Bisnis Lapangan Padel di Swedia dan Chile Ambruk, Investor Indonesia Wajib Waspada

ILUSTRASI: Euforia padel juga melanda megabintang sepak bola Cristiano Ronaldo. (IST)

Ambruknya bisnis lapangan padel di Swedia dan Chile harusnya menjadi peringatan untuk investor Indonesia. Jangan berinvestasi berdasarkan aji mumpung. Karena padel tumbuh pesat akibat tren, bukan jenis olahraga yang secara natural digemari seluruh kalangan masyarakat.

Padel, olahraga raket asal Spanyol yang sempat menjadi tren global, kini menghadapi krisis serius di beberapa negara. Setelah booming saat pandemi, bisnis lapangan padel justru berguguran, terutama di Swedia dan Chile, dua pasar padel yang sebelumnya tumbuh paling cepat di dunia.

Bacaan Lainnya

Dari Euforia ke Krisis

Pada 2020 hingga 2021, padel benar-benar meledak di Swedia. Jumlah lapangan melonjak drastis dari sekitar 1.500 lapangan di awal 2020 menjadi lebih dari 3.500 hanya dalam setahun. Hingga 2024, total lapangan bahkan mencapai 4.200 dengan sekitar 700.000 pemain aktif. Popularitas padel begitu tinggi hingga sempat dijuluki sebagai “olahraga nasional baru” di Swedia.

Namun, ekspansi besar-besaran tanpa kendali memicu oversupply. Lapangan yang dulu penuh kini banyak kosong, terutama di luar jam sibuk. Tingkat penggunaan lapangan anjlok hingga di bawah 10% pada hari biasa. Biaya operasional yang tinggi—mulai dari sewa gedung hingga listrik—membuat banyak pengelola tidak sanggup bertahan.

Data 2023 mencatat lebih dari 90 perusahaan padel di Swedia bangkrut, sementara pada 2024 lebih dari 600 lapangan ditutup permanen. Klub besar seperti Time 4 Padel di Gothenburg yang memiliki 19 lapangan bahkan terpaksa menutup operasi pada akhir 2024.

Gelombang Kebangkrutan di Chile

Fenomena serupa juga terjadi di Chile. Setelah padel menjadi tren besar pasca-pandemi, sekitar 80–100 klub dilaporkan tutup pada 2024 akibat penurunan minat, inflasi, serta daya beli masyarakat yang melemah. Persaingan antar-klub makin ketat, sementara reservasi bulanan lapangan terus turun.

Penyebab Utama Kejatuhan Bisnis Padel

Ekspansi Tanpa Kontrol – terlalu banyak lapangan dibangun dalam waktu singkat.

Penurunan Minat Pasca-Pandemi – masyarakat kembali ke aktivitas olahraga lain.

Biaya Operasional Tinggi – sewa properti, listrik, dan perawatan lapangan membebani.

Persaingan Sengit – klub besar dan kecil berebut pasar yang stagnan.

Inflasi & Kondisi Ekonomi – khususnya di Chile, memengaruhi daya beli pemain.

Peringatan untuk Investor Indonesia

Meski padel mulai populer di Indonesia dengan sejumlah lapangan baru di Jakarta, Bali, Surabaya, hingga Samarinda fenomena di Swedia dan Chile menjadi peringatan penting. Investor Indonesia wajib waspada agar tidak terjebak euforia sesaat.

Pengembangan bisnis padel sebaiknya didasari studi pasar mendalam, pemetaan permintaan riil, serta strategi keberlanjutan jangka panjang. Tanpa itu, risiko kebangkrutan bisa mengintai, seperti yang sudah terjadi di negara-negara yang sempat menjadi kiblat padel dunia. (gis)

Bagikan:

Pos terkait