Borneo FC Tak Bisa Berjuang Sendirian Harumkan Nama Kaltim di Kancah Sepak Bola

Jajaran direksi Borneo FC bertemu Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud beberapa waktu lalu, untuk membicarakan sejumlah hal. Termasuk soal dukungan yang diperlukan tim. (IST)

Jika Borneo FC adalah manusia, ia tumbuh dengan baik hingga usia kesebelas. Kakinya kuat, tubuhnya tegap, tampangnya rupawan. Tapi ada hal yang tak banyak disadari. Pundaknya penuh sayat. Akibat menanggung beban terlalu berat. Ia butuh dukungan –yang lebih dari sekadar sorak.

SAMARINDA- Sejak Liga 1 bergulir pada musim 2016/17, banyak hal telah berubah. Tim-tim legendaris bertumbangan—turun kasta hingga bubar. Klub baru bermunculan, sebagian konsisten, sebagian lagi hilang tanpa kabar.

Di Kaltim saja misalnya, di era Liga Super, provinsi ini memiliki 4 tim yang bermain di kasta tertinggi. Persisam, Persiba, Mitra Kukar, dan Bontang PKT (selanjutnya jadi Bontang FC). Itu saat klub sepak bola masih dijalankan dengan uang negara.

Bacaan Lainnya

Memasuki era profesional, tak satupun dari 4 klub itu yang bertahan. Persisam yang lebih dulu tumbang. Langkah akhirnya melakukan merger alias dijual ke Bali United. Mitra Kukar yang pernah miliki Los Galacticos turun kasta, lalu entah ke mana. Bontang PKT lebih menyedihkan. Sementara Persiba, terdegradasi di tahun yang sama dengan selesainya Stadion Batakan. Sempat anjlok ke Liga 3, kini mulai menata asa kembali ke kasta tertinggi.

Dari provinsi tetangga, Kalteng Putra sempat menghebohkan jagat sepak bola Tanah Air. Tapi, hanya sepintas. Barito Putera punya basis anggaran yang memadai, tapi entah kenapa sulit berkembang, sampai akhirnya terdegradasi musim lalu.

Tinggal lah Borneo FC Samarinda. Tim yang memulai dari kasta kedua, melalui proses merger dengan Perseba Bangkalan, yang kini masih bertahan di kasta tertinggi.

Borneo FC awalnya adalah perwakilan Samarinda. Lalu dengan sendirinya menjadi wakil Kaltim, karena saudara-saudara tuanya bertumbangan. Kini, berdiri sebagai entitas sepak bola Kalimantan.

Sepak bola profesional sungguh terlalu berat.

Borneo FC Bertumbuh

Borneo FC Samarinda adalah anomali. Klub ini dimiliki oleh pengusaha tambang batubara. Sultan Kaltim. Tapi sedari awal, Pesut Etam tidak dibangun asal-asalan. Pengurus klubnya adalah orang-orang baru. Bukan ‘pemain lama’ dari era Liga Super. Komposisi pemainnya tidak pernah bertabur bintang.

Bukan tanpa alasan setiap musimnya banyak pemain muda di tim utama Borneo FC. Juga tidak banyak pemain lokal label timnas, serta pemain asing yang Liga 1 proven –selalu merekrut pemain asing debutan. Semua itu dilakukan dengan pertimbangan finansial.

Kalau mau, sejak 2016 lalu, Borneo FC bisa saja membentuk Los Galacticos. Uang tambang, Coy. Tapi kalau itu dilakukan, belum tentu mereka bisa bertahan sampai sekarang. Bahkan lebih dari bertahan, karena sejak era Covid-19, Borneo telah bertransformasi menjadi tim langganan papan atas.

Borneo FC tidak menjadi tim elite dengan mengandalkan uang. Tapi lebih ke … konsistensi mereka menerapkan filosofi Manyala, walau harus mengorbankan banyak pelatih (kapan-kapan dijabarkan deh, panjang soalnya).

Cara berpikir direksi klub memang pantas dipuji. Dengan jumlah uang yang sama, kebanyakan tim lain lebih senang menggunakannya untuk merekrut pemain bintang. Namun Pesut Etam, justru tetap berjalan dengan ‘skuad murah’ sembari membangun fasilitas training center, training ground, pusat kebugaran, akademi, dan lainnya.

Borneo FC Samarinda fokus pada keberlanjutan, bukan mencari prestasi instan. Itu lah kenapa mereka terus berkembang. Maka kalau Borneo FC adalah manusia, ia tumbuh dengan baik hingga usia kesebelas. Kakinya kuat, tubuhnya tegap, tampangnya rupawan.

Butuh Dukungan

Konsep keberlanjutan itu tidak bisa berakhir di perencanaan, tapi harus dieksekusi dengan serius dan konsisten.

