Di seberang dermaga tepi sungai Mahakam, museum ini berdiri. Kondangnya museum ini sudah ke seluruh Kaltim. Museum ini, punya kisah sejarah yang lekat dengan masyarakat Kutai juga Kalimantan Timur. Di sini, masyarakat banyak mengenal kisah lampau tanah Kutai.
Thoriq – Kutai Kartanegara
“Museum Mulawarman” tertulis di depan bangunan. Nama Mulawarman diambil dari nama raja yang terdapat dari Prasasti Yupa yang ditemukan di Muara Kaman. Patung Lembuswana yang jadi maskot pun berdiri dan menarik perhatian yang lewat.
Gedung Museum Mulawarman masih bagian dari wilayah keraton Kesultanan Kutai Ing Martadipura. Di sebelah kirinya, ada situs bersejarah yang saat ini menjadi cagar budaya, yaitu Pemakaman para keluarga Kesultanan. Dan di belakang area ada keraton dan masjid bersejarah yaitu Masjid Jami’ Aji Amir Hasanuddin, sebuah Masjid lawas yang dibangun pada masa Sultan Sulaiman Sultan ke-17, dengan bangunan yang memiliki 16 tiangnya dari kayu ulin yang besar, dan bentuk bangunannya khas seperti rumah tradisional Kalimantan Timur.
Dalam proses perjalanannya sampai pada masa sekarang, Museum Mulawarman sendiri memiliki sejarahnya. Secara historisnya, berdirinya Museum Mulawarman tidak lepas dari sejarah kesultanan Kutai.
Zul Arfi, Kepala UPT Museum Mulawarman memamaparkan, semenjak kesultanan bergabung ke NKRI secara resminya pada tahun 59-60an, itu Sultan terakhir diangkat menjadi bupati. Pada saat itu, karena bergabungnya kesultanan, jadi kekuasaan kesultanan secara politik sudah dilimpahkan ke negara tersebut.
“Oleh sultan yang terakhir yang menjabat sebagai bupati, pak Sultan Aji Muhammad Parikesit, keraton ini pada saat itu dijadikan museum PUSKORA (Pusat Kesenian dan Olahraga) itu salah satu dinas dari Kabupaten Kutai yang awal pada masa dahulu 1960an. 1970, berdiri PUSKORA, berdirinya PUSKORA 1976 itu (museum) diserahkan ke pemerintah provinsi, sejak itu museum PUSKORA itu beralih fungsi menjadi Museum Negeri Provinsi Kalimantan Timur, 1976,” papar dia.
Oleh pemerintah provinsi pada saat itu, pengelolaan museum provinsi itu diserahkan kepada Pemerintah republik Indonesia menjadi Museum Negeri Provinsi Kalimantan Timur. Juga merupakan salah satu UPT dari Kementerian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di bawah Direktorat Permuseuman. Jadi sejak tahun 1976 berubahlah Museum Mulawarman menjadi Unit Pelaksana Teknis dari kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang merupakan salah satu unit teknis yang ada di Kalimantan Timur dan diberilah nama “Museum Negeri Provinsi Kalimantan Timur”.
Sambung Zul, Setelah otonomi daerah, di dalam salah satu UU otonomi daerah itu dikatakan bahwa pengelolaan kebudayaan itu dilimpahkan kepada daerah, dalam hal ini provinsi.
Dan saat peralihan, kebudayaan pariwisata bergabung, museum di bawah kementerian kebudayaan dan pariwisata. Karena kita di bidang kebudayaan, museum menjadi tempelan di mana kebudayaan itu berada. Dan terakhir, ketika kebudayaan kembali lagi bersama pendidikan, Museum kemudian kembali di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur.
Pemberian nama pada museum merupakan sebuah penghargaan kepada raja Mulawarman salah satu raja yang membawa kerajaan kutai menjadi kerajaan termashyur di Kalimantan Timur.
“Pemberian nama Museum Mulawarman itu di tahun 1976 diambil dari salah satu raja kerajaan termahsyur di Kalimantan Timur,” jelasnya.
Koleksi
Museum Mulawarman memiliki kurang lebih 3500 koleksi. Sebagian besarnya dari peninggalan kesultanan. Koleksi koleksi yang ada di museum mulawarman yaitu atribut penobatan Sultan Kutai, senjata tradisional, arca, koleksi keramik (guci, piring, mangkok), Mebel seperti kursi menteri sultan, singgasana, meja rapat kesultanan, ranjang, dan kursi santai sultan.
