Pengerjaan Bronjong dan Jembatan di Gunung Tabur Terkendala, Tak Berjalan Sesuai Rencana

Salah satu titik pembangunan bronjong di wilayah RT 16, Kelurahan Gunung Tabur, Kecamatan Gunung Tabur. Foto diambil saat gelap hampir turun. [Elton / Mediaetam.com]
Salah satu titik pembangunan bronjong di wilayah RT 16, Kelurahan Gunung Tabur, Kecamatan Gunung Tabur. Foto diambil saat gelap hampir turun. [Elton / Mediaetam.com]

Mediaetam.com, Berau – Pengerjaan proyek bronjong dan jembatan sebagai bangunan konservasi tanah dan air, kawasan daerah aliran sungai (DAS) anak Sungai Kalibasau, yang terletak di wilayah RT 16, Kelurahan Gunung Tabur, Kecamatan Gunung Tabur, tak berjalan sesuai rencana.

Sesuai pantauan media ini, Selasa (17/01/2023) sore, tidak banyak aktivitas yang terjadi di lokasi kegiatan. Dua eskavator besar, satu eskavator kecil, dan satu bulldozer terlihat parkir begitu saja dan tidak beroperasi.

Beberapa pekerja hanya mengerjakan pekerjaan ringan seperti membuat kerangka kayu untuk keperluan pembangunan. Beberapa pekerja lain bahkan tidak bekerja dan hanya istirahat di mess penginapan. Situasi secara umum tampak sepi walaupun jam kerja belum usai.

Proyek bronjong dan jembatan itu mulai dikerjakan pada 31 September 2022 dan ditargetkan selesai pada 31 Desember 2022. Namun sudah memasuki pertengahan Januari 2023 ini, proyek yang ditangani CV Tanjung Prima Perkasa dengan No. Kontrak 02/PPK-PSDA/Pekta Kawasan DAS Anak Sungai Kalibasau/DPUPR/SDA/IX/2022, dan menelan APBD kabupaten senilai Rp 9,6 miliar lebih itu masih mengalami beberapa kendala.

“Kendalanya banyak pak. Air pasang, batu kurang. Kalau hujan, batu tidak bisa masuk. Kalau pasang tidak bisa kerja,” ungkap salah satu pekerja.

Pekerjaan pun kadang berjalan tidak tentu. Sehari jika dalam jeda waktu 5 jam air sungai mengalami pasang, maka proyek tidak berjalan efektif. Apalagi saat pasang tinggi dan airnya meluber sampai melewati puncak bronjong dan menggenangi tempat memasak pekerja.

Untuk mengatasi masalah air pasang yang terjadi secara alamiah itu, beberapa solusi teknis belum banyak membantu.

“Kalau air pasang mungkin hanya Tuhan yang bisa atasi. Kita memang punya mesin pengering air. Tapi itu tidak banyak membantu kalau pasang tinggi dan air cukup dalam. Cukup susah mengeringkan air,” timpal pekerja lain.

Selain kendala air pasang, kekurangan batu yang didatangkan dari luar Berau beserta banyaknya proyek dalam kategori yang sama, juga menyebabkan pengerjaan berjalan tidak lancar. Alat berat pun terpaksa beroperasi jika material tersedia.

“Baru hari ini batu itu masuk lagi. Satu dua hari sebelumnya tidak bisa kerja karena batu tidak ada,” sambung pekerja lain.

Terkait kendala teknis dan proyek tak berjalan sesuai rencana itu, pekerja mengatakan bahwa pihak kontraktor yang menangani pembangunan bronjong dan jembatan terkena denda.

“Sebenarnya selesai sampai Desember kemarin. Tapi karena masalah air pasang dan batu itu, tidak tahu kena denda berapa kontraktornya. Besar kayaknya dendanya,” imbuh mereka.

Meski tidak berjalan sesuai rencana sebelumnya, dari pembicaraan dengan para pekerja, proyek itu akan tetap berjalan dan kontraknya diperpanjang lagi. (*/Elton Wada)

Editor: Elton Wada

Bagikan:

Pos terkait