Borneo FC memang sebenarnya sudah kehabisan bensin setelah melewati 10 laga dengan sempurna. Di laga kesebelas kontra Madura United, mesin tempur Borneo sudah mulai ngadat, tapi masih beruntung mampu meraih kemenangan kesebalas secara beruntun. Dua laga terakhir berakhir dengan kekalahan, tangki bensin sudah kering kerontang. Tapi ini situasi yang normal, cepat atau lambat, Pesut Etam akan kembali menemukan bahan bakarnya.
Oleh: Ahmad A. Arifin (Dang Tebe) –Pengamat Borneo FC
Ada satu kepastian di dunia sepak bola, yaitu ketidakpastian. Sebuah tim bisa mencetak rekor kemenangan beruntun terpanjang, tapi tak mungkin bisa selalu menang.
Kalau ada kepastian, di mana tim yang komposisi skuadnya mewah bisa selalu menang, apa menariknya sepak bola? Justru karena tim elite bisa kalah dari tim medioker, rekor kemenangan dipatahkan oleh tim pesakitan, sepak bola menjadi olahraga paling digilai manusia di bumi.
Bensin Super Premium Borneo FC
Kembali ke awal musim Super League 2025/26, Borneo FC Samarinda bukanlah tim yang difavoritkan untuk bersaing di jalur juara. Hal ini karena materi pemain Pesut Etam tidak terlalu dalam. Mayoritas pemain pelapis adalah skuad muda yang belum memiliki pengalaman bertanding memadai.
Tapi tim ini bisa melewati 4 laga awal dengan kemenangan. Itu adalah rekor baru, belum pernah ada tim Indonesia di era sepak bola profesional yang meraih 4 kemenangan beruntun di awal musim. Kemudian mereka meraih kemenagan ke-10 secara beruntun. Lagi-lagi itu rekor, karena kemenangan terpanjang sebelumnya berjumlah 9 laga. Dan pada akhirnya, Borneo memantapkan rekor win streak di angka 11 laga. Sebuah catatan yang entah kapan akan dilampaui.
Dan saya masih ingat betul, 5 hari jelang laga perdana kontra Bhayangkara, Pelatih Fabio Lefundes bilang kalau dia baru punya 5 nama kandidat pemain utama. Sisanya masih harus ia tentukan di waktu yang tersisa.
Pertandingan buruk di laga pertama memvalidasi omongan Fabio. Tim belum punya chemistry, taktik belum berjalan sempurna.
Baru di pertandingan ketiga, para penggawa Pesut Etam nyetel. Permainan mereka jadi atraktif dan menakutkan semua lawan. Laga kandang maupun tandang disikat bersih dengan kemenangan.
Sebelas kemenangan beruntun, Indonesia harus mengingatnya. Rekor ini bukan diraih oleh tim dengan materi mewah seperti Persib, Dewa United, Bali United, dan Malut United. Tapi oleh Borneo FC Samarinda. Tim yang bahkan di laga perdananya, belum memiliki sponsor utama.
Capaian ini tentu bukan suatu kebetulan. Melainkan karena semua orang di tim bekerja lebih keras dari tim lain. Tekad, dedikasi, dan kerja keras itulah yang menjadi bensin bagi mesin tempur Borneo FC.
Borneo FC Kehabisan Bensin
Dalam dunia kreatif, seniman yang berada dalam keterbatasan akan lebih mudah melahirkan karya. Ernest Prakasa belum lama ini pernah bilang, ia berhenti sementara dari aktivitas stand up comedy karena hidupnya sedang sangat baik. Sehingga ia tak memiliki keresahan.
Pendekatan ini bisa kita pakai untuk melihat situasi Borneo musim ini. Tim yang secara matematika tidak punya kans menjadi juara, namun ketika manajemen, pelatih, dan pemain kompak ingin menerobos batas. Itulah keresahan mereka.
Keresahan yang melahirkan bahan bakar.
Dan … setelah 10 kemenangan beruntun, wajar jika motivasi mereka menurun. Sangat manusiawi. Mengingat meraih 10 kemenangan beruntun adalah hal yang sangat sulit didapat, apalagi oleh tim dengan materi sederhana. Datangnya rasa nyaman yang melemahkan mentalitas adalah keniscayaan. Cepat atau lambat pasti akan datang.
Di pertandingan ke-11 kontra Madura United di Stadion Segiri Samarinda. Rasanya saya bukan satu-satunya penonton yang menyadari kalau Borneo sudah kehabisan energi.
Permainan di laga itu sangat kacau. Tidak terorganisir dan buru-buru. Untungnya aksi Nadeo yang menahan sepakan penalti kapten Madura mampu menampar rekan-rekannya. Hingga bisa memaksa 1 gol jelang akhir laga. Kemenangan kesebelas bukan diraih dari permainan yang biasanya, lebih pada karena keberuntungan.
Pada laga berikutnya, keberuntungan itu tak hadir. Dengan permainan yang sama, di tempat yang sama, melawan tim dengan taktik yang sama. Pesut Etam akhirnya meraih kekalahan perdananya.
Sialnya, tak cukup waktu bagi mereka untuk melonggarkan paha, laga kontra Persib –yang memiliki skuad paling mewah, keburu tiba. Bahkan menurut saya, beberapa pemain lapis dua Persib layak menjadi pemain utama Borneo.
Hasilnya sudah kita ketahui, Borneo kalah dengan skor 3-1. Malam itu, untuk pertama kalinya Nadeo kebobolan lebih dari 1 gol dalam 1 pertandingan. Gongnya adalah, saking jarangnya memegang bola, mengancam, apalagi membuat gol. Komentator sampai harus lebih sering membicarakan Persib ketimbang Borneo.
Tak ada yang lebih buruk dari menghadapi tim sekuat Persib dengan tangki bensin yang habis.
Masih Ada Waktu untuk Isi Bensin
Dua kekalahan beruntun dalam waktu yang berdekatan harusnya memukul para pemain Borneo. Mengembalikan mereka ke bumi setelah 4 bulan berada di langit.
Memang saat ini mereka masih berada di puncak klasemen. Tapi 2 kekalahan beruntun setelah rentetan 11 kemenangan. Serta tim-tim favorit juara mulai menampilkan performa yang stabil. Seharusnya Mariano Peralta cs kembali mendapatkan tekad yang sama seperti di awal musim.
Fabio Lefundes adalah pelatih perhitungan dan analisa yang cermat. Namun dia bukan pesulap. Apalagi kondisinya sedang tidak terlalu berpihak. Desember ini, harusnya pemain Borneo memiliki libur 2 pekan. Untuk setidaknya memulihkan stamina dan semangat. Bagi yang beberapa pekan terakhir kurang fit akibat kelelahan dan cuaca tak bersahabat. Libur itu harusnya bisa membuat mereka sembuh total dan kembali ke lapangan dengan bentuk terbaiknya.
Tapi 2 laga tunda memaksa Borneo tak memiliki waktu libur. Mereka harus terus bekerja di waktu singkat yang memburu.
Jika memakai logika sederhana, tim ini bisa tampil luar biasa sepanjang 11 laga. Maka harusnya bisa melakukan hal yang sama setelah terkapar.
Ada baiknya jika bensin itu mereka dapatkan jelang melawan Persebaya. Atau seminimalnya saat laga kontra Malut United. Sebab jika lambat sedikit, Persija dan Persib sangat mungkin mengambil alih posisi pucuk.
Semangat, Sut!








