Disdikbud Kukar Tak Larang Perpisahan, Asal Tak Memberatkan Orang Tua

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Thauhid Afrillian Noor (DILLA)
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Thauhid Afrillian Noor (DILLA)

Tenggarong – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Thauhid Afrillian Noor, menegaskan jika pihaknya tidak melarang pelaksanaan kegiatan perpisahan sekolah, namun menekankan agar kegiatan tersebut tidak membebani orang tua murid secara finansial dan tidak bersifat wajib tanpa sewa tempat mahal, studi tour, atau iuran tinggi.

“Sudah dua tahun lalu kami sampaikan perpisahan bukan berarti tidak boleh, tetapi harus memenuhi dua prinsip: tidak memberatkan dan tidak diwajibkan,” ungkapnya.

Beliau menyoroti praktik iuran yang tinggi dan keharusan ikut perpisahan yang dinilai membebani sebagian siswa dan keluarganya.

“Kalau murid-murid itu memang tidak bisa ikut perpisahan, jangan diwajibkan. Ini kan ada sekolah, beri saja ijazahnya. Jangan dipaksa, apalagi ada iuran sampai Rp.500.000 hanya untuk tari-menari dan sewa tempat,” lanjutnya.

Beliau lebih mengusulkan agar penampilan seni dari siswa tidak harus dikaitkan dengan acara perpisahan. Ia menyarankan agar sekolah mengadakan pentas seni secara rutin dalam kegiatan ekstrakurikuler.

“Kalau perlu tiga bulan sekali adakan olah seni. Lakukan dari awal tahun. Kenapa mesti tunggu perpisahan baru repot tampilkan anak-anak? Ini kan bisa dibina dari awal,” tambahnya.

Ia mengingatkan bahwa jika pihak sekolah tetap memaksakan kegiatan yang membebani orang tua, ia tak segan mengambil tindakan.

“Kalau saya tahu langsung saya tegur. Silakan pilih edaran saya atau pilih komite sekolah. Kalau tidak mau, saya ganti,” tegasnya.

Thauhid menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa perpisahan sekolah sebaiknya dilakukan dengan sederhana dan penuh kebersamaan.

“Bawa makanan, duduk bersama guru, cukup seperti itu. Tidak perlu mewah, yang penting bermakna,” pungkasnya.

Nur Fadillah Indah/mediaetam.com

Bagikan:

Pos terkait