TENGGARONG – Akses jalan poros Tenggarong–Kota Bangun, tepatnya di Kilometer 40, Desa Sanggulan, lumpuh total akibat genangan air yang meluap ke badan jalan pada Senin (2/2/2026). Peristiwa yang memicu antrean panjang kendaraan ini diduga dipicu oleh intensitas hujan tinggi serta perubahan kondisi lahan di wilayah hulu.
Kepala Desa Sanggulan, Fahruddin, menyatakan bahwa luapan air kali ini merupakan salah satu yang paling signifikan. Ia menduga banjir tersebut berkaitan dengan aktivitas pemanenan tanaman industri di area hulu yang kebetulan bertepatan dengan musim penghujan.
“Kondisinya memang arus cukup deras dari sungai yang meluap. Dugaan kami karena adanya aktivitas panen kayu di area hulu, sehingga saat hujan turun sejak pukul 02.00 dini hari, resapan air tidak maksimal dan meluap ke jalan,” ujar Fahruddin saat memberikan keterangan, Senin (2/2/2026).
Fahruddin juga menjelaskan letak geografis Desa Sanggulan yang cukup unik, di mana dari total luas wilayah 4.910 hektare, sekitar 4.083 hektare atau hampir 90% merupakan kawasan konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI).
Berharap Ada Sistem Mitigasi
Oleh karena itu, ia berharap adanya komunikasi dan sinergi yang lebih erat antara pihak perusahaan dengan pemerintah desa terkait dampak lingkungan.
“Kami berharap ada kontribusi dan perhatian lebih bagi masyarakat desa, apalagi sebagian besar wilayah desa kami masuk dalam peta kawasan tersebut. Jadi ketika ada dampak seperti ini, bisa ditanggulangi bersama,” tambahnya.
Untuk menghindari kemacetan panjang di KM 40, pihak desa menyarankan jalur alternatif bagi kendaraan yang memungkinkan melewati medan pengerasan:
* Rute: Selerong menuju Rapak Lambur menuju Sanggulan menuju Senoni.
* Catatan: Jalur ini merupakan jalan batu/pengerasan. Pengendara diminta waspada dan hanya melintas jika memahami medan.
Hingga Senin siang, sejumlah personel TNI, BPBD Provinsi, dan warga setempat masih bersiaga di lokasi untuk membantu mengatur arus lalu lintas serta mengamankan kendaraan yang terjebak. Air dilaporkan mulai berangsur surut seiring berhentinya hujan.
Sementara itu, redaksi telah berupaya menghubungi pihak manajemen perusahaan terkait untuk mengonfirmasi mengenai dugaan pemicu banjir dan rencana mitigasi ke depan, namun hingga berita ini diterbitkan belum ada jawaban resmi.
Laporan: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com