Juga proyeksi perlengkapan dan bahan tradisi seperti tradisi timbang buah, wayang beserta alat musiknya, data-data nama raja baik dari kesultanan kutai maupun bukan kesultanan kutai yang memiliki hubungan dengan kesultanan kutai, foto-foto lawas Sultan, Prasasti, Koleksi jenis bebatuan yang ada di Kaltim dan batu-batu yang digunakan untuk senjata seperti kapak, Alat perlengkapan Penginangan (untuk nyirih). Termasuk koleksi manik dan bead, koleksi mata uang terdahulu dan stempel serta emblem, koleksi topeng, minirama cerita putri karang melenu, turunnya raja Aji Batara Agung Dewa Sakti, miniatur flora & fauna endemik Kaltim, kehidupan sehari-hari di Kaltim, Alat dan teknologi tradisional masyarakat kutai.


Eksistensi Museum Mulawarman Setelah Masa Pandemi
Mulai dari pertengahan tahun 2019-2021 pandemi merajalela menjangkiti seluruh dunia termasuk Indonesia, dampak dari mewabahnya pandemi juga turut dirasakan oleh masyarakat Kutai Kartanegara. Museum Mulawarman pun kena getahnya. Museum mengalami fase labil buka-tutup di masa pandemi. Bahkan yang lebih parah, tutup dalam waktu panjang di kala itu. Namun berbagai upaya dilakukan, sampai di mana Museum Mulawarman kembali aktif seperti biasanya. Pengunjung-pengunjung mulai kembali berdatangan.
Zul Arfi mengatakan bahwa sekarang pengunjung museum mengalami peningkatan, “Kalau untuk tahun sebenarnya meningkat, karena 2019-2021 itu pandemi kita tersedak. Hampir dua tahun kita enggak buka, tahun ini cukup mengalami peningkatan. Target yang ditentukan, untuk bulan ini kita melampaui target,” terangnya.

Mengenalkan Asyiknya Ke Museum
Beragam usaha telah dilaksanakan dan dioptimalkan. Strategi demi strategi dilakukan, dari pihak UPT untuk menjaga eksistensi museum mulawarman yaitu dengan melakukan dua program kerja. Pertama, mengadakan pameran dan berkunjung atau mengundang sekolah-sekolah yang ada di Kaltim untuk datang ke Museum Mulawarman.
Pada tahun 2023, pihak UPT Museum Mulawarman telah melakukan 4 pameran di daerah-daerah yang ada di Kukar. Bekerja sama dengan pemerintahan setempat. Sementara itu, di akhir bulan oktober tahun 2023 akan diadakan 1 pameran lagi untuk mengakhiri tahun 2023.
Sebagai inovasi baru dari UPT di Tahun 2024 mendatang, rencananya pihak UPT akan membuat videotron yang mana tujuannya untuk mendukung pemandu menjelaskan kepada para pengunjung agar koleksi-koleksi yang ada dan cerita seperti minirama lebih gampang dipahami oleh pengunjung. Proyek videotron ini sudah setengah dilakukan dan harapannya akan selesai di awal tahun 2024.
Pihak UPT Museum juga berencana, untuk membuat museum memorial kesultanan di gedung bekas keraton. Hal ini masih dalam bentuk perencanaan. maksud dari UPT gedung itu nantinya akan ditata seperti gedung zaman sultan contohnya, ruang kerjanya sultan, perlengkapan meja sultan, dapur sultan, ruang pertemuan sultan, dan lain sebagainya.
Semakin maju tahunnya, semakin kehidupan sehari-hari terikat dengan teknologi, Kehidupan ini serba praktis serba digital. Begitu pula museum mulawarman, pembayaran tiket berkembang, pengunjung bisa melakukan pembayaran melalui Qris. Usaha menarik pengunjung pun menjadi tidak begitu sulit lagi. Apabila pengunjung mau membuat konten video yang berkaitan dengan sejarah dan museum sangat diperbolehkan oleh pihak UPT. Maka dari itu eksistensi museum sepertinya tidak akan tiada. Sebab inovasi akan terus ada mengaliri Museum Mulawarman. (Mediaetam.com)