Benar bahwa Borneo FC terus bertumbuh sebagai tim profesional. Tapi segala sesuatu ada masanya. Pada akhirnya, tim ini butuh dukungan. Mereka tak bisa berjalan sendirian untuk mengharumkan sepak bola Kalimantan Timur.

Kita memang tak pernah mendengar Borneo FC menunggak gaji, yang artinya, finansial aman. Tapi pernahkah kita bertanya, “Borneo FC itu untung gak sih?”

Belum ada laporan valid tentang itu, karena memang pembahasan uang masih tabu di sepak bola nasional. Tapi bisa diasumsikan bahwa tim ini sebenarnya berdarah-berdarah di aspek keuangan.

Secara logika saja, penduduk Kaltim ini sedikit sekali. Sebelas kali lebih sedikit ketimbang penduduk Jawa Timur. Maka dalam kacamata bisnis, hampir mustahil sebuah tim sepak bola profesional mendapat cuan di provinsi ini.

Jika Nabil Husien ingin uang dari sepak bola, mending dia berinvestasi pada klub Pulau Jawa. Secara matematika jelas. Penduduk banyak=konsumen banyak.

Tapi kan tidak begitu, Borneo FC dilahirkan sebagai entitas sepak bola Kalimantan Timur. Menjadi simbol kebanggaan masyarakat Kaltim di kancah sepak bola. Atau minimal, bisa menjadi tempat impian bagi bakat sepak bola muda Benua Etam. Tanpa Borneo FC saat ini, sepak bola Kaltim sudah mati. Benar-benar mati.

Dukungan Nyata, Bukan Sekadar Sorak Sorai

Apa yang dibutuhkan Borneo FC untuk terus bertahan dan berkembang? Pertama, ekosistem sepak bola. Ini sudah mulai dirintis. Basis suporter terus bertumbuh. Walau pelan, tapi sudah menjangkau hampir seluruh kabupaten/kota di Kaltim.

Suporter bisa memberi dukungan nyatanya lewat kehadiran di stadion, mendaftar membership klub, membeli marchendise resmi. Mana saja yang bisa dilakukan, lakukan.

Kedua, tempat. Pada musim 2023/24, Borneo FC menjadi fenomenal. Memuncaki klasemen selama 21 pekan, tapi berakhir di posisi ketiga. Sebabnya karena badai cedera dan setengah musim akhir menjadi tim musafir.

Musim lalu, hanya 1/3 laga Liga 1 dimainkan di Stadion Segiri. Selebihnya di Batakan. Walau dekat, tetap saja hitungannya sebagai musafir. Bisa memakai Segiri itu pun, berkat penetrasi. Kalau direksi klub tidak berinisiasi, bisa jadi hanay 2 atau 3 laga saja yang dimainkan di kandang sendiri.

Nah, musim ini tak kalah kompleks. Walau pada Juli nanti, Stadion Segiri secara resmi diserahkan ke pemprov dan pemkot oleh Kementerian PUPR, ada masalah besar yang mengintai. Lampu stadion tidak memenuhi syarat.

Persyaratannya memang berubah. Klub tidak mau protes, karena perubahan ini normal saja. Tapi mereka kelimpungan, karena tak ada tanda-tanda lampu stadion diganti, dari 900 lumen ke 1.500 lumen. Kalau tak diganti sampai Agustus, maka Borneo FC hanya bisa memakai Segiri saat main sore saja. Sementara pertandingan malam, harus meminjam stadion lain yang memenuhi syarat. Opsi terbaiknya ya Batakan.

Perkara tempat ini memang rumit. Karena Stadion Segiri, tanahnya milik Pemprov Kaltim, bangunannya milik Pemkot Samarinda. Ya kita tahu lah, proses birokrasi perawatan stadion itu rumit. Itu kenapa mengganti lampu bukan masalah gampang. Kecuali, pemprov dan pemkot mempercayakan Borneo FC sebagai pihak ketiga dalam pengelolaan aset stadion.

Ketiga, sponsorship. Jujur saja, jersey Borneo FC masih terlalu polos untuk ukuran klub profesional Indonesia. Mereka butuh sokongan dana besar untuk menjalankan tim yang operasionalnya super besar. Dukungan dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kaltim. Baik BUMN, BUMD, maupun swasta sangat diperlukan.

Idealnya ini bukan hal yang sulit, kalau pemerintah, pemilik usaha, ataupun stakeholder lain. Memiliki pandangan yang sama pada cita-cita Borneo FC sebagai identitas sepak bola Kaltim di kancah nasional dan internasional.

Borneo FC Samarinda adalah tim elite meski keuangan sulit. Harusnya cukup itu saja anomalinya. Jangan ditambah dengan tim dari provinsi kaya tapi keuangan sulit. (has)

Bagikan:

Pos terkait