Melihat dinamika tim pada 4 laga terakhir, satu-satunya hal yang harus dilakukan manajemen Borneo FC Samarinda untuk tetap berada di jalur perburuan juara adalah menghambur-hamburkan uang. Pilihannya hanya … lakukan atau lupakan soal kans juara.
Oleh: Ahmad A. Arifin (Dang Tebe) –Pengamat Borneo FC
Hasil imbang dengan skor 2-2 dari kandang Persebaya, Sabtu malam menjadi validasi bahwa Borneo FC sedang dalam kondisi kritis. Benar-benar kehabisan bensin. Bagaimana tidak, menghadapi tim yang sedang pincang parah saja, Borneo tetap tak mampu meraih poin penuh.
Tiga laga tanpa kemenangan, Pesut Etam kini terancam dikudeta oleh Persija, Persib, bahkan Malut United. Hal itu bisa terjadi jika pekan depan mereka kembali kehilangan poin.
Situasi kritis ini, apakah mengejutkan? Bagi saya tidak sama sekali. Sejak awal musim, saya sudah menduga akan tiba suatu periode di mana Borneo akan mengalami kesulitan. Justru yang membuat saya terkejut karena di luar perhitungan adalah ketika Pesut Etam meraih 11 kemenangan beruntun. Itu sudah di luar nalar, menurut saya.
Kedalaman Skuad Jadi Masalah Utama
Menurut saya, skuad musim ini adalah yang paling ‘murah’ dalam 5 musim terakhir. Saya tidak tahu biaya yang dikeluarkan Borneo untuk membentuk skuad musim ini. Bisa saja total operasional untuk gaji lebih besar dari sebelumnya.
Namun indikator yang saya pakai adalah kedalaman skuad. Dimulai dari barisan pemain utama. Pemain langganan starter Borneo musim ini, bukanlah skuad yang cukup mewah. Bahkan tidak banyak yang masuk Tier 1 Liga Indonesia. Pelapisnya lebih-lebih.
Jika menghapus 11 pemain utama dari daftar, kita akan melihat komposisi pemain Borneo didominasi pemain muda. Lebih mirip skuad EPA ketimbang tim Super League.
Hanya ada 4 posisi yang memiliki pelapis dengan kualitas tidak terlalu jauh. Yakni penyerang sayap kanan (Maicon-Sihran), gelandang bertahan (Rivaldo-Agung), bek tengah kanan (Komang-Baker), dan penjaga gawang (Nadeo-Trisna). Selebihnya masih terdapat perbedaan kualitas yang cukup jauh.
Potensi Masalah
Dengan kedalaman skuad yang seperti itu. Raihan 11 kemenangan beruntun adalah anomali. Kalau bukan karena chemistry, taktik, dan mentalitas yang tepat, hal seperti itu tak akan bisa diraih.
Namun sesuatu yang tidak normal, akan berhadapan pada tantangan konsistensi. Itu lah yang tak bisa dijaga oleh Borneo. Dan inkonsistensi itu sangat normal, karena ada beberapa masalah yang mungkin timbul karena kedalaman skuad tidak memadai. Saya akan jabarkan, dan mari kita lihat, masalah apa saja yang sudah terjadi.
Pertama, tidak ada jaminan seluruh pemain utama selalu menampilkan permainan terbaiknya. Mereka bagaimanapun adalah manusia. Dan setelah beberapa laga berjalan, kunci permainan Borneo ada 3 pemain. Yakni Peralta di lini depan, Juan Villa di lini tengah, serta Nadeo di lini pertahanan.
Jika ketiga pemain ini dalam permainan terbaiknya, Borneo akan baik-baik saja. Sebaliknya jika satu saja tidak maksimal, maka Borneo akan berhadapan pada kemungkinan-kemungkinan terburuk.
Di bawah 3 nama itu, ada Rivaldo, Caxambu, Kei Hirose, Christophe, Komang, dan Fajar yang penampilannya relatif stabil. Sementara pos penyerang kanan dan tengah cenderung tidak stabil. Di posisi penyerang tengah, Fabio harus memainkan Douglas dan Joel bergantian sedari awal laga. Lalu di penyerang kanan, Maicon dan Sihran pun bergantian starter. Bukti ketidakstabilan penampilan dari penghuni posisi tersebut.
Kedua, apabila pemain utama mengalami deadlock, Fabio Lefundes tidak punya opsi pemain yang mampu memberi perbedaan di bangku cadangan. Sehingga ia lebih sering mengandalkan intuisi saat melakukan pergantian pemain yang didasarkan pada kebutuhan taktik.
Ketiga, jika pemain utama mengalami kelelahan ataupun cedera di tengah pertandingan. Pemain pengganti tidak memberi garansi mampu mempertahankan ritme permainan, lebih-lebih menghadirkan dimensi permainan baru yang menguntungkan tim.
Keempat, bila ada pemain utama yang tidak bisa bermain, baik karena cedera, sakit, ataupun suspensi, tak banyak pemain pelapis yang siap bermain sebagai starter.
Apa yang Sudah Terjadi Sejauh Ini
Satu, pemain utama tidak selalu dalam performa positif, baik yang terjadi karena faktor individu maupun dampak taktik lawan. Bahkan 3 pemain terbaik Borneo, yang sudah seperti nyawa permainan mereka, kadang mengalami hari yang buruk juga.
Dua, ketika mengalami kebuntuan permainan, pergantian pemain dengan alasan taktikal kerap tidak efektif.
