya itu, Fano yang tampil dengan setelan rapi, melakukan selebrasi kecil. Mengangkat tangan tanda syukur pada Tuhan, dan menepuk logo Borneo FC di jerseynya. Itu adalah selebrasi perpisahan sang legenda.

Good Time to Say Goodbye

Bursa transfer musim ini menjadi waktu yang sibuk buat manajemen Borneo FC. Mereka melepas cukup banyak pemain. Satu di antaranya adalah Stefano Lilipaly.

Kepergian Fano seharusnya menjadi berita besar, namun tidak seberapa karena rumor perpindahannya sudah bocor sekitar sebulan sebelum diumumkan, sehingga faktor keterkejutannya berkurang.

Meski begitu, kepergian Fano tetap menjadi kesedihan mendalam. Masih ada sedikit ketidakrelaan, walau tahu, perpisahan ini adalah hal terbaik.

Selama 3 musim di Borneo FC, Fano mendapat dukungan besar dari klub dan supporter. Membuat misi pembuktiannya berhasil. Bahkan keberhasilannya di luar ekspektasi. Sebalinya, Fano yang bermain total di 108 laga dengan sumbangsih 29 gol dan 36 asis, membawa Pesut Etam merasakan pengalaman yang sebelumnya belum pernah diraih, yakni menjadi tim papan atas.

Ini adalah hubungan timbal balik yang sempurna. Tapi kehidupan tak hanya berputar di keliling Fano dan Borneo saja. Borneo FC punya kehidupan lain yang melibatkan lebih banyak individu, begitu juga dengan Fano yang punya target pribadi.

Jika melihat aktivitas transfer kali ini, Borneo FC tampak lebih efisien dalam hal biaya. Tak ada nama besar yang masuk. Sebaliknya, dari 11 pilar Borneo FC pada musim 2023/24, hanya menyisakan 4 nama saja. Pesut Etam pada musim 2025/26 akan menjadi tim baru dengan lebih banyak pemain muda. Belum terkonfirmasi (sehingga belum valid), tapi tampaknya, Borneo sedang melakukan project restart.

Borneo FC dan pendukungnya tidak mencap Fano sudah habis. Tapi secara logis, karier Fano sudah tak lama lagi, mengingat usianya kini sudah 35 tahun. Ia harus berada di ekosistem terbaik untuk menutup karier.

Dewa United adalah klub terbaik untuk situasi Fano. Dengan sumber dana raksasa, mudah bagi DU memberi bayaran besar untuknya. Bagi seorang profesional, gaji besar di periode pra-pensiun adalah idaman. DU yang bertabur bintang juga bisa mengajak Fano pada hal-hal besar, misalnya bersaing pada jalur juara Liga 1 musim depan, atau melaju jauh di kompetisi Asia. Kans menjadi juara liga di akhir karier, siapa yang tak mau? Hal ketiga, di dalam tim bertabur bintang, Fano bisa sedikit ‘bersantai’. Ia tinggal mengikuti arus, bermain bagus tapi bukan jadi tulang punggung. Terakhir, jika ia mampu bermain baik di tim yang melaju baik di kompetisi, kansnya membela timnas kembali terbuka. Bagi Stefano Lilipaly, membela Timnas Indonesia adalah segalanya. Ia akan melakukan semua hal untuk berada di timnas.

Kesimpulannya ….

Fano butuh akhir baik, sedangkan Borneo FC sedang memulai ulang sesuatu yang baik. Ini adalah situasi di mana keduanya tidak bisa dipaksakan bersama.

Karena jika pun dipaksakan bersama, Fano dan Borneo bisa jadi sama-sama tidak mencapai tujuan masing-masing. Dan perpisahan pada Juni 2026, justru menjadi tidak baik.

Karenanya, mending berpisah sekarang. Keduanya bisa melangkah ke arah masing-masing, dan terus bisa mengenang semua hal indah dari 3 musim yang berlalu. Ya, seluruh musim Fano Lilipaly di Pesut Etam adalah hal indah. Dan selamanya, Samarinda adalah rumah kedua bagi Fano, setelah Bali, uhuk. Rumah yang selalu menyambutnya dengan senyuman, rumah yang selalu mengingatkan pada momen-momen menyenangkan.

Rumah yang dulu menyambutnya dengan hangat, dan kini melepasnya dengan senyum –bukan dendam.

Bagikan:

Pos terkait