Dampak Godzilla El Nino, BPBD Kukar Waspadai Potensi Karhutla dan Kekeringan di 4 Kecamatan, Termasuk Muara Kaman dan Muara Badak

BPBD Kukar mewaspadai potensi karhutla di sejumlah kecamatan. (IST)

TENGGARONG – Peringatan dini cuaca panas ekstrem selama tiga hari berturut-turut di Kutai Kartanegara (Kukar) memicu respons cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Menindaklanjuti arahan Bupati, BPBD Kukar kini memperketat pengawasan di seluruh kecamatan guna mengantisipasi ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta kekeringan ekstrem.

Kondisi ini diperparah dengan prediksi BMKG mengenai fenomena “Godzilla El Nino” yang diperkirakan akan menciptakan musim kemarau yang jauh lebih panjang dan menyengat mulai April 2026.

Bacaan Lainnya

Koordinator Lapangan (Korlab) BPBD Kukar, Eko Suryawinata, mengungkapkan bahwa instruksi kesiapsiagaan telah diteruskan hingga ke tingkat desa. Pihaknya terus memantau laporan dari wilayah yang sudah berhari-hari tidak diguyur hujan.

“Kami sudah mengimbau di kecamatan hingga desa. Ada laporan beberapa hari ini belum ada hujan, seperti di Kecamatan Muara Badak. Fokus kami adalah kesiapan relawan-relawan terkait Karhutla dan dampak kekeringan,” ujar Eko, Jumat (27/3/2026).

4 Kecamatan Terancam Karhutla dan Kekeringan

Berdasarkan catatan historis beberapa tahun terakhir, BPBD memetakan sejumlah wilayah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap kebakaran lahan. Wilayah pesisir dan area lahan gambut menjadi prioritas pengawasan.

Adapun titik-titik rawan tersebut meliputi Kecamatan Muara Kaman, Kecamatan Muara Badak, Kecamatan Marangkayu, Kawasan Tenggarong (termasuk area sekitar perkantoran)

Meski hingga saat ini belum ada laporan kebakaran lahan yang signifikan, Eko meminta warga untuk terus berbagi informasi terkini jika menemukan titik panas (hotspot).

Menanggapi keluhan petani yang membutuhkan bantuan air akibat cuaca terik, BPBD menegaskan kesiapannya untuk terjun ke lapangan. Eko mencontohkan pengalaman penanganan di Pulau Pinang, Kecamatan Kembang Janggut, di mana BPBD melakukan penyemprotan intensif pada lahan yang memiliki kandungan batu bara di bawahnya agar api tidak terus berasap.

“Kami siap melakukan penyemprotan jika ada aduan warga atau petani. Jika memang mendesak, relawan dan tim akan dikerahkan untuk membantu masyarakat,” tegasnya.

BMKG memprediksi awal musim kemarau 2026 akan dipicu oleh kombinasi suhu laut Pasifik yang panas dan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif. Kondisi ini diprediksi menciptakan musim kemarau yang sangat kering, mirip dengan pola El Nino tahun-tahun sebelumnya yang ekstrem.

Laporan: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com

Bagikan:

Pos terkait