Tiga, pergantian yang dilakukan secara mendadak karena pemain utama mengalami masalah kebugaran, juga lebih sering tidak efektif.
Terakhir, dalam 2 bulan terakhir, kondisi fisik pemain utama tidak stabil. Rivaldo, Caxambu, Kei Hirose, Douglas, Fajar, Maicon silih berganti mengalami cedera ringan dan gangguan kesehatan (sakit akibat cuaca). Sedangkan Chris dan Rivaldo juga pernah absen karena membela timnas.
Saat pemain utama absen, pemain pelapis kurang ‘IN’ dengan pemain lainnya, sehingga mempengaruhi permainan secara keseluruhan.
Dengan kata lain, semua kemungkinan buruk yang berpotensi terjadi untuk tim dengan kedalaman skuad seperti Borneo FC, telah terjadi semua musim ini.
Krisis sudah mulai terjadi saat Borneo mengalahkan Madura United dengan susah payah di kandang sendiri. Saat itu, Fajar dan Kei bermain dalam kondisi demam. Berlanjut ke pertandingan melawan Bali United, Persib, dan Persebaya.
Dalam 3 laga terakhir, Borneo telah kehilangan 8 poin. Membuat para pesaing kini menempel ketat mereka di puncak klasemen. Keuntungan yang didapat dari raihan 11 kemenangan beruntun kini sudah hampir habis. Pekan depan, Borneo wajib meraih 3 poin dalam lawatan ke kandang Malut United yang sedang on fire, jika ingin menutup tahun 2025 dengan berada di puncak klasemen.
Solusinya Adalah Uang
Melempem di pertengahan musim sudah seperti tren untuk Borneo FC. Pergantian pelatih di masa-masa buruk seperti ini pun sudah sering terjadi. Sampai-sampai, publik sepak bola Indonesia sudah hapal betul tabiat manajemen Borneo yang hobi ganti pelatih di tengah musim, wkwk.
Walaupun terlihat cukup tidak sabaran, setidaknya kebijakan itu, di masa-masa sebelumnya masih masuk akal. Karena sejak musim 2020, Borneo FC memiliki skuad yang cukup bersaing. Sehingga kemunduran permainan lebih disebabkan oleh keputusan taktik dari pelatih.
Musim ini berbeda, saya masih melihat Fabio Lefundes menangani tim dengan cukup baik, terlepas hasil 3 pertandingan terakhir tidak baik. Justru masalah besar yang membuat tangki bensin Borneo belum kunjung terisi adalah kedalaman skuad.
Karena itu, satu-satunya solusi untuk menyelesaikan masalah ini adalah berbelanja di bursa transfer tengah musim. Agar di paruh kedua, Borneo dalam kondisi stabil untuk berjuang di pacuan juara.
Semalam saya bertanya pada rekan-rekan suporter. Pemain di posisi apa yang idealnya didatangkan. Jawabannya: semua posisi kecuali kiper. Menurut suporter, Borneo butuh penyerang baru yang tajam, pelapis Peralta, Kei, Juan Villa, Caxambu, Chris, dan Fajar. Sebanyak itu memang kebutuhan Borneo. Namun menurut saya, manajemen perlu membuat skala prioritas, pos mana saja yang paling urgent untuk segera dipenuhi –jika kondisi keuangan tidak bisa dipaksakan untuk belanja besar. Toh kesediaan pemain bagus di tengah musim juga tidak banyak.
Beberapa jam kemudian, klub mengumumkan kedatangan Marcos Astina. Pemain yang bisa menjadi pelapis Juan Villa dan Peralta sekaligus. Atau mungkin bertandem dengan duo tersebut.
Marcos saja tentu tidak cukup. Dengan raihan poin yang sudah dikumpulkan musim ini, dengan rekor 11 kemenangan beruntun yang diraih. Rasanya manajemen perlu memecah celengan ayamnya –persediaan dana terakhir, untuk berbelanja pemain.
Rasanya, sayang saja jika evaluasi skuad baru dilakukan musim depan. Karena belum tentu bisa meraih 33 poin dari 11 laga pertama lagi. Musim ini adalah momentum bagus untuk meraih bintang pertama.
Menang atau Kalah Kami Mendukungmu
Pada akhirnya, menjalankan klub sepak bola tidaklah mudah. Keputusan berbalanja pemain di bursa transfer tengah musim atau tidak, bukanlah sesuatu yang seperti kita mau beli pentol atau tidak. Itu membutuhkan rapat manajemen yang panjang. Pertimbangan yang mendalam.
Pilihannya hanya, bertaruh besar-besaran, habis-habisan sekalian untuk mengejar titel pertama musim ini. Atau bertahan dengan skuad sekarang demi kestabilan jangka panjang.
Bagi saya dan pendukung lainnya, walaupun sering ngomel-ngomel di sosial media. Kami akan tetap berada di belakang Borneo FC Samarinda, saat menang ataupun kalah.
Tapi, Wal. Masih mengganjal pikiran unda nih. Kok bisa di provinsi yang kaya batubara, minyak, gas, dan kelapa sawitnya ini, cuma PKT doang yang mau sponsorin Borneo FC. Tambahnya sakit hati pas Nathalie Holscher belum lama ini pamer duit sekasur hasil saweran bos-bos Samarinda. Duit itu, kalo aja disawerkan ke Borneo, bisa dapat penyerang baru itu. Huuuhuuu.
Redaksi Media Etam








