Borneo FC Idap Penyakit Fragile Mentality

CARI OBATNYA: Ilustrasi Fabio dan Dandri Dauri mencari penyebab kemunduran permainan Borneo FC dan menentukan obat penyembuh yang tepat. (IST)

Ada banyak faktor yang menjadi penyebab melempemnya Borneo FC Samarinda belakangan ini. Satu di antaranya adalah Fragile Mentality. Hal ini patut menjadi sorotan karena menjadi antitesis dari filosofi Manyala.

Oleh: Ahmad A. Arifin (Dang Tebe) –Pengamat Borneo FC

Bacaan Lainnya

Awan kelabu terus menaungi langit Samarinda. Sejak kalah dari Bali United di Segiri pada 30 November lalu, Borneo seperti ketagihan tidak menang pada 3 laga berikutnya, termasuk saat melawat ke markas Malut United, Minggu sore tadi.

Kumpulan poin dari 11 kemenangan beruntun sejak awal kompetisi pun kini tak cukup lagi membuat mereka bersaing. Alih-alih jaraknya terpangkas, saat ini bahkan sudah dilewati oleh Persib, dan terancam digusur oleh Malut dan Persija.

Di empat laga terakhir, Pesut Etam mengalami 3 kekalahan dan 1 kali imbang. Mencetak 5 gol, kebobolan 8 kali.

Pada 11 laga sebelumnya, Borneo adalah tim yang tidak pernah kalah ataupun imbang, paling subur, dan paling sedikit kebobolan. Namun setelah 4 laga berlalu, satu-satunya yang tersisa hanyalah status klub paling gacor sejauh ini (29 gol dari 15 laga).

Pertahanan yang dijaga ketat Nadeo Winata –yang awalnya adalah kebanggaan Pesut Etam sekaligus jadi faktor paling besar dari 11 win streak. Kini telah terkoyak.

Nadeo masih tangguh seperti biasa, tapi rasio kebobolannya sungguh miris. Sebelumnya kebobolan 5 kali dalam 11 laga, kini kebobolan 8 kali dalam 4 laga. Rasionya dari awalnya kebobolan sekali dalam 2-3 laga. Menjadi kebobolan 2 kali per laga. Ini menunjukkan ada yang salah dalam organisasi pertahanan Pesut Etam.

Fragile Mentality

Jika berbicara tentang penyebab kemunduran permainan Pasukan Samarinda dalam 4 laga terakhir, jawabannya banyak sekali. Yang paling dominan adalah tidak tersedianya pemain pelapis yang sepadan dengan pemain utama.

Itu adalah penyebab yang sangat terang, diketahui oleh semua orang, dan mungkin telah direspons oleh manajemen dengan merencanakan sejumlah pendatangan di bursa transfer tengah musim.

Namun dalam sudut pandang saya, ada lagi satu persoalan prinsipal yang harus dievaluasi oleh tim kepelatihan. Yaitu mentalitas.

Saya menyebutnya Fragile Mentality. Ialah situasi di mana pemain Borneo selalu gagal mempertahankan ritme permainan ataupun skor ketika unggul.

Borneo membuat 5 gol dalam 4 pertandingan terakhir. Menariknya, Borneo juga 5 kali unggul dalam pertandingan-pertandingan itu. Artinya, setiap kali Borneo mencetak gol, itu memberi keunggulan buat mereka.

Rinciannya, gol pembuka kontra Persib dari Joel Vinicius –yang kemudian dibalas dengan 3 gol sekaligus oleh Maung Bandung. Lalu gol pertama kontra Persebaya yang dicetak Juan Villa, dibalas semenit kemudian oleh lawan. Unggul lagi di babak kedua lewat gol bunuh diri Lelis, tapi di menit ke-89, Malik Risaldi membuat Borneo harus pulang dengan 1 poin.

Lanjut ke laga melawan Malut, Juan Villa kembali membawa Borneo unggul cepat, namun langsung dibalas oleh Da Silva di pertengahan babak pertama. Douglas membuat Borneo kembali unggul di menit ke-55, tapi pertandingan justru berakhir dengan kekalahan 2-3 dari tuan rumah.

Lima gol, lima kali unggul, dan lima kali juga dibalas. Astaga.

Jika sekali dua kali, mungkin kebetulan. Tapi kalau terjadi 5 kali dalam 3 laga, jelas ini ada yang salah.

Dan satu-satunya hal yang paling dekat dengan fenomena ini adalah Fragile Mentality.

Antitesis Filosofi Manyala

Musim ini langkah Borneo sebenarnya cukup mengejutkan. Tidak memiliki skuad fantastis, tapi mampu meraih 11 kemenangan beruntun. Capaian itu melawan sport science. Tapi bisa dimaklumi karena Borneo FC mengusung filosofi Manyala.

Untuk yang belum tahu, Filosofi Manyala adalah prinsip dasar yang diusung Borneo untuk memainkan sepak bola yang berani, berkorban, atraktif, menghibur, dan pantang menyerah hingga detik akhir.

Tapi dalam 3 laga terakhir, yang kita saksikan adalah kebalikannya. Jika antitesis siang adalah malam, lapar-kenyang, sehat-sakit, jatuh-bangun, Bahlil-masyarakat. Antitesis atau perlawanan dari Manyala adalah Fragile Mentality alias mental tempe.

Saatnya Dandri Dauri Mencari Solusi

Persoalan kedalaman skuad akan dirapatkan oleh Ponaryo Astaman dan Fabio Lefundes. Siapa saja pemain yang tersedia di bursa transfer, cocok atau tidak, ada duitnya atau tidak.

Sedangkan soal mentalitas, Dandri Dauri adalah pakarnya. Kini, dalam kondisi krisis mentalitas, terlebih sudah sampai di level antitesis Manyala, Mr. Itu Dia harus mampu mendapatkan solusi praktis untuk membangkitkan jiwa Manyala Pasukan Samarinda.

Waktunya tidak panjang. Mungkin jajaran pelatih dan pemain Borneo harus melupakan rencana pesta Tahun Baru. Karena pada 3 Januari, PSM akan datang ke Segiri.

PSM akan menjadi lawan yang pas untuk menguji mentalitas penggawa Pesut Etam. Karena Juku Eja menjadi tim kuat bukan karena anggaran –kalau ini tahu aja ya kan. Tapi justru konsisten karena mentalitas kedaerahannya. Mirip Manyala, tapi mereka kasih nama ‘Ewako’.

Mampukah Borneo FC mendapatkan obat yang tepat untuk mengobati Fragile Mentality yang mereka idap?

Redaksi Media Etam

Bagikan:

Pos terkait