Kematian adalah peringatan dari Tuhan bagi yang masih hidup untuk memperbaiki diri. Banjir bandang Sumatera pun begitu, itu adalah peringatan bagi Kaltim yang kawasan hutannya terus ditebang secara ugal-ugalan tanpa perhitungan, pengawasan, dan peremajaan. Tapi itu, hanya jika para kepala daerah di Bumi Etam merasa.
Provinsi Kalimantan Timur kini masuk dalam kategori wilayah dengan risiko bencana ekologis tinggi. Sejumlah pakar lingkungan memperingatkan bahwa kondisi Kaltim saat ini semakin mirip dengan daerah-daerah di Sumatera yang baru saja diguncang banjir bandang pada akhir 2025.
Peringatan ini bukan tanpa dasar. Data terakhir menunjukkan bahwa Kaltim mencatat deforestasi hutan alam terluas se-Indonesia pada 2024, dengan kehilangan sekitar 57.060 hektare hutan dalam satu tahun. Angka itu bahkan hampir menyamai total kehilangan hutan di tiga provinsi di Sumatera yang terdampak banjir besar.
Ini baru data dari pembukaan lahan dengan izin alias legal. Kerusakan hutan dan lahan akibat tambang ilegal yang ada di mana-mana itu, belum termasuk.
Informasi ini disampaikan dalam laporan Forest Watch Indonesia (FWI) dan dipertegas oleh data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang dirilis melalui platform statistik publik. Deforestasi di Kaltim melonjak terutama akibat pembukaan tambang, perkebunan, dan alih fungsi lahan.
Ribuan Lubang Tambang Belum Direklamasi
Selain deforestasi, ancaman lain datang dari keberadaan lebih dari 1.700 lubang tambang yang belum direklamasi berdasarkan laporan pemerhati lingkungan dan otoritas daerah. Banyak dari lubang ini berada dekat permukiman dan aliran sungai, sehingga berpotensi menjadi titik awal luapan air saat hujan ekstrem.
Lubang tambang yang menganga tersebut berfungsi seperti “kolam penampung raksasa” yang tidak stabil. Dalam kondisi curah hujan tinggi, air mudah meluap dan membawa material tanah ke daerah yang lebih rendah. Pola ini serupa dengan kondisi sebelum terjadinya banjir bandang di Sumatera pada awal Desember 2025.
Banjir Kian Sering, Alam Kaltim Kehilangan Benteng Alami
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mencatat hampir 1.000 kejadian banjir dalam kurun enam tahun terakhir. Angka ini mengonfirmasi bahwa kawasan hulu dan tengah Kaltim sudah memasuki fase rentan terhadap luapan air.
Para pakar menilai hilangnya hutan membuat daya serap tanah melemah drastis. Padahal hutan berperan menahan laju air, menjaga kestabilan tanah, dan mencegah sungai menerima debit air dalam jumlah besar secara tiba-tiba.
Jika hujan ekstrem terjadi di kawasan hulu yang sudah terdeforestasi, air akan turun jauh lebih cepat menuju permukiman. Dalam kondisi tertentu, pola itu bisa berubah menjadi banjir bandang.
Pelajaran dari Sumatera
Di Sumatera, banjir bandang yang menewaskan lebih dari seratus orang pada akhir 2025 dipicu oleh kombinasi deforestasi, aktivitas tambang, dan hujan ekstrem. Laporan investigatif Reuters menyebut kerusakan ekologis menjadi faktor yang memperparah bencana tersebut.
Kondisi Kaltim saat ini dianggap memiliki sejumlah kesamaan: deforestasi tinggi, banyak lubang tambang yang belum dipulihkan, serta penataan daerah aliran sungai (DAS) yang belum optimal.
Apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah di Kaltim untuk memitigasi banjir bandang sebelum hujan ekstrem berikutnya datang? Mempercepat reklamasi lubang tambang, memulihkan kawasan hulu dan DAS kritis, memperbaiki sistem drainase di daerah padat penduduk, serta memperketat pengawasan izin tambang dan perkebunan.
Tanpa intervensi serius, Kaltim dikhawatirkan bisa mengalami bencana serupa dengan Sumatera — bahkan berpotensi lebih besar mengingat skala kerusakan lingkungannya. (has)








